Kabupaten Grobogan Tanpa Wakil Bupati

Setiawan Budiyoko

Reporter : Muhyidin

Grobogan, suaraindonesia-news.com – Sejak dilantik pada hari Senin (21/3/2016) Bupati Sri Sumarni SH, MM mengurus pemerintahannya sendirian, tanpa didampingi seorang wakil Bupati, hal ini terjadi karena pasangan Bu Sri bapak Edy Maryono SH, MM lebih dulu meninggal dunia sebelum prosesi pelantikan dilaksanakan.

Kekosongan Wakil Bupati ini sempat menjadi gunjingan yang ramai dikalangan partai-partai pengusung (PDIP, PKB, PAN, dan Hanura) obrolan muncul terkait dengan siapa kira-kira yang akan menggantikan posisi Edy Maryono, dan tak mau kalah masyarakat juga sangat responsif menanggapi persoalan ini, dan media sosial seperti Facebook menjadi penyaluran aspirasi, pandangan dan pendapat serta keinginannya.

Untuk menggali informasi dan tanggapan mengenai persoalan ini suaraindonesia-news.com Minggu (26/6/2016) mewawancarai kalangan pemuda yang cukup kompeten dalam hal ini, mereka adalah Setiawan Widiyoko dan Wasekjend DPP Hanura Kristiawanto.

Setiawan Widiyoko mengatakan dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemda pada pasal 29 ayat (2) Jo. Pasal 29 ayat (1) tentang kepala daerah yang berhenti karena berhalangan tetap, roda pemerintahan harus tetap jalan meskipun ada kekosongan jabatan, yaitu dengan cara mengangkat Sekretaris Daerah oleh Mendagri. Dalam hal menempati kekosongan Sekda memiliki wewenang untuk menjalankan roda pemerintahan, tetapi tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu keputusan yang berakibat timbulnya hukum.

“Lantas bagaimana jika keduanya meninggal dunia atau salah satunya, maka hal ini harus segera disampaikan oleh pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam rapat Paripurna agar diberhentikan atau akan memilih pimpinan yang baru. Namun demikian memilih pengganti Edy Maryono harus dengan persetujuan Bupati Grobogan Sri Sumarni, jikalau tidak memilih Wakil Bupati yang tidak akan berakibat hukum,” jelasnya.

Ia menamnahkan, pemerintah Krobogan akan pincang jika bupati tidak ada yang mendampingi dalam menjalankan roda pemerintahannya.

“Tetapi dengan kekosongan itu pemerintahan akan pincang, layaknya kapal yang memiliki seorang nahkoda tanpa didampingi seorang wakil atau seperti tubuh kita yang jalan terseok-seok karena kaki satunya sakit atau patah,” pungkas alumni pasca sarjana ini.

Sedangkan kandidat doktor Kristiawanto menambakan, siapapun Wakil Bupati kelak yang mendampingi Bupati saat ini harus mempunyai visi yang sama dengan Bupati, karena potensi Grobogan sangat besar, apabila salah kelola percepatan pembangunan akan terhambat. Visi besar yang sudah dicanangkan Bupati harus dapat diwujudkan bersama wakilnya, jadi keberadaan Wakil Bupati harus mampu menjadi energi baru bagi Bupati untuk melakukan percepatan pembangunan. Sehingga Grobogan yang ‘Gemah Ripah loh Jinawi’ dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Grobogan.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here