Kadistannak Abdya : Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani, Pemerintah Harus Naikkan Harga Gabah

55
×

Kadistannak Abdya : Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani, Pemerintah Harus Naikkan Harga Gabah

Sebarkan artikel ini
pak maswadi
Kadistannak Abdya, Maswadi, SP, M, Pd

Reporter : Nazli MD

Blangpidie, Abdya, suaraindonesia-news.com – Peningkatan produksi padi melimpah belum tentu menjawab kemakmuran terhadap masyarakat petani bila harga gabah dipasaran masih rendah. Untuk itu pemerintah diharapkan dapat meningkatkan harga gabah.

Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Kadistannak) Aceh Barat Daya (Abdya), Maswadi, SP.MPd kepala sejumlah awak media menanggapi tidak adanya peningkatan harga gabah dipasaran.

Menurutnya, berbicara peningkatan produksi memang mudah, terutama dengan adanya teknologi serta penyediaan sarana dan prasarana penunjang pertanian untuk meningkatkan produksi padi semakin membaik,”Namun, bila harga gabah tidak sesuai malah rendah petani belum makmur,”sebutnya.

Dijelaskannya, sarana dan prasarana yang dimaksud tersebut yakni seperti tersedianya benih unggul, pupuk dan obat-obatan kebutuhan yang dapat mendongkrak hasil produksi saat panen menjadi meningkat, ditambah lagi ketersediaan air cukup serta alsintan pasca panen. Sudah barang tentu dapat meningkatkan hasil produksi petani, imbuhnya.

Meski demikian, menjelang masa panen raya, harga gabah kering masih tidak stabil yang bisa merugikan petani, meskipun pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp. 3.700 per kilogram.“Seharusnya pemerintah meningkatkan harga gabah,”tegasnya.

Peningkatan harga gabah, lanjutnya, dapat menjawab kemakmuran petani. Apalagi, petani di semua daerah di Indonesia ini sangat mengharapakan harga gabah naik menjadi Rp. 5.500 atau harga Rp. 6.000 per kilogram.

”Jika ingin mensejahterakan petani, pemerintah bersama dengan Bulog selaku mitra kerja bidang pangan seharusnya melakukan subsidi harga beli gabah,”harapnya.

Disebutkannya, mensubsidi harga gabah dapat mencegah petani menjual gabah pada pihak tengkulak, yang jelas sedikit lebih bermain harga dibandingkan Bulog, akibatnya petani enggan menjual gabahnya kepada Bulog.

”Pemerintah dengan bulog harus melakukan subsidi harga beli gabah kering panen itu dengan harga paling rendah Rp. 6000 per kilogram. Supaya petani mendapatkan untung,”katanya.

Pada kesempatan itu, ia menyebutkan dirinya berkeyakinan, bila pemerintah bersama Bulog melaksanakan kebijakan  itu, sudah dipastikan para petani akan berbondong-bondong melakukan kegiatan agribisnis di sub-sektor tanaman pangan, bahkan petani akan melakukan tanam padi satu tahun sebanyak 1 sampai 3 kali panen.

“Jika sistim tersebut diterapkan, baru namanya Indonesia bisa. Mandiri pangan tidak perlu inpor beras dari luar dan baru terjawab kemakmuran masyarakat petani sawah di Indonesia,”cetus Maswadi.

Maswadi juga menilai, dalam meningkatkan kesejahteraan petani, memang tidak cukup dengan subsidi harga gabah saja, namun akan lebih baik jika pemerintah juga membangun pabrik pengilingan modern yang berstandar nasional di semua peloso, supaya para pedagang beras menjadi lebih mudah menjaga kualitas beras tetap terjamin.

“Kalau ini dilakukan Insya Allah, saya yakin Indonesia dalam peningkatan perekonomian sektor pertanian padi sawah akan lebih maju yang otomatis tingkat pengangguran dengan sendirinya akan berkurang karena sudah berusaha menanam padi untuk ketahanan pangan,”sebut Maswadi optimis.