Lima Loko Heritage Traniz Loko Tour Perhutani Macet Dalam Pengelolaan

Foto: Heritage Traniz Loko Tour yang di Kelola Perum Perhutani KPH Devisi Ragional Jawa Tengah Sejak Tahun 2016 lalu mengalami kelumpuhan yang disebabkan tidak ada Anggaran pengelolaan

BLORA, Selasa (19 September 2017) suaraindonesia-news.com – Heritage Traniz Loko Tour yang di Kelola Perum Perhutani KPH Devisi Ragional Jawa Tengah Sejak Tahun 2016 lalu mengalami kelumpuhan yang disebabkan tidak ada Anggaran pengelolaan.

“Anggaran yang ada di aset kosong sehingga loko tour tidak bisa berjalan sama sekali,” Kata agus Kusnandar, junior manager Bisnis KPH Cepu.

Pihaknya sangat menyayangkankan sekali melihat loko tour yang kurang terawat ini tidak dapat maksimal.

“Tapi sebenarnya loko tour ini masih bisa maksimal apabila ada perawatan,” tuturnya.

Mahalnya biaya operasional menyebabkan ketimpangan, diperkirakan satu loko tour kurang lebihnya 100 juta hanya biaya perawan saja, belum lagi mulai langkanya spare part ditambah rapuhnya onderdil loko tour.

Pasalnya tidak ada anggaran yang bisa diserap lagi selain membutuhkan donatur atau investasi.

Menyikapi hal tersebut, harus ada revitalisasi atau perawatan Loko Tour, ketika suaraindonesia-news.com ke garasi loko tour Tepatnya di Kelurahan Ngelo, kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.

“Loko Tour ini aset yang sangat mahal harganya dan mengandung nilai sejarah transportasi yang tinggi. Jangan sampai hanya tinggal kenangan. Karena ini buatan Jerman,” ucap Agus.

Pihak KPH perhutani Cepu akan berupaya untuk merevitalisasi keberadaan kereta buatan 1928 mf ini yang berjumlah Lima.

Agus panggilan akrabnya menerangkan, Operasionalnya memang mahal, semuanya masih asli buatan Jerman sehingga butuh perawatan dan perlakuan khusus agar bisa jalan.

Loko berjalan menggunakan bahan bakar kayu jati dan air yang menghasilkan uap panas untuk menggerakkan mesin lokomotif.

Baca Juga: Status Gunung Agung di Level Siaga

“Perlu beberapa kubik kayu jati untuk menjalankan kereta ini, dan harus dalam titik panas yang stabil agar jalannya bisa lancar,” jelas Agus.

Ia menjelaskan, bahwa sebenarnya di Perhutani KPH Cepu ada empat loko tour buatan Jerman dan satu buatan Belanda.

“Empat lokomotif tua itu bernama Tujuhbelas, Agustus, Maju dan Bahagia. Jaman dulu mau diberi nama Tujuhbelas, Agustus, Maju, Merdeka tidak ja,” kata dia.

Penikmat wisata loko tour ini kebanyakan turis mancanegara seperti Jerman, Belanda, Jepang, Australia dll.

Memang diakui untuk wisatawan lokal jarang yang naik karena biaya operasionalnya cukup mahal. Kalaupun ada wisatawan lokal, biasanya berkelompok kurang lebih 40 orang menggunakan gerbong wisata yang disediakan.

Terakhir kali kereta buatan Jerman ini jalan pada tahun lalu saat 2016 dan sampai sekarang manggrak Di KPH Perhutani.

“Semoga kami yang dibagian aset berharap banyak kepada pemerintah Pusat bisa membantu menstabilkan kondisi keterpurukan loko tour yang dikelola KHP Perhutani Cepu,” tukasnya.(Lukman)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here