Komnas PA Apresiasi Kinerja Polres Tobasa, Dalam Menangani Dugaan Penganiayaan Terhadap Putri Kandungnya

oleh -84 views
Arist Merdeka Sirait Ketua Umum KOMNAS Perlindungan Anak saat memberikan keterangan persnya kepada wartawan.(Poto: M. Habil Syah/SI)

DELI SERDANG, Rabu (15/01/2020) suaraindonesia-news.com – Maraknya kasus-kasus pelangaran hak anak yang tidak dapat ditoleransi lagi di Kabupaten Tobasa, mulai dari kasus penelantaran, perebutan pengasuhan anak akibat perceraian, eksploitasi anak untuk alternatif ekonomi keluarga, kekerasan terhadap anak berupa kekerasan fisik dan seksual serta kasus anak terpapar dengan HIV dan AIDS, korban bahaya narkoba dan pornografi, serta meningkatnya anak kecanduan Gawai dan Game Online.

Untuk itu, Komnas Perlindungan Anak mengajak Pemda Kabupaten Tobasa untuk segera mendeklarasikan Gerakan Perlindungan Anak berbasis keluarga dan kampung lintas profesi masyarakat dan lintas Forum Komunikasi Pimpinan daerah (Forkompimda) Tobasa.

Seperti halnya yang diakui HS (Pelaku Penganiayaan Putri Kandungnya, red) yang disampaikan kepada penyidik Unit PPA, bahwa peristiwa kekerasan fisik dan psikis yang diderita AS (9) (Korban, red), berawal dari hal yang sangat sepele dan umum terjadi pada kehidupan anak-anak, yakni pada Minggu (12/01) korban AS dituduh melakukan pemutusan kabel alat memasak. Tanpa bisa mengontrol emosi HS ayah kandung korban kemudian melakulan pemukulan pada wajah AS yang mengakibatkan wajah korban lebam-lebam. Tak berhenti disitu, pelaku juga menendang korban dengan kaki.

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS PA) Indonesia, Arist Merdeka Sirait ketika melakukan kunjungan kerja di Deli Serdang. Rabu (15/01) mengatakan kepada wartawan, bahwa penganiayaan yang dilakukan HS, warga Desa Patane V Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir (TOBASA) terhadap putri kandungnya AS hingga mengakibatkan lebam disekitar wajahnya merupakan tindak pidana kekerasan fisik dan psikis.

“Dengan demikian, bersesuaian dengan pasal 76E UU RI Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi setiap orang dilarang menempatkan membiarkan melakukan menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak HS (42) dapat diancam dengan pidana maksimal 15 tahun penjara,” terangnya.

Lebih lanjut Arist mengatakan, mengingat atas kekerasan fisik yang dialami AS, dimana pelakunya adalah orangtua kandung korban sendiri, maka pidana pokoknya dapat ditambahkan seperti tiga dari pidana pokoknya menjadi kurungan penjara maksimal 20 tahun penjara.

“Atas kerja cepat Tim Resmob Sat Reskrimum Unit PPA Polres Polres Tobasa dan sikap tegasnya yang mengatakan bahwa tidak ada toleransi dan kata damai terhadap segala bentuk Kekerasan yang diikuti dengan penganiayaan terhadap anak, KOMNAS Perlindungan Anak sebagai lembaga/institusi indepeden yang diberikan tugas dan fungsi untuk melindungi anak di Indonesia memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Satreskrimum Unit PPA Polres Tobasa,” tukas Arist.

Untuk niat baik ini, Komnas Perlindungan Anak akan segera melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Tobasa untuk membicara Aksi ini kepada pimpinan daerah Tobasa, wakil rakyat DPRD Tobasa dan aparatur penegak hukum, tokoh adat dan gereja serta Forkompimda di Tobasa.

Reporter: M. Habil Syah
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *