Pelajar SMPN 10 Langsa, Desa Alur Pinang Sangat Terganggu Karena Bau Busuk

oleh -94 views
Pelajar SMPN 10 Langsa, di seneubok antara, kecamatan langsa timur, mereka tergangu penciuman karena bau busuk. Sabtu (3/10) Rusdi Hanafiah

Langsa-Aceh, Suara Indonesia-News.com, Puluhan pelajar lakukan aksi dan tutup hidung dengan Peci ketika belajar di ruang kelas IX Abu Bakar Sidik, dan beberapa kelas lainnya di SMPN 10 Langsa. Desa Alur Pinang, kemukiman seuneubok antara, kecamatan langsa timur.

Saat belajar kehilangan fokus dan konsentrasi belajar karena aroma bau kotoran hewan peternakan yang bercampur asap bakaran peternakan di luar komplek sekolah pada Sabtu (3/10).

Amatan Wartawan di lokasi kelas belajar membenarkan adanya aroma kotoran hewan unggas yang bercampur asap memasuki ruang kelas belajar (RKB) khusus kelas Pria yang berjumlah puluhan siswa yang terbagi di dalam beberapa kelas IX.

Masih pengamatan wartawan menjelaskan bahwa tampak sebagian besar siswa iti menutup hidungnya dengan peci karena bauk kotoran unggas di saat musim hujan, namun ketika musim panas tiba bauk kotoran mulai berkurang kadar baunya namun tetap masih tercium dan muncul lalat berwarna hijau dan coklat hinggap di tong sampah kelas bahkan kantin sekolah juga di serang lalat.

“Pak…?! bauk kelasnya kita keluar saja dan lempar ayam potong itu dengan tanah liat biar pindah Bapak-bapak di kandang ayam itu berhenti pelihara ayam..!!,kata salah satu dari sebagian murid yang hanya mampu protes di dalam kelas saja, dan jawaban dari guru yang mengajar pelajaran saat itu melarang siswanya untuk berbuat tindakan main hakim sendiri.

Wali murid yang tak mau namanya disebutkan saat mengantar buku yang tertinggal di rumah buat anaknya di kelas itu mengungkapkan, dari masa kepala sekolah SMPN 10 yang lama yakni Tarmizi Putra, S.Pd bersama pengurus komite sekolah juga tak berhasil melakukan negosiasi pada pihak pemilik tanah peternakan disana, ucapnya.

“Kepala sekolah Tarmizi hanya pasrah saja, yang kalau musim hujan harus memilih diam dan melihat murid tutup mulut serta hidung dengan peci tiap 3 bulan dalam setahunnya itu telah terjadi sejak tahun 2014” demikian unggap wali murid yang bergegas pulang sampil tutup hidung dengan jarinya.

Dalam ucapan terakhir sang Wali murid itu menyebutkan pula “Kalau bau taik ayam dan ada asap masuk ke kelas apakah mungkin setiap musim hujan dan lembab ini anak muridnya di liburkan saja, dari pada belajar juga tak masuk otak ? sebentar – sebentar gurunya tutup hidup pakai buku dan murid tutup hidung pakai peci ?,” ungkap Wali murid meninggalkan ruang belajar yang bau itu.

Amanat wartawan meminta kepada Pemerintah melalui instansi terkait untuk memberikan arahan kepada peternak unggas untuk turun ke lapangan melihat kebersihan kandang dan arahan tentang polusi udara yang mengganggu pelajar saat sekolah di musim hujan.

Juga di harapkan kepada wakil rakyat yang berada di DPR Kota Langsa memberikan arahan petunjuk terkait anak anak rakyat yang menimba ilmu dalam kondisi yang tidak menyenangkan saat belajar berlangsung.(Rusdi Hanafiah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *