SUMENEP, Rabu (14/1) suaraindonesia-news.com – Sejumlah masjid dan musala di Pulau Saebus, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, hingga kini masih belum menikmati aliran listrik yang memadai. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ibadah masyarakat, terutama saat malam hari dan waktu salat, karena masjid kerap berada dalam keadaan gelap dan lantunan azan tidak selalu terdengar.
Masjid dan musala yang seharusnya menjadi pusat ibadah serta penanda waktu salat bagi umat Islam, khususnya melalui pengeras suara, belum dapat menjalankan fungsi tersebut secara optimal di wilayah kepulauan terpencil ini.
Takmir Masjid Darul Islah di Dusun Waru, Pulau Saebus, Asnen, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyampaikan bahwa keterbatasan listrik merupakan persoalan lama yang hingga kini belum mendapatkan solusi nyata.
“Listrik di pulau kami memang tidak ada. Jadi kadang saya tidak bisa azan karena setrum di aki habis,” ujar Asnen.
Menurutnya, selama ini masjid hanya mengandalkan aki dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas terbatas. Seiring usia pakai, aki yang digunakan sudah tidak lagi mampu menyimpan daya listrik secara optimal.
“Aki di masjid sudah tidak kuat menyimpan setrum. Makanya, kalau mau azan subuh sering kali setrumnya sudah habis,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan listrik secara berkelanjutan, dibutuhkan perangkat PLTS dengan kapasitas yang lebih besar agar mampu menyuplai energi selama 24 jam. Namun, keterbatasan dana menjadi kendala utama.
“Beberapa bulan lagi masuk Ramadan. Tentu kami membutuhkan listrik untuk kegiatan ibadah seperti tadarus dan salat malam. Tetapi saldo masjid belum mencukupi untuk membeli panel surya yang layak,” katanya.
Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah kepulauan, khususnya terkait pemenuhan listrik bagi fasilitas ibadah dan sosial. Padahal, keberadaan listrik tidak hanya berkaitan dengan penerangan, tetapi juga menunjang kelangsungan aktivitas keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Asnen berharap adanya perhatian dari pihak terkait maupun para dermawan untuk membantu pengadaan satu paket PLTS yang memadai agar masjid dapat berfungsi secara optimal.
“Kami sangat berharap ada donatur yang bersedia membantu masjid kami untuk membeli PLTS,” pungkasnya.
Hingga saat ini, warga Pulau Saebus masih menantikan hadirnya perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak agar rumah ibadah di pulau terluar Sumenep tersebut tidak lagi berada dalam keterbatasan, serta azan dapat kembali berkumandang dengan layak.
Reporter: Inyoman
Editor: Amin
Publisher: Eka Putri












