Mahasiswa Prodi Arsitektur UM Surabaya Pamerkan Project Rari Sampah Plastik

oleh -10 views
Mahasiswa Prodi Arsitektur UM Surabaya Saat Memamerkan Project dari Sampah Plastik

Reporter : Adhi Wiyono
Surabaya, Suara Indonesia-News.Com – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Perhutanan mulai menerapkan kantong plastik berbayar. Tidak ada lagi kantong plastik gratis yang diberikan kepada masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional dan juga ritel modern seperti supermarket dan mini market.

Kebijakan tersebut diujicobakan mulai tanggal 21 Februari hingga 5 Juni 2016. Warga yang tetap menginginkan kantong plastik untuk membawa barang belanjaan mereka dikenai biaya Rp200 per kantong.

Kebijakan ini diharapkan akan merubah kebiasaan masyarakat yang lebih suka menggunakan kantong plastik ketika berbelanja dan sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk turut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan.

Merespon kebijakan tersebut, beberapa mahasiswa UMSurabaya prodi Arsitektur membuat sebuat project yang mereka beri nama Jangan Takut Sampah Plastik. Sebuah acara yang memamerkan hasil kreatifitas mahasiswa berupa jam dinding, aquarium, rak buku hingga beberapa macam hiasan dinding lainnya yang kesemuanya dibuat dari sampah plastik.

Selain pameran, dalam kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk mengingatkan pemerintah tentang regulasi plastik berbayar dengan menggunakan media manusia koin.

M. Nasir, dosen pendamping pameran menjelaskan bahwa acara pameran tersebut bertujuan untuk melengkapi kebjikan pemerintah tentang plastik berbayar. Kebijakan plastik berbayar tidaklah cukup untuk menurunkan kuantitas sampah plastik di Indonesia.

Pemerintah juga perlu mendorong masyarakat untuk menggunakan sampah plastik sebagai media kreatif untuk hiasan maupun yang lainnya. Apa yang dihasilkan oleh mahasiswa arsitektur ini menunjukkan bahwa sampah plastik mampu diolah menjadi barang hiasan yang mempunyai nilai estetika yang tinggi.

Selain kebijakan yang sudah diterapkan, pemerintah juga perlu menjelaskan secara detail terkait penggunaan dana 200 rupiah tersebut, mengingat sebelumnya plastic tersebut diberikan secara cuma-cuma.

Sukadiono, Rektor UMSurabaya menambahkan bahwa kebijakan plastik berbayar merupakan bentuk kesadaran bahwa bumi ini sudah terlalu tua untuk memikul sampah plastik yang mulai menggunung. Sampah plastik ini sulit diurai dan ini berbahaya bagi masa depan bumi. Kampus sebagai institusi moral juga perlu bersikap atas kondisi ini.

UMSurabaya sudah mulai menerapkan kebijakan untuk meminimalisir penggunaan sampah plastik dan kami sudah jauh jauh hari menerapkan hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *