RegionalSosial Budaya

Peduli Dampak Perusakan Lingkungan, Pemuda Kangean Gelar Nobar dan Diskusi Bersama

Avatar of admin
×

Peduli Dampak Perusakan Lingkungan, Pemuda Kangean Gelar Nobar dan Diskusi Bersama

Sebarkan artikel ini
IMG 20190617 143523
Solidaritas Pemuda Kangean bersama Komunitas Pencinta Buku Kangean Saat Nonton Bareng Film Sexy Killer dan Diskusi bersama mahasiswa dan siswa Kangean, di Aula SMK Al-Hidayah Arjasa. Sabtu (15/6).

SUMENEP, Senin (17/6/2019) suaraindonesia-news.com – Solidaritas Pemuda Kangean bersama Komunitas Pencinta Buku Kangean melakukan Nonton Bareng Film Sexy Killer dan Diskusi bersama mahasiswa dan siswa Kangean, yang dilaksanakan di Aula SMK Al-Hidayah Arjasa. Sabtu (15/6).

Acara yang mengangkat tema “Pengaruh Tambang Terhadap Kerusakan Lingkungan Kangean” itu dihadiri oleh 83 peserta, terdiri dari organisasi mahasiswa Kangean dan siswa menengah atas di Kangean.

Sahura, sebagai pemantik diskusi menyinggung beberapa tambang yang merusak lingkungan Kangean. Tidak dapat dipungkiri bahwa tambang tersebut merupakan kebutuhan masyarakat kepulauan sendiri.

“Sebut saja tambang pasir yang dikeruk oleh warga Kangean sendiri untuk dijual guna mendirikan bangunan. Dimanfaatkan untuk kebutuhan utama boleh saja, yang tidak dibolehkan jika pasir dijual bahkan keluar pulau buat memperkaya sebagian oknum saja,” ujar Aktivis LBH Surabaya ini.

Salah seorang admin Explore Pulau Kangean Fafan, menyampaikan kepada peserta diskusi untuk turut mensosialisasikan alternatif lain terkait maraknya penggunaan batu dan pasir sebagai material bangunan yang diambil dari pantai.

“Pemanfaat bahan material dari sungai, terutama batu dapat menjadi alternatif guna mengurangi praktik pengambilan material bangunan dari pantai. Dampaknya baik juga jika sungai semakin dalam, maka dapat meminimalisir risiko banjir di Kangean,” terang Fafan.

Tambang migas menjadi sorotan lain terkait kerusakan dan dampak terhadap masyarakat di kepulauan. Hal ini dijadikan salah satu pembahasan ketika diskusi berlangsung.

Hasan Basri, salah seorang peserta diskusi menyampaikan terkait kilang minyak dan gas di pulau Pagerung Besar yang secara tidak langsung berdampak terhadap perusakan lingkungan dan kondisi masyarakat di pulau tersebut.

“Dampak bagi lingkungan mulai dirasakan masyarakat terkait penurunan kualitas tanah di sekitar area tambang. Dampak terkait kesehatan masyarakat sekitar tambang juga mulai dirasa warga sekitar dengan munculnya wabah penyakit gatal dan diare,” tuturnya.

Sementara Syauqi selaku ketua pelaksana mengatakan, seperti yang kita ketahui bersama, dengan masifnya praktik perusakan lingkungan di kepulauan Kangean oleh beberapa oknum penguasa dan yang memiliki kuasa serta oknum-oknum pengusaha tambang, kami mencoba mengangkat isu terkait lingkungan di kepulauan guna menyadarkan sesama kita, bahwa pulau kita tidak sedang baik-baik saja.

“Cepat atau lambat, proses eksploitasi minyak dan gas di beberapa titik di kepulauan Kangean akan banyak merugikan warga kepulauan. Banyaknya sumber migas di kepulauan akan menjadi sasaran empuk bagi ‘orang daratan’ untuk melebarkan kekuasannya dan memperkosa kekayaan alam Kangean,” tutur Syauqi.

Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan ini juga menambahkan, disalah satu pulau sudah berdiri dengan gagah beberapa kilang minyak yang bahkan banyak dari kita sebagai warga kepulauan tidak tahu berapa keuntungan yang masuk ke dompet-dompet penguasa dan pengusaha tambang.

“Yang kita ketahui bersama cuma warga sekitar tambang yang tetap miskin. Tambang tidak akan pernah menguntungkan warga miskin seperti kita, mereka akan sibuk berbagi rupiah sesama pengusaha dan penguasa. Dan kembali saya tegaskan, kepulauan kita tidak sedang baik-baik saja,” tegasnya.

Ia berharap, diskusi ini bisa menumbuhkan kesadaran terutama bagi pemuda, sebab menurutnya, sejarah banyak mencatat bahwa revolusi besar di dunia selalu dimulai dan digaungkan oleh pemuda-pemuda revolusioner. Revolusi belum selesai. (Zaini).