Kasus Kekerasan Anak Marak, Kornas TRC PPA : Waspadai Orang di Sekitar Kita

oleh -91 views
Kornas TRC PPA, Jeny Claudya Lumowa/Bunda Naumi.

SURABAYA, Jumat (11/6/2021) suaraindonesia-news.com – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Jawa Timur satu tahun terakhir, telah mendapat atensi dari beberapa kalangan, khususnya kasus kekerasan sexual terhadap anak yang dilakukan oleh orang – orang dekatnya.

Hal ini mendapat perhatian serius Koordinator Nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) sosok keibuan Jeny Claudya Lumowa.

Kepada awak media, aktivis yang akrab di sapa Bunda Naumi ini menyampaikan kekesalannya dan mengecam keras oknum yang tega melakukan tindakan kekerasan terhadap anak. Justru pelaku dominan orang – orang dekatnya, yakni paman, kakek, ayah tiri, tetangga dekat dan lainnya.

“Kejadian demi kejadian selama ini merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan, dan tindakan keji terhadap anak, ini masuk dalam “extra ordinary crime” (kejahatan luar biasa),” tutur Binda Naumi.

Ia berharap, kasus ini tidak dipolitisasi untuk kepentingan oknum tertentu dengan mempersulit korban agar kasusnya tak jalan.

“Kasus anak butuh perhatian khusus dan keseriusan dalam penanganannya,” ucap Bunda Naumi.

Lanju Bunda Naumi, tidak dipungkiri tantangan dalam pencegahan tindak kekerasan terhadap anak di masyarakat, adalah kerangka hukum yang masih gagal melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak, proses hukum diam di tempat, penegakannya sering tidak maksimal.

“Begitu juga dengan sikap sosial dan praktik budaya memaafkan kekerasan, kurangnya pengetahuan, data, dan pemahaman serta akar penyebab kekerasan terhadap anak, selain juga sumber dana yang dialokasikan tidak memadai,” beber Bunda Naumi.

Salah satu upaya, pemerintah bersama masyarakat, dunia usaha, dan media massa, termasuk organisasi terkait anak melakukan berbagai upaya dalam membangun pemahaman yang memperhatikan kepentingan terbaik anak, dengan memastikan anak berada dalam lingkungan yang baik, aman dan mendapatkan perlindungan dari
tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya, namun semua belum maksimal.

“Saya mengajak TRC PPA untuk tetap semangat, tingkatkan “Preventif dan Edukatif”, mengingat kejadian di masyarakat yang dominan di sebabkan karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) sehingga mudahnya terperangkap dalam bujuk rayu yang menyesatkan,” tutur perempuan kelahiran Surabaya ini.

“Masalah ini, butuh kerjasama seluruh elemen masyarakat, terutama keluarga untuk memberikan pengawasan extra terhadap perilaku dan perkembangan anak – anak,” tambahnya.

Bunda Naumi juga menyampaikan, agar menjadikan keluarga sebagai sumber inspirasi dan spirit yang selalu hidup. Hal ini dikarenakan anak belajar banyak dari lingkungan terdekat tentang banyak hal.

“Mereka dapat melakukan banyak hal karena mendapat dukungan inspirasi dari lingkungan terdekat. Aktivitas hidup yang melimpah berkat dukungan keluarga inilah yang senantisa menjadi obor bagi anak untuk tumbuh kembang,” lanjutnya.

Ditempat terpisah, Bagus AB dewan pengawas (Dewas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) sangat mengapresiasi kinerja jajaran kepolisian yang cukup kompak dan cekatan dalam penanganan kasus kejahatan terhadap anak.

“Harapan kedepan TRC PPA dapat meningkatkan kemitraan dengan jajaran kepolisian, tidak terfokus pada pendampingan dan penanganan kasus saja, selain pengawasan, meningkatkan “Preventif dan Edukatif” di kalangan masyarakat luas merupakan langkah jitu guna meminimalisir tindak kenjahatan terhadap anak,” pungkas Bagus.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *