exodus
Berita UtamaNewsPeristiwa

Jenazah ABK Kapal Virgo Tiba di Rumah Duka, Bupati Pamekasan Sampaikan Belasungkawa

×

Jenazah ABK Kapal Virgo Tiba di Rumah Duka, Bupati Pamekasan Sampaikan Belasungkawa

Sebarkan artikel ini
IMG 20260916 151237
Foto: Bupati Pamekasan, Kholilurrahman saat memberikan Bantuan Kepada Keluarga Korban tenggelamnya Kapal Virgo di rumah duka.

PAMEKASAN, Rabu (16/09) suaraindonesia-news.com – Suasana duka menyelimuti Dusun Sembung, Desa Teja Timur, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan, Rabu (16/9/2026). Tangis keluarga pecah saat jenazah Nurul Riyan Hidayat (33), Anak Buah Kapal (ABK) korban tenggelamnya Kapal Virgo, tiba di rumah duka.

Jenazah tiba sekitar pukul 10.58 WIB. Peti jenazah dibawa dari Surabaya menggunakan ambulans milik BPBD Provinsi Jawa Timur setelah melalui proses evakuasi dan identifikasi.

Kedatangan jenazah disambut isak tangis keluarga serta sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Tampak hadir Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Sekretaris Daerah Taufikurrahman, Kepala BPBD Mohammad Dafdir, Kepala Dinas Sosial Herman Hidayat, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

Kepergian Riyan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Almarhum meninggalkan seorang istri, Azimatul Munirah, yang kini tengah mengandung enam bulan, serta seorang anak yang masih kecil.

Bupati Pamekasan Kholilurrahman mengaku sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jenazah tiba, sebagai bentuk penghormatan dan empati kepada keluarga korban.

“Pertama, kehadiran ini merupakan bentuk hormat saya kepada keluarga korban, kepada istrinya, serta bapak dan ibu selaku orang tuanya. Hormat saya kepada beliau-beliau yang tabah dan sabar menghadapi musibah ini,” ujar Kholilurrahman saat ditemui di rumah duka.

Bupati yang akrab disapa KH Kholil tersebut juga menyampaikan keyakinannya bahwa kepergian Riyan saat menjalankan tugas memiliki nilai kemuliaan di sisi Allah SWT.

“Saya yakin musibah ini ada hikmah baiknya. Karena Saudara Nurul Riyan gugur dalam menjalankan tugas. Dengan demikian, saya punya keyakinan Insyaallah Almarhum mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah SWT,” tuturnya.

Terkait jaminan sosial, Kholilurrahman mengatakan Pemkab Pamekasan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Ia menilai almarhum memiliki hak atas jaminan sosial sesuai ketentuan yang berlaku karena meninggal saat menjalankan tugas.

“Silakan ditanyakan kepada instansi terkait. Namun saya yakin jaminan sosial itu ada, apalagi beliau gugur dalam menjalankan tugas. Usianya masih sangat muda, 33 tahun, sedang produktif-produktifnya,” katanya.

Ia juga berharap perhatian terhadap keluarga korban tidak hanya datang dari perusahaan tempat Riyan bekerja, tetapi juga dari pemerintah secara umum.

“Bukan hanya untuk PT tersebut, tetapi juga kepada pemerintah secara keseluruhan. Saya berharap adanya support, partisipasi, dan terutama perhatian. Saya sebenarnya ada acara lain, akan tetapi saya mendahulukan hadir untuk keluarga di sini,” ungkapnya.

Kholilurrahman mengatakan Pemkab Pamekasan terus memantau perkembangan sejak awal menerima kabar kecelakaan kapal tersebut. Ia juga menceritakan bahwa keluarga korban sempat merasakan kekhawatiran sebelum adanya kepastian mengenai kondisi Riyan.

“Pemkab mengikuti sejak ada kabar kapal motor itu terbalik. Sampai muncul pertanyaan besar dari orang tuanya, apakah Almarhum menjadi korban atau tidak. Itu terjadi pada malam Minggu. Pada hari Minggu, ayahnya mengatakan sudah mendengar kabar kapal itu kecelakaan, sekalipun belum yakin betul, namun sudah ada firasat. Jadi mungkin ada kontak batin,” jelasnya.

Di akhir kunjungannya, Bupati Kholilurrahman diminta keluarga untuk menjadi imam salat jenazah almarhum.

Sementara itu, pihak keluarga mengenang Riyan sebagai sosok yang sabar dan pendiam. Yati, saudara korban, mengatakan Riyan baru bekerja di PT Virgo selama sekitar tiga hingga empat bulan. Sebelumnya, ia juga bekerja di bidang pelayaran.

Menurut Yati, Riyan terakhir pulang ke rumah pada Jumat (12/9) pagi sekitar pukul 08.00 WIB setelah mengambil tambahan cuti selama dua hari. Ia seharusnya pulang pada Rabu, tetapi baru dapat kembali pada Jumat.

Pada Sabtu (13/9) sekitar pukul 10.00 WIB, Riyan kembali berangkat dari Surabaya. Pada malam harinya, ia masih sempat menghubungi istri dan anaknya sebelum akhirnya kehilangan kontak sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.

“Tidak ada gelagat aneh. Berangkat seperti biasa. Pesan terakhirnya agar keluarga tidak usah banyak pikiran karena kebutuhan anak sudah dipenuhi selama satu bulan,” ujar Yati.

Informasi mengenai kecelakaan tersebut pertama kali diketahui keluarga dari rekan seprofesi korban pada Minggu siang sekitar pukul 11.00 WIB.