Pasca Muslim Rohingya Terdampar, Aktifitas Pemkot Langsa Terus Meningkat

oleh -32 views

Langsa-Aceh, Suara Indonesia-News.Com – Enam kapal nelayan Kuala Langsa, Aceh, berhasil menyelamatkan dua kapal tongkang berasal dari Thailand yang mengangkut sekitar 605 etnis Rohingya Myanmar dan Bangladesh.

Informasi yang diperoleh wartawan dari salah satu nelayan yang ikut mengevakuasi, malam itu para nelayan sedang beraktivitas di laut melihat dua kapal asing dalam kondisi oleng sedang berada di tengah lautan atau sekitar 35 mil dari bibir pantai Kuala Langsa. Jum’at (15/5).

“Kami semuanya ada enam kapal yang mengevakuasi manusia perahu tersebut. Kapal yang mengangkut ratusan warga asing itu dalam kondisi oleng dan nyaris tenggelam.

Disamping itu, ada sepuluh kapal kecil (pancing) yang ikut mengevakuasi,” jelas Pak Do.

Saat di evakuasi para penumpang kapal dalam kondisi mengenaskan, kelaparan dan penuh luka bacokan disekujur tubuh bahkan di kepala.

“Mereka kemudian kita evakuasi satu persatu dengan menggunakan kapal kecil. Mereka ada dua kapal, satu kapal lagi sudah tenggelam,” kata seorang nelayan.

Tak hanya itu, sejumlah nelayan mengaku sempat melihat sejumlah mayat yang sedang mengapung disela-sela pengevakuasian.

Dari informasi yang diterima, seperti kericuhan yang di duga mayat tersebut merupakan korban perkelahian antara warga Myanmar dengan Bangladesh pada satu kapal.

Tiba di Kuala Langsa, mereka langsung ditampung oleh Pemerintah Kota Langsa dengan ditempatkan sementara di Gudang Pelabuhan Kuala Langsa. Sebagian dari mereka juga diangkut ke ambulance oleh tim medis setempat.

“ Pantauan Wartawan sejak kemarin Jum’at (15/5) Mereka banyak yang kurus lemah tak berdaya, mungkin karena lama tak makan. Tubuh dan kepala mereka juga terluka akibat senjata tajam.

Sementara pasca terdamparnya warga rohingya di kuala langsa, Pemerintah Kota Langsa yang dihadiri rombongan Wakil Walikota Langsa, Drs Marzuki Hamid MM, didampingi Sekretaris Daerah Langsa, Muhammad Syahril SH MAP dan Wakil Direktur RSUD Kota Langsa Syamsul dalam kunjungannya itu,  langsung memberikan bantuan medis juga guna melakukan pertolongan demi keselamatan warga rohingya tersebut.

Kemacetan juga terjadi sepanjang belasan kilometer. Tak hanya itu, sesama Bangladesh juga sempat adu jotos karena rebutan makanan.

Tak hanya itu seperti pengakuan warga Myanmar Mohammad Roffique (21) mengatakan, dirinya bersama pengungsi lainnya terkatung-terkatung di tengah lautan selama dua bulan lima belas hari.

Kapal yang ia tumpangi sebelumnya dilepas begitu saja ke laut lepas oleh tentara Thailand dengan diberikan logistik yang sangat terbatas. Awalnya, mereka hendak berangkat mencari suaka politik ke negeri jiran Malaysia.

“Kami berangkat dari Myanmar menuju Malaysia. Setibanya di Thailand, kami tak di izinkan masuk. Kemudian tentara Thailand mengusir kami dengan cara dilepas ke laut lepas dan di tinggal begitu saja. Selepas itu, kami terombang-ambing,” kata Roffique.

Ditambahkannya, ia bersama pengungsi lainnya sempat mendarat di perairan Malaysia, namun di usir oleh Malaysia dan kemudian memasuki perairan Indonesia, lantas di Indonesia pun tak diinginkan masuk.

Selanjutnya, mereka terombang-ambing lagi ditengah lautan dan terakhir berhasil mendarat di perairan Indonesia tepatnya di pesisir aceh, kuala langsa, dengan mendapat bantuan nelayan setempat.

Pemko Langsa beserta bantuan pengamanan yang didukung pihak Polres Langsa dihadiri Kapolres, Waka Polres dan Kasat Reskrim terus berupaya menangani warga myanmar dan banglades di tempat penampungan sampai hari ini bantuan logistik serta pakaian terus berdatangan dari berbagai pihak.(Rusdi Hanafiah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *