ACEH TIMUR, Sabtu (03/01) suaraindonesia-news.com – Upaya perlindungan dan pemulihan Cagar Budaya (CB) serta Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang terdampak banjir besar Sumatera pada 26 November 2025 terus dilakukan. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kegiatan Meuseuraya atau gotong royong pembersihan yang dilaksanakan di 10 lokasi dengan total 20 objek cagar budaya dan ODCB yang tersebar di Kabupaten Aceh Timur.
Kegiatan Meuseuraya merupakan program Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam rangka fasilitasi Kebudayaan Darurat Bencana Tahun Anggaran 2025. Pelaksanaan kegiatan di daerah dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur serta didampingi secara teknis oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I.
Pelaksanaan Meuseuraya melibatkan komunitas kebudayaan, pegiat budaya dan sejarah, seniman, tokoh masyarakat, aparat desa, masyarakat setempat, serta relawan kebencanaan. Kegiatan ini menjadi bentuk penguatan partisipasi publik dalam pelindungan warisan budaya dan dilaksanakan selama dua hari pada 28 hingga 31 Desember 2025.
Program Meuseuraya difokuskan pada pembersihan material lumpur, sampah, serta sisa banjir yang menutupi area situs, bangunan, dan lingkungan cagar budaya. Kegiatan tersebut merupakan penanganan darurat untuk mencegah terjadinya kerusakan lanjutan, sebelum dilakukan rehabilitasi, rekonstruksi, dan penanganan teknis lanjutan terhadap cagar budaya dan ODCB yang terdampak.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I, Piet Rusdi, dalam arahannya menyampaikan bahwa kegiatan Meuseuraya merupakan aksi nyata dan bentuk dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui BPK Wilayah I terhadap wilayah Aceh yang terdampak bencana banjir.

“Meuseuraya ini tidak hanya menjadi kegiatan pembersihan fisik, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam situasi darurat kebudayaan. Ini adalah wujud komitmen Kementerian Kebudayaan RI dalam melindungi, menyelamatkan, dan memulihkan warisan budaya Aceh agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujar Piet Rusdi.
Ia menegaskan bahwa penanganan cagar budaya pascabencana harus dilakukan secara kolaboratif, terukur, dan berbasis kaidah pelestarian dengan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat sebagai garda terdepan pelindungan kebudayaan.
“Aceh memiliki kekayaan budaya yang sangat penting sehingga perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya dalam kondisi bencana alam,” tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur, Bustami, menjelaskan bahwa program Meuseuraya merupakan amanah dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah.
“Program ini dikemas dalam bentuk gotong royong di lokasi-lokasi situs sejarah yang terdampak banjir di Aceh Timur. Tujuannya agar situs-situs sejarah tetap terjaga keutuhannya serta dilakukan pemulihan dan rekonstruksi pada situs yang membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Bustami.
Ia menuturkan bahwa sinergi antara Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya penyelamatan cagar budaya pascabencana.
“Cagar budaya merupakan identitas dan aset penting masyarakat Aceh Timur yang harus dijaga bersama, terutama dalam situasi darurat bencana,” tuturnya.
Seluruh rangkaian kegiatan Meuseuraya dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian terhadap nilai penting cagar budaya serta berdasarkan arahan teknis dan pendampingan langsung dari BPK Wilayah I. Dokumentasi kegiatan dilakukan sebagai bagian dari pertanggungjawaban kegiatan sekaligus sebagai pendukung data untuk penanganan lanjutan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kondisi cagar budaya dan ODCB di Kabupaten Aceh Timur dapat segera pulih, kehidupan kebudayaan masyarakat kembali bangkit, serta warisan budaya tetap lestari meskipun menghadapi tantangan bencana alam.
Pantauan suaraindonesia-news.com di sejumlah lokasi yang menjadi objek program Meuseuraya menunjukkan kegiatan gotong royong berjalan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat setempat.
Reporter: Masri
Editor: Amin
Publisher: Eka Putri












