Menristekdikti Tegaskan Tak Pernah Larang Mahasiswa Unjuk Rasa

Menristekdikti Mohamad Nasir menyampaikan sambutan pada peresmian Gedung Integrated Laboratories, Auditorium, Agrotechnopark IsDB Project Universitas Jember. (Foto: Guntur Rahmatullah).

JEMBER, Kamis (10/10/2019) suaraindonesia-news.com – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meluruskan tentang pemberitaan yang menyebutkan dirinya melarang para mahasiswa unjuk rasa menolak UU kontroversial pada minggu terakhir bulan September 2019 lalu.

“Pertanyaan saya, saya melarangnya gimana? Nah anda melihatnya di media, saya tidak pernah melarang. Mahasiswa punya hak sebagai warga negara untuk berdemo, tapi kampus tidak boleh mengerahkan. Kampus perguruan tinggi negeri kami larang tidak boleh, tapi mahasiswa punya hak sendiri.Rektor tidak boleh menggerakkan mahasiswa untuk demo,” tegas Nasir usai meresmikan Gedung Integrated Laboratories, Auditorium, Agrotechnopark IsDB Project Universitas Jember, Kamis (10/10).

Dia pun menegaskan bahwa tidak ada rektor yang dikenai sanksi atas gelombang besar demo mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah.

“Senin depan (14/10/2019) saya akan panggil seluruh rektor perguruan tinggi negeri. Ya pertama saya monitoring dan evaluasi para rektor terutama dalam penggunaan anggarannya, capaiannya, penyimpangan apa saja yang terjadi, ini harus kita sampaikan semuanya, saya rutin panggil semua rektor setiap 3 bulan sekali untuk evaluasi,” lanjutnya.

Sedangkan mengenai penetapan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith sebagai tersangka perakitan bom yang akan diledakkan di beberapa titik pada aksi demo Mujahid 212 yang digelar 28 September lalu di Jakarta, Nasir tegaskan bahwa dosen tersebut harus dihentikan sebagai dosen.

“Kalau nanti peradilan memutuskan dia salah, katakan dipidana misal dalam masa 2 -3 tahun, dia harus berhenti jadi dosen,” kata Nasir.

Atas kejadian tersebut, Nasir menampik ada pemantauan khusus terhadap IPB. “Seluruh perguruan tinggi negeri, 122 perguruan tinggi negeri kami pantau, dan tidak ada pemantauan khusus, semua kami pantau,” sambungnya.

Saat hendak pulang dari kampus Universitas Jember, Menristekdikti Nasir dihadang oleh aksi protes mahasiswa yang menolak tindakan represif Menristekdikti. Aksi protes tersebut dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember. Ada dua tuntutan dalam aksi protes tersebut.

“Pertama, mencabut pernyataan Menristekdikti terkait ancaman kepada rektor yang menyuruh dan membiarkan mahasiswa melakukan aksi turun jalan. Kedua, mendesak Menristekdikti menindaklanjuti jatuhnya korban pada aksi turun jalan,” ujar Wakil Presiden BEM Unej Muhammad Rizal.

Namun sayangnya ia mengungkapkan, aksi protes yang dilakukannya itu, sebelumnya setelah diketahui ada birokrat kampus yang meminta agar tak ada aksi unjuk rasa dengan alasan menjaga kondusifitas.

Aksi protes BEM Universitas Jember kepada Menristekdikti. (Foto: Guntur Rahmatullah)

“Kami mau melakukan aksi. Kami diredam dengan disediakan audiensi. Tapi audiensinya tidak ada proses dialektika. Tidak ada kesepakatan dan tidak ada output bagi kami,” jelasnya.

Menurutnya, aksi penyampaian pendapat di depan menteri terkesan dikondisikan.

“Kami digembosi banyak kali sampai tidak dibolehkan, hanya dikasih waktu 10 menit,” kata Presiden Mahasiswa Universitas Jember Ahmad Fairuz Abadi ikut menambahkan.

Mahasiswa akhirnya sepakat bertemu dan berdialog dengan Nasir, setelah acara seremonial selesai. Namun kekecewaan mahasiswa yang dirasakan. Karena Nasir menolak menandatangani dukungan terhadap dua tuntutan sebagaimana diinginkan mahasiswa.

Bahkan Nasir merasa tidak pernah merepresi rektor dan persoalan jatuh korban dalam aksi mahasiswa bukan kewenangannya untuk menangani.

“Buat apa (tanda tangan),” katanya singkat.

Bahkan sempat pernyataan itu dijawab Wakil Presiden BEM Universitas Jember Rizal. “Kami butuh buat catatan sejarah kami,” katanya.

“Buat apa sejarah? (Ada) pernyataan di media. Sudah cukup ya?” kata Nasir, dan kemudian meninggalkan ruangan.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Marisa


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here