Menanam Pohon Pengganti yang Terbakar dan Mengatasi Perubahan Iklim

Joko Widodo Saat Tanam Pohon

Banjar, Suara Indonesia-News.Com – Puncak acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2015 dan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang dihadiri Presiden Joko Widodo, berlangsung Kamis (26/11/2015) di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Mandiangin, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

Acara yang mengambil tema “Ayo Kerja, Tanam, dan Peliharan Pohon Untuk Hidup Yang Lebih Baik” itu diselenggarakan di Tahura Sultan Adam karena wilayah tersebut menjadi salah satu wilayah kebakaran hutan yang cukup luas, sehingga membutuhkan rehabilitasi.

Menurut Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, lahan bekas kebakaran sesungguhnya merupakan tanah subur karena banyak mengandung mineral berupa abu.

“Jenis tanaman yang tidak disangsikan lagi dapat tumbuh dengan baik di daerah itu, kata Endes, adalah jenis-jenis pohon yang tumbuh sebelum terbakar., karena telah terbukti dapat beradaptasi dengan iklim dan tanah setempat,” tandasnya, Jumat  (27/11/2015).

Djarum Foundation melalui program Djarum Trees for Life sudah sejak lama melakukan program penanaman pohon. Salah satunya adalah kegiatan “Menanam Trembesi 1.350 KM Merak – Banyuwangi” yang telah dilaksanakan sejak tahun 2010 silam.

Kegiatan ini sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk periode 2015-2030, kelanjutan dari Millenium Development Goals (SDGs) yang berakhir pada 2015.

SDGs membahas 17 goal (target) untuk mewujudkan kehidupan dunia yang adil, sejahtera, dan damai, yang bebas dari kemiskinan, kesenjangan, keterbelakangan, pandemi, kekerasan, terorisme, dan kerusakan lingkungan hidup serta perubahan iklim. Goal ke-13 SDGs tentang mengamanatkan untuk segera mengambil tindakan memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Di dalamnya terjabar tujuan untuk memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim serta bencana alam di semua negara.

Masih kata Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, pohon trembesi yang ditanam Djarum Foundation di sepanjang Merak – Banyuwangi akan menyerap 1 juta ton gas CO2 setiap tahunnya. Hal ini tentu selaras dengan goal ke-13 SDGs.

Lebih lanjut Endes memaparkan, trembesi merupakan jenis pohon yang memiliki daya serap yang sangat tinggi sehingga penanaman jenis ini dengan jumlah yang banyak merupakan terobosan yang sangat baik untuk mengatasi pemanasan global, perubahan iklim, dan iklim ekstrim serta puting beliung yang sangat mengancam kehidupan manusia, akibat meningkatnya konsentrasi gas CO2 di udara sebagai hasil emisi dari penggunaaan pembakaran minyak dan gas oleh kendaraan bermotor dan industri.

“Trembesi dapat hidup di daerah kering atau yang tergenang air. Sebarannya di semua daerah tropika. Dapat hidup di daerah beriklim kering Savana dengan curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun serta mampu hidup di daerah kurang subur, karena akarnya mengandung bibit akar dengan bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen dari udara, sehingga tanah menjadi lebih subur,” papar Endes N. Dahlan.

Ditambahkannya, cabang trembesi sangat kuat sehingga cocok untuk peneduh jalan. Daunnya berukuran kecil, sehingga kurang menimbulkan kesan kotor di jalan serta tidak menghasilkan zat allelopathyu, sehingga tumbuhan jenis lain dapat tumbuh di bawahnya.

Di samping itu, banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari pohon trembesi. Antara lain buahnya agak manis dan sering dihinggapi lebah, biji dapat disangrai untuk camilan, daun dan akarnya berkhasiat obat, serta kayunya kuat dan motifnya bagus untuk furnitur.

Hingga pertengahan tahun 2015, Djarum Trees For Life berhasil menanam 36.763 pohon trembesi, di sepanjang 1.260 km jalur Pantura mulai dari Merak di Provinsi Banten hingga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Pada 17 Desember 2015, kegiatan “Menanam Trembesi 1.350 KM Merak-Banyuwangi” akan mencapai puncaknya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.(Adhi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here