Jeruk Keprok Organik Butuh Perawatan Ekstra

Kiri : petani jeruk organik mulyono dan kadistanhut Budi Santoso

Kota Batu, Suara Indonesia-News.Com – Di kawasan Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, petani Jeruk Keprok 55, yang menggunakan metode pertanian organik bisa tersenyum lebar, karena setiap tahun bisa meraup keuntungan hingga Rp 50 juta dari panen.

Mulyono (60), petani Jeruk organik ini mengaku lahan seluas 1700 meter persegi yang ditanami 175 batang pohon bisa menghasilkan  4 ton atau kalau dinominalkan mencapai Rp 50 juta rupiah.

“Keuntungan metode organik sangat murah dalam biaya produksi sebab tanpa pupuk dan hasil buah lebih higienis dan tidak berbahaya. Jadi konsumen banyak yang mencari,” ujar Mulyono diladangnya, Selasa (16/6/2015).

Menurut Mulyono, modal menanam jeruk yang dimulai sejak 2007 hanya sekitar Rp 10 juta. Dengan rincian membeli bibit jenis jeruk Keprok 55 serta peralatan seadanya.

“Alhamdulillah modal sangat minim hasil bisa maksimal mas,” ungkapnya lagi.

Kendati demikian, Mul mengaku metode organik tidak semudah membalikkan tangan. Butuh perawatan ekstra dan keuletan serta pantang menyerah. Kendala bercocok tanam tanpa menggunakan obat kimia adalah disaat pohon diserang penyakit. Seperti penyakit cabuk putih dan kutu sisik merah.

Kadistanhut beserta kasi pertanian Lenddy dan petani jeruk organik
Kadistanhut beserta kasi pertanian Lenddy dan petani jeruk organik

“Petani organik harus telaten mas, serta selalu berinovasi dan selalu belajar serta mencoba mencari solusi dengan sharing dengan Dinas Pertanian”, tuturnya.

Seperti saat pohonnya beberapa waktu lalu diserang penyakit, Mul selalu berkordinasi dengan Distanhut untuk mencari penangkal dan obatnya. Seperti fermentasi ubi gadung dengan daun mimbo untuk membunuh cabuk putih, serta rendaman daun sereh merah yang disulling untuk membrantas kutu sisik.

“ Selain obat alami, penerapan tanaman kenikir (bunga matahari, selasih ungu, yellow trap) juga kami kombinasikan untuk menghalau penyakit dan hama,” bebernya lagi.

Mul mengaku selalu berkordinasi dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Distanhut. Sebab hal tersebut sangat penting untuk selalu memberikan perkembangan dan saran serta bantuan bila terjadi masalah.

Saat ditanya perbedaan harga d an pemasaran, Mul mengaku jeruk organik lebih mahal selisih hampir separo harga, “kami tak kesulitan menjual, konsumen yg mencari serta banyak supermarket yang membutuhkan,” jelas pria paruh baya ini.

Kadistanhut Kota Batu, Ir Budi Santoso mengaku senang dengan melihat langsung tanaman jeruk organik dan kesuksesan Mulyono. Pria yang biasa disapa Tosy ini berjanji mendukung program Desa Dadaprejo yang akan membuka lahan jeruk organik seluas 1,5 hektar di Dusun Dadaptulis, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo.

“ Dinas akan terus memberi arahan bagaimana menanam, memupuk dan menangkal penyakit serta memberikan bantuan yang diperlukan petani. Semoga kesuksesan Pak Mul bisa menjadi contoh kongkrit petani organik di Kota Batu,” pungkasnya. (Kurniawan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here