Kembali Geruduk Istana, Mendesak Ganti Rezim Dan Bubarkan Kabinet

Jakarta, Suara Indonesia-News.Com – Aliansi Tarik Mandat Dan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia yang di dalamnya ada beberapa organisasi yaitu, (IMM, GPII, PMKRI, APKLI, GNRM, SNPI, BOMM, PAPERNAS, PENA DKI, LSC, Perisai Mandiri) tepatnya pada hari ini Jum’at 18 September 2015 Mahasiswa, Pemuda, Pedagang Kaki lima dan buruh kembali mengepung istana.

Aksi turun kejalan secara konsisten yang nyaris setiap minggu dilakukan ini terus mendapatkan simpati dan apresiasi banyak kalangan indikasi tersebut dapat dilihat bahwa setiap kali aksi jumlah massa selalu bertambah hal ini mengisyaratkan bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap rezim pencitraan jokowi-jk makin marak. Pemerintahan Jokowi-jk dianggap gagal memimpin bangsa dan mengingkari akan janji-janji kampanyenya.

Beni Pramula Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DPP IMM yang sekaligus Presidium Aliansi Tarik Mandat mengatakan, Aksi kami ini adalah kelanjutan dari aksi-aksi kami sebelumnya yang secara konsisten kami lakukan hampir setiap minggu dan kami tidak akan berhenti hingga adanya perubahan mendasar dinegeri ini. Juga dari aliansi tarik mandat dan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia dengan berbagai elemen pemuda, mahasiswa dan masyarakat lagi lagi turun ke jalan menyeru kepada rezim jokowi untuk segera turun dari kursi jabatannya, karena sudah gagal mensejahterakan Rakyat dan telah melalui diskusi serta kajian yang panjang menilai jokowi-JK sudah tidak mampu lagi memimpin indonesia.

“Aksi kami ini adalah kelanjutan dari aksi sebelumnya, yang secara konsisten kami lakukan hampir setiap minggu dan kami tidak akan berhenti hingga adanya perubahan mendasar di negeri ini, sehingga pemerintahan Jokowi-JK segera turun dari kursinya, karena kami anggap tidak mampu lagi memimpin Indonesia,”kata Beni.

Ditambahkan, Masalah mendasar bangsa kita hari ini adalah kepemimpinan nasional yang lemah, kehilangan orientasi dan tidak mampu memenejerial kepemimpinan dibawahnya. Akibat dari sentimen ekonomi mengenai pelemahan rupiah yang tidak mampu diantipasi oleh pemerintah dengan strategi konkrit dalam mengatasi problem ekonomi bangsa. Sebagaimana kita tahu bahwa akhir pekan ini menurut data yang kami dapatkan bahwa angka kemiskinan semakin meningkat.

“Karena rilis data kemiskinan kemarin, pagi ini rupiah paling lemah, sedangkan yang lain menguat seperti yen Jepang, dolar Hong Kong, dolar Singapura.”ujarnya.

Beni menjelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin periode Maret 2015 sebanyak 28,59 juta jiwa baik di perkotaan maupun di pedesaan. Jika dibanding periode September 2014, angka penduduk miskin tersebut bertambah 860 ribu juwa. Pada Maret 2014 lalu, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,73 juta orang. Dari  meningkatnya angka kemiskinan, membuat masyarakat menahan niat untuk berbelanja sehingga mengurangi nilai transaksi. Dampaknya, peningkatan angka kemiskinan tersebut menjadi sentimen negatif bagi para pelaku pasar dan pelaku usaha. Jelas Beni.

“Hari ini Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,2 persen ke level 14.442 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pukul 09.55 WIB. Sejak pagi hingga siang, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14.404 per dolar AS hingga 14.452 per dolar AS. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah tergerus 0,5 persen menjadi 14.442 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya yang berada di level 14.371 per dolar AS,”jelasnya.

Ia menerangkan, bahwa Kondisi bangsa kita hari ini sesungguhnya telah mngalami krisi multidimensi namun pemerintah terkesan menutup-nutupi dan seolah tidak tahu dan tidak terjadi apa-apa padahal situasi sangat genting  bagaimana realita yang kita dapatkan di lapangan bahwa ratusan pabrik dari segala industri di seluruh indonesia berlomba-lomba mem-PHK buruh/karyawannya akibat tidak mampu membayar gajinya akibat sentimen ekonomi yang semakin mencekik.

Ia juga menegaskan, tidak ada toleransi atau kompromi lagi bagi rezim Jokowi-Jk untuk tidak mau turun dari tatanan jabatannya, karena bagi Aliansi Tarik Mandat Dan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia ini yang tadi di sampaikan dalam orasinya yang bergantian bahwa tidak ada gunanya lagi kita bernegara jikalau bernegara/pemerintah tidak mampu lagi menggunakan kekuasaan untuk kesejahteraan dan kemakmuran. Ini terjadi karena Jokowi tunduk pada sistem ekonomi liberal. Bukan sistem ekonomi yang sesuai dengan pancasila dan UUD 1945.

Selain ekonomi, Jokowi-JK juga gagal membangun negara Indonesia sebagai negara hukum. Hukum tajam kebawah tumpul keatas. Tunduk terhadap kekuasaan dan elit politik. KPK semakin lemah, Kewenangan Polri mengusut kasus korupsi juga dilemahkan. Jokowi JK tak memiliki leadership yang kuat, negara Indonesia bukan lagi negara autopilot, tapi negara multipilot. Presiden Jokowi tak mampu melepaskan diri dari kepentingan elit politik dan korporat. Inilah hasil dari politik liberal, yang tak sesuai dengan pancasila dan UUD 1945.

Ini beberapa tuntutan dari Aliansi Tarik Mandat dan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia kepada Jokowi-Jk:

  1. Turunkan Jokowi-Jk. Bubarkan Kabinet yang tidak becus mengurus Negara.
  2. Segera Reformasi Jilid II.
  3. Tolak sistem Liberal, turunkan harga, hentikan PHK, dan Luruskan Kiblat Bangsa, Yaitu UUD 1945 dan Pancasila.

Aliansi Tarik Mandat mengajak seluruh Pemuda, Mahasiswa, Akademisi, Kaum Intelektual dan seluruh Rakyat Indonesia apapun latar belakangnya untuk bersama-sama melawan kekuasaan fasis hari ini yang tidak berpihak kepada rakyat. “jika segudang orasi tidak mampu lagi mendengar kata-kata kami, maka batu dan kaya lebih terhormat untuk rezim yang tidak berkeadilan.(Hasan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here