Ketua Umum PP KORI : Keselamatan Pemain Harus Menjadi Prioritas Pada Liga 1 Musim Depan

oleh -121 views
dr Teuku Ona Arif, Ketua Umum. Perhimpunan Pembinaan Kesehatan Olahraga Indonesia (PP KORI) Aceh.

ACEH, Kamis (19/12/2019) suaraindonesia-news.com – Untuk pergelaran liga 1 musim depan keselamatan pemain harus menjadi fokus utama operator penyelenggara liga.

Hal itu di sampaikan Ketua Umum Perhimpunan Pembinaan Kesehatan Olahraga Indonesia (PP KORI) Aceh dr.Teuku Ona Arif kepada media. Kamis (19/12) di Banda Aceh.

Menurut dr Teuku Ona Arief sapaan akrab dokter O mengungkapkan bahwa Sepakbola memang olahraga yang memaksa tubuh untuk bekerja hingga mencapai batas ambang kapasitas kemampuan tubuh. Dalam satu laga, tak jarang pula kedua tim sama-sama ngotot untuk mengejar kemenangan, sehingga timbul benturan-benturan ringan, atau benturan berat yang menjurus pada bahaya.

Masalahnya, beberapa alat pengamanan yang boleh dikenakan pemain tentu tak menjamin 100% keselamatan. Alat-alat tersebut hanya sedikit melindungi bagian tubuh tertentu yang paling rawan terkena bahaya.

“Kita masih ingat beberapa tahun belakangan liga 1 memakan korban seperti Seorang pemain bernama Akli Fairus meninggal dunia setelah berbenturan dengan kiper PSAP Sigli, Agus Rochman, dalam pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia. Akli sempat dilarikan ke rumah sakit untuk menerima perawatan medis. Sayangnya, setelah enam hari dirawat, ia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit,” bebernya.

Lanjut dia, pemain Persiraja Banda Aceh berumur 27 tahun itu hanya satu nama dari beberapa pemain sepakbola yang hidupnya berakhir di lapangan hijau dalam satu dekade terakhir. Eri Irianto (Persebaya Surabaya), Sekou Camara (PBR) dan yang terakhir adalah legenda masyarakat lamongan Chairul Huda adalah beberapa nama lain yang lebih dulu menghembuskan nafas terakhir ketika sedang bertanding.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kata Dokter O, FIFA sebagai induk sepak bola dunia lalu membuat standar medis yang harus disediakan pada setiap pertandingan sepakbola. Yang pertama adalah standar medis untuk tenaga kesehatan, baik yang disiapkan oleh masing-masing klub maupun yang disediakan oleh penyelenggara pertandingan.

Pada dasarnya, setiap klub minimal wajib memiliki seorang dokter dan seorang fisioterapis dengan standar yang sudah ditetapkan oleh FIFA.

“Penting untuk diingat bahwa tenaga medis adalah satu-satunya orang yang memiliki hak untuk melakukan penanganan medis bagi pemain ataupun ofisial yang mengalami cedera atau mengalami gangguan kesehatan,” ujar nya.

Pihak penyelenggara pertandingan, atau biasanya tim kandang, juga harus menyediakan satu orang dokter lain sebagai dokter pertandingan. Ia akan bertindak ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga sehingga harus segera dilakukan tindakan.

Serta tenaga medis lain yang selalu siap membawa tandu dan peralatan P3K. Mereka juga harus selalu siaga untuk memberikan bantuan kepada tim dokter saat menangani pemain yang cedera. Dari segi peralatan, FIFA sudah dengan sangat jelas menginstruksikan alat-alat medis yang harus disiapkan oleh tim medis pertandingan maupun tim dokter tim.

FIFA menyebut peralatan ini dalam satu tas yang disebut FIFA Medical Emergency Bag (FMEB). Beberapa peralatan yang harus tersedia di dalam tas ini di antaranya adalah alat infus, ventilation bag, blood pressure monitor, dan beberapa alat-alat kesehatan lainnya.

“Didalam stadion sepakbola  ambulan harus sudah menjadi kendaraan yang harus selalu siap mengantarkan mereka yang mengalami masalah kesehatan ke rumah sakit terdekat,” tutur nya.

Pertanyaannya kemudian adalah berapa persen dari prosedur FIFA ini yang telah benar-benar dijalani di Indonesia? Seberapa besar peran PSSI sebagai induk tertinggi sepak bola indonesia dalam menjalankan fungsi pengawasan untuk tidak memberikan izin pertandingan yang tidak sesuai prosedur?.

Selama ini yang bertindak sebagai  salah satu tim dokter persiraja banda aceh sudah berupaya mengatur pola kesehatan pemain seperti menjaga kebugaran pemain, penanganan cepat terhadap cedera.

Ia berharap, pemerintah aceh juga memperhatikan aspek medis dalam menyambut pergelaran liga 1 musim depan, karena kondisi pertandingan nantinya sungguhlah sangat berbeda dengan liga 2 musim lalu.

“Aspek keselamatan pemain harus menjadi yang utama karena tidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa,” pungkas Dokter O.

Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *