Kornas TRC PPA: 80 Persen Perceraian dan Pendaftar Hak Asuh Anak Dilakukan Orang Kaya

oleh -69 views
Kornas TRC PPA, Jeny Claudya Lumowa/Bunda Naumi.

SURABAYA, Minggu (15/11/2020) suaraindonesia-news.com – Fenomena kasus perceraian dan pendaftaran hak asuk anak di Indonesia 80 persen cendrung dilakukan oleh orang kaya.

Hal tersebut disampaikan koordinator nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak, Kornas TRC PPA, Jeny Claudya Lumowa.

“Saya kornas TRC PPA saja sampai geleng kepala melihat fenomena ini,” kata aktivis yang biasa disapa Bunda Naumi ini.

Aktivis Perempuan dan Anak ini juga menceritakan pengalamannya, bahwa ia pernah memiliki klien yang mengadu padanya. Baru malam resepsi pesta pernikahan saja kliennya sudah di tampar.

“Pertengkaran pemicu nya di anggap pesta terlalu mahal.
Padahal yang bayar keluarga perempuan,” ujarnya.

Berlanjut sang laki laki jarang pulang. Sampai suatu hari istri nya melaporkan pada suami nya kalau dia hamil, dan sang suami tidak ada respon.

“Si perempuan bukan tergolong miskin, dia juga seorang pekerja profesional dibidang kesehatan.
Sampai melahir kan pun sang lelaki tak datang, mau datang pun harus dengan ibu nya. Lucu ya ada ada saja,” tutur Naumi.

Lanjut Naumi, kemana pun istri pergi di buntuti. Kenapa harus melakukan hal itu. Biasanya kata Naumi, jika ada yang berbuat seperti itu karena takut dengan bayangan nya sendiri.

“Sang ibu melapor pada saya.
Saya pun melakukan pendampingan sesuai SOP kerja dan tupoksi kami. Ibu punya hak menjemput anak nya apalagi masih umur 3,6 bulan saat itu,” terang Naumi.

Naumi menceritakan jika saat itu pihaknya, dimaki habis di tuduh macam-macam.

“Lucu ya, enak ya laki kayak gitu. Setelah anak lahir mau ambil begitu saja dengan memakai cara atau mengadalkan penegak hukum. Lucu nya sang ibu di paksa tanda tangan penyerahan anak, aneh nya kok bisa dikantor penegak hukum,” beber Naumi.

Miris nya, lanjut Naumi, ia malah dilaporkan di anggap masuk rumah orang tanpa ijin.

“Untung kami menyimpan rekaman asli, penegak hukum akan tau siapa yang teriak-teriak histeris dan sempat mencakar tangan klien kami,” tutur Naumi.

“Dunia makin tua, anak jadi rebutan. Tapi lucu nya kok bisa baru ada kasus seperti ini,” ujar aktivis asli Surabaya ini.

“Mana peran pemerintah yang membindangi perlindungan anak dan perempuan. Sampai kapan seperti ini,” tukas Naumi.(Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *