Menjaga Lisan, Memuliakan Manusia

oleh -72 Dilihat
Semarak Ramadlan

Sebuah pepatah Arab mengatakan, “lisan bagaikan pedang”. Peribahasa ini cukup populer di telinga dan kerap diungkapkan untuk menggambarkan betapa bahayanya lisan.

Dalam masyarakat Arab, lisan dikiaskan dengan tajamnya pedang yang mampu memotong benda sekaligus menyakiti orang lain. Begitu pula lisan. Anggota tubuh tak bertulang itu mampu membawa manfaat dengan memberikan pencerahan dan pengetahuan, tapi bisa menyebabkan keburukan sekaligus.

Oleh sebab itu, Rasulullah mengingatkan umatnya untuk menjaga perkataan, hanya mengeluarkan bahasa baik di hadapan orang, atau diam jika pembicaraan itu bakal menyakiti sesamanya. Sabda Nabi ini dicatat oleh dua perawi hadis terkemuka, Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang berbunyi:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengapa penting menjaga lisan?

Secara naluriah, manusia memiliki sifat dasar mengejar kesenangan dan menghindari kesusahan. Sehingga hampir pasti, tak ada satupun manusia senang jika hatinya terluka. Sifat menyakiti orang lain dalam bahasa Arab disebut adza, yang berarti juga membahayakan dan menghancurkan.

Perbuatan itu serupa kotoran rohani yang harus dilenyapkan, terutama ketika Ramadan di saat umat muslim dianjurkan mengisinya dengan amalan baik sebagai penyempurna ibadah puasa. Bulan ini merupakan waktu terbaik untuk menyucikan diri dan mengharap ridha Illahi.

Di bulan penuh pengampunan ini, setiap muslim dianjurkan menjaga lisan, seperti menghindari untuk menggunjing orang lain, berdusta, memaki, bertengkar,dan mendebatkan sesuatu yang melahirkan kebencian dan permusuhan. Sebab, selain mengurangi nilai ibadah, semua perbuatan dapat menghapus pahala sedekah seseorang.

Dalam Alquran, di surat Al-Baqarah, Allah mengingatkan, yang artinya: “Janganlah kamu batalkan pemberian kamu dengan gerutuan dan perilaku yang menyakiti hati” (Q, 2: 274).

Dalam kitab “Riyadhus Sholihin” Imam al-Nawawi memberi wejangan kepada umat Islam, jika hendak berbicara, ada baiknya melihat dulu maslahat dan mudaratnya bagi orang lain. Bila ternyata lebih banyak mengandung keburukan, menahan diri lebih mulia ketimbang berbicara.

Demikianlah Islam memberi pedoman kepada segenap pengikutnya agar selalu menjaga lisan demi menciptakan kemaslahatan bagi diri sendiri dan memuliakan orang sekitar. Sebab Rasulullah menyadari betul bahwa penyakit hati semacam itu dengan mudah bisa mengancurkan seseorang.

Fachrurozi Majid, Mahasiswa S2 Filsafat STF Driyarkara dan alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Banten.

Oleh : Plasadana

Tinggalkan Balasan