Membangun Lebih Tinggi dan Lebih Tangguh

Reporter: Cahya

Surabaya, Kamis (1/12/2016) suaraindonesia-news.com – Semakin hari, pertumbuhan populasi manusia semakin pesat. Dengan populasi 6,8 miliar jiwa pada tahun 2010, diperkirakan pada tahun 2050 jumlah populasi manusia akan menjadi 9,2 miliar jiwa. Jumlah yang spektakuler ini menyebabkan adanya krisis tanah. Untuk menanggulangi kekurangan tanah ini, solusi utama adalah membuat bangunan tinggi. Tantangan tambahan yang dihadapi pembuatan bangunan di Indonesia adalah tingginya frekuensi kejadian gempa bumi. Lalu pertanyaannya yang muncul adalah bagaimanakah kesiapan kita dan juga peluang apakah yang bisa diambil dari tantangan ini? Menjawab pertanyaan ini, Program Studi Teknik Sipil U.K. Petra menyelenggarakan Seminar bertajuk Best Practice in Civil and Structural Engineering Works pada tanggal 29 November 2016 di Auditorium UKP. Seminar yang menghadirkan tujuh orang narasumber dari dalam maupun luar negeri ini merupakan peneliti dan praktisi Teknik Sipil dan Struktur Bangunan.

Hadir sebagai pembicara pertama adalah Dr. Elisa Lumantarna dari University of Melbourne, Australia. Ia membawakan studinya tentang Seismic Assesment (penilaian kekuatan seismik) pada bangunan-bangunan di Australia. Ia memperkenalkan penyederhanaan metode perencanaan kekuatan bangunan untuk menahan gempa. Dalam sesi pembicara kedua, Mr. Seow Kiat Huat, representatif dari PT. BASF memperkenalkan peserta seminar pada teknologi peningkatan performa beton dengan pemakaian admixtures. Penemuan mutakhir bahan tambahan dalam semen membuka peluang untuk membuat proses pembuatan beton menjadi lebih cepat, lebih sustainable (berkelanjutan), lebih tahan lama, dan lebih ramah lingkungan. Dilanjutkan dengan pembicara ketiga, Ir. Gambiro S., M.T., membawakan Aplikasi Hollow Core Slab pada Gedung Pracetak Tahan Gempa. Penggunaan lembar beton berronga precast (pracetak: sudah dalam bentuk lembaran beton jadi) dalam  bangunan bisa dibuat menjadi lebih tahan gempa dengan meningkatkan kekakuan pada sambungan antar lembarnya.

Selanjutnya Ir. Sinarto Dharmawan, MBA., dari PT. Intiland Development, Tbk., mempresentasikan Surabaya Goes Vertical. Ia memberikan tinjauan dari sisi bisnis perencanaan pembangunan kota Surabaya. Pemanfaatan lahan dengan konsep memaksimalkan jumlah aktivitas bisnis dalam setiap lahan yang tersedia adalah hal yang tak terelakkan. Cara untuk mendapatkan hal itu adalah dengan membuat high-rise building (bangunan tinggi). Untuk merealisasikan bangunan tinggi ini mutlak diperlukan ahli teknik sipil. Ir. Gideon Hadi Kusuma, M.Eng., mengangkat materi Efficient, Sustainable and Consistent Concrete Production. Ia mengingatkan kembali akan pentingnya selalu mengembangkan dan menyempurnakan teknik struktur untuk bisa menjadi pembangun yang bertanggungjawab. Secara khusus, ia mengajak para penggelut dunia pembangunan untuk merubah pola pikir dari low bid menjadi lowest responsible bid. Dari penawaran paling murah menjadi penawaran bertanggungjawab yang paling murah. Wakil dari Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Ir. Dradjat Hoedajanto, M.Eng., Ph.D., membawakan materi Level of Accepted Risk dan Kapasitas Gempa Existing Gedung di Indonesia. Ia mengatakan bahwa resiko gempa di Indonesia adalah nyata ada dan membutuhkan pemetaan yang lebih baik lagi. Standar regulasi ketahanan terhadap gempa di Indonesia masih mengadopsi standar Amerika Serikat. Hal ini juga perlu dikaji ulang karena kondisi yang ada di Indonesia berbeda dengan di AS.

Pembicara pamungkas adalah Prof. Benjamin Lumantarna, Ph.D. Istimewanya, seminar ini juga merayakan hari ulang tahun profesor yang akrab dipanggil rekan dan muridnya Pak Ben ini. Profesor pertama yang dicetak UK Petra ini membawakan materi Kisah Terbentuknya Karakter Perencana Seorang Benjamin Lumantarna. Ia membagikan pengalamannya berkarir sebagai perencana. Perjalanan karirnya yang berbuah dan contoh-contoh penyelesaian masalah yang cemerlang memotivasi para peserta untuk bisa berprestasi dan mencetak nama baik di dunia perencanaan. Seusai rangkaian seminar acara dilanjutkan dengan Launching Program S2 Arsitektur, Launching Program S3 Teknik Sipil dan launching buku biografi Prof. Benjamin Lumantarna, Ph.D., yang berjudul Kejernihan yang Mengalir. Suatu kebetulan yang unik ada di sini, yaitu Program S3 Teknik Sipil UKP tercatat sebagai yang pertama di Kopertis VII dan juga Prof. Benjamin juga tercatat sebagai profesor pertama di Kopertis VII.

Dalam sambutannya, Rekor UKP Prof. Ir. Rolly Intan M.A.Sc., Dr.Eng., menyatakan momen dies natalis ke-54 ini sebagai titik kredibilitas dimana level Prodi Teknik Sipil UKP sudah bukan lagi nasional, akan tetapi sudah internasional. Ia menjelaskan bahwa di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ada lebih dari 50 alumnus S1 Teknil Sipil UKP yang berkuliah S2 dan S3 dengan beasiswa penuh. Ini menunjukkan pengakuan akan mutu pendidikan dan lulusan dari prodi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here