Mahasiswi Cantik Ini Berhasil Kembangkan Tanaman Nilam Aceh

oleh -241 views
Silvia Monica Sahertian mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Teknobiologi Ubaya

Surabaya, Suara Indonesia-News.C0m – Silvia Monica Sahertian mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Teknobiologi Ubaya (Universitas Surabaya) membuat tugas akhir tentang perbanyak (multiplikasi) tunas tanaman pada Nilam Aceh.

Ekstrak tanaman ini akan menghasilkan minyak atsiri yang biasa dipakai untuk mengikat cairan pewangi (parfum). Penelitian ini dipublikasikan pada Kamis 3 September 2015 pukul 13.00 – 15.00 di Gedung International Village, Seminar Room, Universitas Surabaya Jalan Raya Kalirungkut Surabaya.

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang disebut minyak Nilam. Minyak Nilam banyak dipakai sebagai fiksatif (zat pengikat) pada industri parfum, kosmetik, dan farmasi karena memiliki sifat yang menguntungkan yaitu sukar tercuci, sukar menguap dibandingkan minyak atsiri lain dan dapat dicampur dengan minyak atsiri lain.

Silvia Monica Sahertian membuat tugas akhir mengenai Nilam karena “minyak nilam memiliki prospek bisnis yang cerah dengan harga jual yang tinggi” jelas perempuan 21 tahun.

Ada beberapa batasan yang menghambat budidaya nilam di Indonesia, yaitu perbanyakan tanaman secara konvensional dan serangan hama penyakit pada tanaman.

Permasalahan ini dapat diatasi dengan melakukan kultur jaringan tanaman pada nilam. Dalam kultur jaringan tanaman diperlukan eksplan yang steril, sehingga perlu dilakukan percobaan pendahuluan untuk menentukan teknik sterilisasi yang tepat untuk eksplan nodus nilam.

Selanjutnya dalam menentukan media yang cocok untuk multiplikasi tunas nilam digunakan BAP (Benzil Amino Purine) dan Kinetin sebagai zpt yang ditambahkan pada media MS. BAP dan Kinetin merupakan hormon sitokinin yang dapat meningkatkan pembelahan sel, proliferasi tunas, dan morfogenesis tunas.

Penelitian ini harus menggunakan ruang tertutup (terisolasi), tanaman Nilam ditanam dalam gelas kaca yang terdapat agar-agar (pengganti tanah) dan ditutup rapat dengan aluminium foil, penerangan menggunakan lampu neon led dan suhu udara dingin dengan menggunakan AC. Untuk perawatan agar-agar (pengganti tanah) di ganti setiap 2 bulan sekali agar tanaman tidak mati.

Di Indonesia, dikenal 3 jenis tanaman nilam yaitu Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth), Nilam Jawa (Pogostemonheyneanus Benth.) dan Nilam Sabun (Pogostemon hortensis Backer.). Jenis yang banyak dibudidayakan adalah nilam Aceh karena memiliki kadar minyak yang tinggi dengan kualitas baik (kadar minyak 2 – 2,5% dan PA > 30%), oleh sebab itu penelitian Silvia menggunakan Nilam Aceh.

Pada penelitian Silvia, multiplikasi tunas in vitro menggunakan media MS dengan penambahan Benzyl Amino Purin (BAP) sebesar 0.5 ppm menghasilkan rata-rata 20 tunas/eksplan nodus dengan tinggi 3.2 cm pada kultur 8 minggu.Penggunaan BAP dan Kinetin dengan konsentrasi lebih besar dari 1 ppm menyebabkan pembengkakan pada tunas dengan penampakan morfologi yang tidak normal.

Ekstraksi minyak atsiri dari daun in vitro umur kultur 3 minggu dilakukan menggunakan metode destilasi uap dan air. Kandungan minyak dari daun in vitro dianalisa menggunakan analisa kualitatif kromatografi lapis tipis (KLT) dan ditemukan pola yang sama dengan tanaman asalnya.

Membutuhkan waktu 8 bulan untuk penelitian ini, waktu yang tidak sedikit. Selama penelitian, kendala yang dihadapi saat mencari tanaman Nilam Aceh.

“Kesulitan mencari tanaman Nilam menghambat penelitian ini” terang Silvia Monica Sahertian.

Selain tanaman Nilam yang sulit ditemukan, banyak petani yang tak mau melayani pembelian dengan jumlah 100, karena minimal pembelian 1.000, dengan bantuan Wewin Tjiasmanto tanaman Nilam didapatkan Silvia dengan jumlah 100 di Bogor.

Silvia Monica S. berharap penelitian ini dapat memberikan informasi kepada khalayak mengenai teknik sterilisasi yang tepat untuk eksplan nodus nilam (Pogostemon cablin Benth. var. Sidikalang), jenis dan konsentrasi zpt yang sesuai untuk multiplikasi tunas Nilam. Agar bisa membantu bisnis Nilam lebih baik.

“Prospek kedepan untuk penelitian ini sangat bagus dan jika dilanjutkan bisa ke arah pembentukan suspensi sel tidak dalam bentuk daun melainkan kumpulan sel kalus medium padat dan suspensi sel meduim cair” terang Dr. Ir. Popy Hartatie Hardjo, M.Si selaku pembimbing I. (Adhi/Zaini).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *