Para Mahasiswa ” INTAN ” Yokyakarta Menggagas Pertanian Di Aceh

Para Alumni dan Mahasiswa INTAN Yogyakarta bersama Staf Yayasan Sheep Indonesia wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Foto/Rusdi Hanafiah

Langsa, Suara Indonesia-News.Com – Sejumlah anak muda dari Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Kota Langsa mencetuskan tekat untuk mengembangkan model pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Para pemuda tersebut adalah alumni dan mahasiswa dari Institut Pertanian (INTAN) Yogyakarta. “Ungkap, Sulaiman SP, dalam kegiatan tersebut kepada Suara Indonesia,(23/9).

Setelah menyelesaikan kuliah pertanian di Yogyakarta, dua tahun lalu mereka kembali ke desa masing-masing. Para sarjana pertanian ini lalu mempraktekan dan mengembangkan ilmu yang didapat selama kuliah dengan melakukan  penelitian di desanya.

Gagasan mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan dicetuskan dalam sebuah pertemuan bersama para alumni dan mahasiswa Intan Yogyakarta minggu kemarin (21/9).

Mereka sepakat membuat sebuah wadah belajar bersama yang diberi nama GPT-Aceh (Gabungan Pemuda Tani-Aceh) serta memilih Sulaiman,SP dan Kasdi,SP sebagai kordinator dan sekretaris GPT-Aceh.

Pada pertemuan diskusi di desa Menasah Tengoh, Kabupaten Aceh Timur, Sulaiman mengatakan visi GPT-Aceh adalah sebagai wadah belajar bersama tentang pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Sedangkan misinya, membangun jaringan dengan para petani, mengembangkan Demontrasi Plot (Demplot) untuk pupuk, pengolahan hasil pasca panen, serta mengelola data potensi pertanian lokal seperti benih lokal dan komuditas pertanian.

Pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan adalah pertanian yang tidak meng-eksploitasi lahan dan produksinya tidak bergantung pada bantuan produk industri serta menggunakan produk organik. Pertanian ini termasuk pertanian sehat dan berbiaya rendah.

Salah seorang anggota GPT-Aceh, Awaludin,SP mengaku informasi awal tentang belajar pertanian di INTAN dan lembaga Joglo Tani Yogyakarta didapat dari Yayasan Sheep Indonesia yang kemudian memfasilitasi beberapa orang pemuda asal Aceh Timur dan Aceh Tamiang untuk belajar pertanian.

Mereka mengaku ketika kuliah, selain belajar ilmu teori juga langsung melakukan praktek dan penelitian di sebuah lembaga Joglo Tani Yogyakarta. Di tempat itu para mahasiswa bercocok tanam berbagai jenis sayuran, membuat pupuk organik dan peptisida. Mengembangkan produk-produk organik padat dan cair serta mengembangkan bibit tanaman.

“ Di Joglo Tani Yogya kami belajar sistem pertanian terpadu,” ucap Awaludin,SP salah seorang alumni asal Aceh Timur yang difasiliasi oleh Yayasan Sheep Indonesia.
Sulaiman, mengaku telah mengembangkan tanaman padi dengan metode tanam Sistem Rice intensifikasi (SRI). Metode tanam SRI berhasil meningkatkan hasil dari lahan yang kecil dengan hasil yang berlipat.

“Rata-rata 5 rante menghasilkan minimal 1,3 ton padi,” ungkap Sulaiman. Sebagai pembanding untuk model tanam konfensional biasanya di Aceh 1 rante menghasilkan 120 kilo atau 12 kaleng. Sedangkan padi model tanam SRI 1 rante menghasilkan 1200 kilo atau 20 sampai dengan 25 kaleng.
Kata Sulaiman, memang ada perbedaan jenis tanah di Aceh dengan di Yogyakarta. Tanah di Aceh tinggi kadar asam. Kesalahan para petani konvensional di Aceh pada pemberian pupuk yang tidak mengurangi kadar asam tanah tetapi justru meningkatkan kadar asam tanah.

Setelah melakukan uji coba beberapa kali untuk menurunkan kadar asam tanah, kemudian dilakukan sistem penanaman padi SRI dan hasil yang didapat dalam 1 hektar naik rata-rata 1 ton.

Proyek manajer Yayasan Sheep Indonesia wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang, Petrus berharap dengan wadah yang terbentuk tersebut para anggotanya dapat menjadi pemikir dan pelaku bagi perkembangan pertanian yang berkelanjutan di Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang, karena peluang untuk mengembangkan pertanian di wilayah ini sangat besar,” ungkap Petrus.

Saat ini para pemuda yang tergabung dalam wadah GPT-Aceh telah menyusun rencana aksi dengan membuat Demplot di desa tempat tinggal masing-masing. Ada yang mengembang jenis tanaman padi, melon organik, sayuran terung dan kacang. Mereka juga mengembangkan pembuatan pupuk organik dan pestisida.

Mengamati jenis hama dan media tanah. Demplot yang telah dipilih adalah demplot sawah dan demplot sayuran masing-masing 8 rante terletak di Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Kota Langsa. Mereka akan menginventarisir jenis tanaman yang dipilih untuk di kembangkan serta mencatat hasil penelitian.

Konstributor Langsa-Aceh:Rusdi Hanafiah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here