Laskar No Plastik Gelar Webinar Online Bertajuk “Merdeka dari Sampah Plastik”

oleh -36 views
Para peserta Webinar online saat mengikuti kegiatan Laskar No Plastik yang bertajuk Merdeka dari sampah plastik, Jumat (28/08/2020).(Foto : Screenshot M. Hwbil Syah/SI).

SUMATERA UTARA, Jumat (28/08/2020) suaraindonesia-news.com – Peningkatan limbah plastik semakin signifikan, dan bisa membawa dampak pada kehidupan anak-anak, terutama yang bersinggungan dengan pengelolaan sampah, Yayasan PKPA melihat perlu penangan khusus dan memacu semangat anak untuk peduli dari dini. Satu diantaranya dengan menularkan pengetahuan anak-anak yang tergabung Laska No Plastik ke Sekolah-sekolah.

Ada lonjakan sampah Kota Medan dimana plastik sebagai penyumbang cukup besar dan tersebar di lingkungan secara luas, hal itu diungkapkan Nova Dwiyana dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan pada No Plastik Online Festival secara daring, Jumat (28/08).

Acara ini merupakan konsorsium proyek yang diinisiasi Yayasan PKPA bersama KKSP, P3MN, Bali Fokus dan Sokola yang didukungan dari TDH German.

Menurut Direktur Eksekutif PKPA Keumala Dewi, tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya limbah plastik dan mendorong keikutsertaan anak dan orang muda dalam kampanye pencegahan penggunaan produk berbahan plastik sekali pakai dan pengelolaan limbah plastik kemasan.

“PKPA mengimplementasikan Project No Plastik di 2 lokasi, Gg Maju 8 dan Gg Kompos yang sama-sama berada di Kecamatan Kuala Bekala dan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pemulung,” jelas Keumala.

Project No Plastik ini, tambah Kuemala, melahirkan sebuah komunitas yang diinisisi oleh anak-anak dan pemuda yang diberi nama Laskar No Plastik dengan 23 anggota inti yang rutin melakukan pelatihan regular untuk meningkatkan pengetahuan tentang konservasi lingkungan, terutama terkait upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan pemanfaatan limbah plastik di masyarakat.

“Laskar No Plastik, yang berasal dari masyarakat yang selama ini hidup dari pengelolaan sampah, juga telah melakukan sosialisasi ke lima sekolah di kota medan dan mengedukasi siswa-siswi di sekolah tersebut untuk ikut dalam upaya reduce, reuse dan recycle menggunakan media ular tangga raksasa,” tambahnya.

Di tengah pandemic Covid-19, Laskar No Plastik tetap melakukan sosialisai terkait upaya menjaga lingkungan melalui kompetisi debat online, IG live dan nonton bareng film dokudrama yang menceritakan dinamika yang dialami masyarakat selama memulung sampah dan peluang pembuatan ecobrick sebagai alternative mengurangi limbah plastik dengan daur ulang sampah yang dapat dikembangkan menjadi ecopreneurship skala komunitas.

“Saat ini Laskar No Plastik telah memanfaatkan ecobrick menjadi taman skala mini serta furniture berbentuk sofa dan meja. Pemanfaatan ecobrick ini akan terus dikembangkan dengan kerjasama bersama pemerintah daerah, sektor bisnis dan komunitas,” lanjut Keumala.

Maka, No Plastik Online Festival adalah pendekatan kreatif yang dilakukan untuk tetap mengapresiasi dan memberi wadah kepada anak-anak dalam menyampaikan aspirasi mereka dibidang pelestarian lingkungan dan pemanfaatan limbah dengan cara yang kreatif dan ramah anak di tengah wabah pandemi Covid-19.

No Plastik Online Festival adalah inovasi yang diinisiasi untuk menggantikan platform offline yang tidak mungkin dilakukan di masa pandemic Covid-19. Rangkaian mencakupi Webinar “Ayo jadi Jagoan No Plastik”; Lomba Video Ecobrick Creation dan Upcycling Fashion Design; Lomba Debat Online kategori SMP dan SMA; Screening dan Bedah Film Online “The Plastic”; Talkshow “Merdeka dari Sampah Plastik”.

“Semua Itu telah dilakukan sejak Juli 2020 dan diakhiri Talkshow online bertajuk “Merdeka dari Sampah Plastik” yang dihadiri oleh stakeholder potensial yaitu Pemerintah daerah, Sektor Bisnis, Media dan Komunitas yang fokus pada pemenuhan hak anak terhadap akses lingkungan yang bersih dan sehat,” pungkas Keumala.

Khairiah Lubis dari DAAI TV mengatakan perlu kepedulian bersama untuk memahami manfaat sampah dan bisa didaur ulang, bahkan bisa memberikan dampak ekonomi.

“Dari gerakan bersama DAAI TV dengan yayasan Budha TzuChi. Ada beberapa green point dan depo pengelolannya sampah yang bisa didaur ulang,” jelasnya.

Sri Wulan dari Laskar No Plastik mengatakan kepeduliannya terpancing karena sudah menyaksikan betapa sampah plastik bertambah dari hari-kehari.

“Karena itulah kami anak-anak yang dekat dengan sampah terpanggil dan mau meleburkan diri ke dalam Laskar No Plastik dan berupaya menggunakan kembali, atau mengolahnya menjadi ecobrick,” tutupnya.

Reporter : M. Habil Syah
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *