Mengenang Kiyai Asal Madura Kaliber Dunia

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Berawal dari pengabdian sebagai salah satu kewajiban setelah lulus/diwisuda dari TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Alhamdulillah saya terpilih mengabdi di al-mamater tercinta ditempatkan di Yayasan Al-Amien di staff sekretariat yayasan sebagai asisten pribadi (aspri) Pimpianan Pondok, kala itu masih mendiang kiyai Tidjani, dari tahun 2004-2007, sampai beliau dipanggil sang pencipta untuk selama-lamanya, Allahumma firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Amien….

Mengabdi dipondok merupakan idaman setiap santri al-amien, khususnya lulusan TMI, termasuk saya, tidak semua alumni dikasih kesempatan mengabdi di TMI hanya orang-orang pilihan apa lagi di sekretariat yayasan, yang bersentuhan langsung dengan pimpinan dan keluarga beliau, juga tamu-tamu pondok, baik nasional maupun internasional, apa itu tokoh atau ulama’ apa lagi menteri sampai presidenpun, disinilah keistimewaannya asatidz sekretariat yayasan Al-Amien Prenduan, segudang ilmu dan pengalaman dimiliki, istimewa dan luar biasa apalagi kala itu kiyai Tidjani disamping sebagai pimpinan pondok, beliau juga pimpinan ulama-ulama Madura (BASSRA), Dewan pakar ICMI Jawa Timur, Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pond-Pest Alumni Pondok Modern Gontor, Pendiri Badan Silaturrahmi Pondok-Pesantren, ketua Majlis Ma’had Ali Indonesia, dan tidak kalah pentingnya beliau pejabat di Rabithah ‘alam al-islami (Muslim Word League) dari tahun 1974-1988 atau liga Muslim Dunia, salah satu organisasi Islam non –pemerintah terbesar di dunia, didirikan di Mekkah Al-Mukarromah.

Makanya tidak heran ketika ada tamu KONJEN Amerika kunjungan ke pondok Al-Amien, dan si- berbincang-bincang santai dengan kiyai dalam bahasa inggris yang fasih dan mudah difahami, nah ibu konjend ini (Konjen-nya perempuan) tercengang dan mengaku malu dengan wawasan kiyai, kok bisa kiyai ini hafal betul amerika, tau jalan-jalan kecil di amerika, dia sendiri tidak tau padahal dia orang amerika, besar di amerika, istimewa kata si Konjen
Kiyai Tidjani walapun gajinya melebihi menteri beliau lebih memilih pulang kampung ke Madura mengelola pondok bersama adik-adiknya, beliau sangat sederhana, dari segi pakaian, makanan sama dengan santri nya, tidak ada yang mewah, mobil pun sederhana padahal untuk beli mobil yang sekelas Pajero kala itu beliau sangat mampu, banyak sekali para alumni, dermawan menawarkan beliau untuk ganti mobil secara cuma-cuma. Banyak juga penawaran gelar, Doktor, Profesor dan gelar-gelar yang lain, itu dari kampus-kampus ternama di Indonesia, bahkan ada yang dari universitas luar negeri, timur tengah juga ada, hamipir tiap hari sekretariat itu menerima surat begitu-begitu, itu semua diabaikan sama beliau, baik Via Pos ataupun telepon langsung, sempat saya menerima telpon penganugerahan gelar professor, MBA, Phd, dll kepada beliau, karena biasanya kalau ada telepon ataupun surat masuk mesti melalui saya dulu selaku sekpri beliau, begitu prosedurnya.

Dalam hal pekerjaan atau tugas, ketika diyayasan, beliau selaku pimpinan dan kami selaku staff nya, banyak sekali memberikan warna dalam kehidupan pribadi kami, terutama di sisi kehidupan sehari-hari, beliau tidak pernah marah, tidak pernah mengeraskan suaranya, tidak pernah menampakkan kekesalan, tidak pernah menampakkan wajah kecewa, apa lagi masam, cemberrut, beliau selalu bersahaja, baik ketika rapat maupun ketika bincang-bincang santai dengan kolega dan staffnya, ini yang membuat teman-teman di kantor selalu senang, enjoy dalam bekerja, malah kami kalau tidak ditelpon sama beliau selalu bertanya-tanya, ada apa kok tidak pernah nelpon/ menghubungi kami, kami senang kalau dihubungi beliau, ntah hati itu rasanya selalu berbunga-bunga wajah selalu berbinar, saking senangnya.

Suatu waktu ada kejadain menarik, Kordinataor Harian (KOHAR) yayasan Ust. Jakfar sodiq tiba-tiba datang ke kamar sekretariat bertanya-tanya kenapa kiyai kok gak pernah nelpon saya, kata beliau, apa kiyai tidjani tidak nanya-nanya ustd Jakfar gitu, beliau merasa kangen sama kiyai tidjani, saya nggak ditelpon kiyai setengah hari aja pusing, kata ust jakfar, istimewa.

Ada beberapa peristiwa yang cukup menarik dan selalu ada terlintas dalam benak saya, yang selalu menimbulkan rasa kangen yang tiada tara kepada sosok Kiyai Tidjani, mungkin saya yang paling dekat kepada beliau, karena waktu itu kemana-mana saya selalu ikut disetiap acara muhibbah beliau, ntah itu acara pribadi/keluarga ataupun acara untuk kepentingan pondok, baik di sekitar pondok, kabupaten, wilayah atau keluar kota, biasanya ke Gontor atau ke Jogja, jauh-jauh hari beliau biasanya menanyakan kesiapan saya atau teman-teman secret yang lain untuk mendampingi beliau atau mendampingi kelurga beliau.

Mengenai tamu yang mau kunjungan ke pondok, baik tamu pribadi atau tamu pondok, biasanya pemberitahuannya lewat surat ada juga yang via telepon, yang sering stanby dikantor itu saya, selaku sekpri, saya masih ingat apa yang beliau sampaikan ke saya, Dhafir anta jangan kemana-mana, anta selalu duduk depan saya, kursi depan saya ini jangan sampai kosong, kata Kiyai Tidjani. Maklum waktu itu HP belum viral, akhirnya kami membeli bell dipasang dari dhelem kiyai ke kamar sekret, untuk memudahkan beliau berkomonikasi / ketika butuh dengan staf-stfnya.

Beberapa bulan kemudian, bell kurang praktis, diganti dengan telpon parallel, antara dhelem dengan kamar staff, sehingga beliau mudah memangil kami, sehingga beliau tidak perlu lagi menyuruh santri yang piket/Ra Abdullah untuk manggil teman-teman sekret, inisiatif itu dari kami bukan dari kiyai, karena kami kasihan kepada beliau tiap butuh kami, baik tiu siang atau malam selalu menyuruh khaddam, atau bulis kadang-kadang putra beliau.

Ada juga tokoh-tokoh yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, nah saya selaku sekpri harus jeli dan tanggap siapa yang datang, tamu dari mana, apa itu tokoh nasional, ulama atau pejabat atau termasuk keluarga, dan itu terjadi ketika beliau kesehatannya mulai terganggu ketika sudah pakai kursi roda, waktu itu yang datang menjenguk beliau Al-Marhum KHR. Fawaid As’ad pengasuh pondok syalafiyah sukorejo situbondo, beliau masih paman kiyai Tidjani, datang waktu santri sholat magrib, kiyai Tidjani sudah pakai kursi roda, untung saya tahu siapa beliau, langsung diterima beliau di dhelem, beberapa hari setelah itu ada kiyai maimun Zubair Serang beliau datang membesuk kiyai datang kala santri lagi solat magrb.

Banyak kenangan dengan beliau, yang sulit dilupakan, memberikan makna hidup, dintaranya:
Beliau itu kiyai yang kharismatik, kiyai popular disegani kawan
Suatu hari ada undangan ke salah satu pondok di Bangkalan Burneh dalam rangka kunjungan Amien Rais capres kala itu, nah beliau kiyai tidjani duduk dibelakang,undangan VIP, ketika sudah doa beliau dimintak mimpin doa, padahal sudah ada kiyai yang mau dipanggil untuk memimpin doa, tiba-tiba bupati bangkalan ngelihat beliau diantara para undangan, akhirnya beliau yang disebut namanya sama pembawa acara.
Kiyai yang bersahaja
Selama saya mendampingi kiyai tidjani, tidak pernah beliau kelihatan marah, kecewa, berbicara keras, menyinggung perasaan, membentak bawahan, tidak pernah saya mengalami itu, beliau selalu menghormati asatidz, menghargai asataid selaku staff beliau tidak pernah menyuruh-nyuruh ustadz ustadz disekeliling beliau, selalu menjaga haibah atau harga kehormatan seorang ustadz.

Pimpinan yang sederhana dan apa adanya dekat dengan staff
Sering sekali ketika staff beliau lagi lembur, biasanya lemburnya itu kalau buat proposal ke luar negri biasanya ke arab Saudi, lembur sampai malam teman-teman sekret gantian mengetik dan beliau dengan setia menemani sambil mengoreksi, sesekali beliau kedalam buatin kopi teman-teman yang lagi kerja, bahkan sampai subuh dan lanjut setelah subuh, herannya kami itu tidak ada yang mengeluh, malah senang, biasa nya beliau menyuruh khodimahnya untuk menyuguhkan makanan ringan, atau nasi, adakalanya beliau sendiri yang ngambil makanan ringan,kue,kue dan lainnya, beliau tidak pernah marah ketika kami makan kue yang ada di meja, bahkan disuguhkan untuk dinikmati, subhanallah.

Selalu mendahulukan kepentingan pondok diatas segala-galanya.
Dan memang hidup beliau sudah diwakafkan untuk pondok, beliau tidak pernah membawa-bawa nama keluarga beliau, baik untuk sekedar contoh apa lagi disanjung, tidak pernah, selalu Al-Amien dan Al-Amien.

Kiyai yang suka memberi
Kalau dikantor atau dalam perjalanan dengan beliau pokoknya senang banget, mesti ditawarin mau makan apa, kopi hitam apa coklat, apa campur susu dan madu, atau kalau lagi bepergian jauh, ke solo umpanya,tapi kita seringnya ke Gontor dan Jogja, saya selaku mendampingi beliau dikasih sangu, untuk makan dengan supir, uang nya banyak dan masih sisa, itu dimobil uang pecahan ribuan, lima ribu, sepuluh ribu, banyak itu dimobil,karena memang disediakan untuk tol, parker dll, putra-putri beliau itu sangat senang menyisihkan uang ribuannya di mobil, kebetulan supirnya merokok semua, ditawarin mau rokok apa gitu, tidak pernah marah, dan jarang menegur, karna kami selalu hati-hati dalam bersikap, biasanya menegur itu kalau bahasa arab kita itu yang salah, itu ada aja, tidak ditegur tapi dikoreksi dengan lembut tidak menyinggung perasaan. Biasanya diitegurnya kalau lagi berdua, jadi kami tidak malu, hebat beliau itu
Keluarga yang selalu menghargai, menghormati para staff
Selama saya disekretariat tidak pernah dengar bu nyai,nyuruh-nyuruh ustad, apa lagi putra putri dan menantu beliau, tidak pernah, kalau datang bepergian mereka memanggil saya kemudian ngasih bingkisan, untuk dibagi-bagikan ke teman-teman sekretariat, baik berupa makanan, atau berbentuk barang, dan barang=barangnya itu istimewa bukan hanya sekedar asal yang penting memberi. Setiap staff mau pulang kampung ketika liburan atau lagi KKN bagi yang kuliah, selalu ngasih sango, mesti itu.

Itulah sepenggal cerita kebersamaan saya dengan kiyai Tidjani djauhari, dan masih banyak lagi cerita-cerita menarik yang meng-ispirasi, suatu saat akan saya ceritakan lagi ke istimewaan beliau dalam hidup dan berkehidupan. Saya ingat selalu kepada beliau, kangen Kiyai Idris, kangen Kiyai Maktum rindu beliau, ntah kenapa-hari-hari ini selalu ingat pondok pesantren al-amien. Modah-modahan beliau dan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan selalu mendapatkan maunah dari Allah SWT. Amien…………
Kraksaan, 15 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here