Mudik, Sarana Menjalin Silaturahmi

oleh -74 Dilihat

Suara Indonesia-News.Com – Menjelang hari raya Idul Fitri, mudik merupakan ritual tahunan yang paling dinanti, terutama bagi masyarakat yang tinggal di perantauan. Setelah beberapa lama terpisah dari orang tua, kerabat, sanak keluarga, dan sahabat, mereka pulang ke kampung halaman.

Meski terbilang berat di ongkos dan tenaga, karena harus mengeluarkan uang lebih dan menempuh jarak ratusan kilometer dengan menumpang mobil, kereta, bahkan sepeda motor, namun keceriaan terpancar begitu bertemu dengan sanak keluarga sampai di kampung halaman tercinta. Semangat bersilaturahmi itu menggugurkan kelelahan di sepanjang perjalanan.

Tentu bertatap muka dengan orang-orang terdekat lebih bermakna ketimbang sekadar mengirim pesan singkat lewat telepon seluler atau bercakap-cakap lewat media sosial lainnya. Sebab itulah, para perantau berusaha meluangkan waktu untuk mudik ke tanah kelahiran mereka.

Fenomena mudik bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi kerap dijumpai di berbagai negara lain, misalnya ketika menyambut perayaan Natal atau Thanksgiving Day. Hampir semua orang meluangkan waktu khusus untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat. Di sini, mudik menjadi sarana untuk memperkuat ikatan kebatinan, memperkukuh silaturahmi.

Dalam tradisi Islam, mudik merupakan pelaksanaan perintah ajaran agama, yakni menjadikan Idul Fitri sebagai medium bermaaf-maafan setelah menjalani tobat dan meminta ampunan kepada Allah SWT. Di sini, Idul Fitri menjadi ajang untuk menjalin kasih sayang yang dimulai dengan meminta maaf kepada orang tua, sanak saudara, dan handai tolan.

Perintah itu tercermin dalam firman Allah di surat An-Nisa, yang artinya sebagai berikut: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu persekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu Sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q, 4: 36).

Di sisi lain, kepulangan beberapa pemudik ke daerah asal mereka juga ternyata membawa dampak ekonomi yang luar biasa, khususnya berkenaan dengan dampak pemerataan ekonomi ke daerah-daerah.

Misalnya, memberi santunan kepada anak-anak atau keluarga kurang mampu, membantu pembangunan desa, atau sekadar membagikan buah tangan yang dibawa pulang dari kota. Ada pula yang menghabiskan waktu senggang untuk berwisata bersama keluarga tercinta.

Tanpa disadari kegiatan mudik menjadi blessing under disguise, hal yang tampaknya tidak menguntungkan, tapi ternyata memberikan rahmat tersendiri bagi masyarakat.

Itulah esensi mudik di hari raya Idul Fitri. Selain menjadi sarana untuk menjalin kembali ikatan silaturahmi yang terputus, pulang ke kampung halaman juga bisa menjadi kesempatan terbaik untuk saling berbagi rezeki dan kebahagiaan.

Fachrurozi Majid, Mahasiswa S2 Filsafat di STF Driyarkara dan alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Banten.

Tinggalkan Balasan