BALIKPAPAN, Kamis, (13/2) suaraindonesia-new.com – Komisi II DPRD Balikpapan menduga ada permainan dibalik kelangkaan gas subsidi kemasan 3 kilogram yang selama ini meresahkan masyarakat Kota Balikpapan.
Dugaan ini terkuak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan oleh Komisi II bersama PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Dinas Perdagangan dan LSM Lidik Pro di Ruang Rapat Gedung DPRD Balikpapan, Rabu, (12/2) kemarin.
Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, mengatakan RDP ini menindaklanjuti aduan LSM Lidik Pro terkait persoalan kelangkaan gas elipiji 3 kilogram yang terjadi di masyarakat.
Adi mengungkapkan, dari hasil kesimpulan RDP tersebut mengindikasikan ada permainan oleh oknum pangkalan yang menyebabkan kelangkaan gas subsidi 3 kilogram di Balikpapan.
“Kami menduga ada indikasi permainan di tingkat pangkalan, ini harus segera di clear-kan,” ujarnya.
Menurut Adi, indikasi permainan ini dapat dilakukan melalui pendistribusian yang tidak maksimal oleh oknum pangkalan. Sehingga menyebabkan kelangkaan. Akibatnya, para pengecer pun menjual di atas harga yang sudah ditetapkan.
Dalam upaya menyikapi persoalan itu, Komisi II mendesak Pertamina Patra Niaga dengan tiga hal. Diantaranya, meningkatkan pengawasan di tingkat pengecer, melaksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke seluruh pangkalan dan hasilnya dilaporkan ke Komisi II.
Komisi II juga mendesak Pertamina Patra Niaga untuk mensinkronkan data penerima elpiji subsidi 3 kilogram dengan data yang dimiliki pemerintah kota agar penyalurannnya tepat sasaran.
Menurut Adi, penerima gas elpiji subsidi terdapat beberapa sasaran. Diantaranya, petani, nelayan, pelaku usaha mikro dan rumah tangga
“Dari laporan data yang kami terima dalam RDP tadi, masih belum tertata dengan baik, terutama yang untuk rumah tangga. Jadi, kami merekomendasikan Pertamina Patra Niaga untuk segera mensinkronkan datanya dengan data pemerintah kota,” jelasnya.
“Selama ini kami di Komisi II tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan apapun terkait persoalan gas elpiji ini, sehingga perkembangannya kami tidak tahu, tiba-tiba ada muncul masalah kelangkaan gas elpiji,” imbuhnya.
Sekretaris Komisi II, Taufik Qul Rahman, menambahkan bahwa di Kota Balikpapan tidak pernah terjadi kelangkaan elpiji 3 kilogram, karena penyaluran kuota dari PT Pertamina Patra Niaga kepada mitranya, yaitu agen-agen yang ada tidak pernah berkurang.
Taufik mengatakan, seluruh agen elpiji 3 kilogram yang ada di Balikpapan semuanya tersalurkan dengan baik dari Pertamina Patra Niaga sesuai dengan kuotanya masing-masing.
Taufik menjelaskan, berdasarkan data dari hasil RDP bersama pihak Pertamina Patra Niaga, di Kota Balikpapan terdapat 11 agen elpiji melon dan terdapat 794 pangkalan.
Disebutkan bahwa kuota elpiji subsidi di Kota Balikpapan sebanyak 6.416.000 tabung per tahun selama tahun 2024 dengan kuota penyaluran rata-rata 551.166 tabung per bulan kepada setiap agen.
Sedangkan untuk pangkalan yang berjumlah 794 di Kota Balikpapan rata-rata setiap pangkalan menerima sebanyak 694 tabung dari agen dalam satu bulan.
“Intinya Kota Balikpapan tidak pernah kehabisan kuota atau kelangkaan gas elpiji 3 kilogram. Karena penyaluran dari Patra Niaga yang diberikan kepada mitranya 11 agen sesuai dengan kuotanya masing-masing,” ungkapnya.
Taufik juga menduga, kelangkaan gas melon yang terjadi di Balikpapan ada indikasi permainan yang dilakukan oleh oknum pangkalan dalam penyalurannya kepada masyarakat.
Dengan demikian, Taufik mendesak Pertamina Patra Niaga melalui agen-agennya untuk segera melakukan pengawasan lebih maksimal di seluruh pangkalan dengan melibatkan sejumlah pihak, baik LSM, Ormas maupun masyarakat.
“Agen-agen ini sudah menyalurkan sesuai dengan kuotanya masing-masing kepada setiap pangkalan dengan rata-rata 694 tabung setiap pangkalan dalam satu bulan. Tapi oknum di pangkalan ini yang diduga ada indikasi bermain dalam pendistribusiannya kepada masyarakat, baik kepada pengecer maupun yang membeli langsung ke pangkalan,” ujarnya.
“Kita menduga ada penimbunan yang dilakukan oleh pangkalan, dan terdapat permainan harga jual yang lebih tinggi kepada pengecer. Sehingga oknum pengecer ini juga menjual jauh lebih tinggi dari harga normal hingga mencapai Rp 40-50 ribu per tabung,” tutur Taufik lebih lanjut.
Untuk menyikapi persoalan itu, Taufik mengatakan pihaknya juga mendesak Pertamina Patra Niaga untuk segera membentuk Tim Satgas Khusus di masyarakat.
“Untuk membentuk Tim Satgas ini kita minta pihak Patra Niaga bisa menggunakan dana CSR. Jika hal itu benar-benar dilakukan, kami yakin tidak butuh waktu lama persoalan kelangkaan gas melon ini pasti clear, harganya pun bisa kembali normal seperti biasa,” harapnya.
Sementara itu, perwakilan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Hendry Eko, menegaskan bahwa tidak ada kelangkaan elpiji yang terjadi di Kota Balikpapan.
“Tidak ada kelangkaan, semuanya normal-normal aja. Tidak ada sesuatu yang berbeda dari yang kami lakukan dari tahun ke tahun,” ujarnya.












