Jadi Sorotan Publik, Agen Beras BPNT Diduga Langgar Kepres HET

oleh -86 views
H. Izzat warga Kecamatan Ganding Sumenep yang sering mendapat komplain masyarakat tentang pendistribusian beras sembako medium dengan harga di atas HET.

SUMENEP, Kamis (27/2/2020) suaraindonesia-news.com – Sebuah ketimpangan temuan dilapangan beberapa kejanggalan terkait penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Program Sembako di Kabupaten Sumenep, salah satunya seperti yang terjadi di Desa Ganding, Kecaman Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Agen beras BPNT atau Program Sembako (Agen Rizal, red) di Desa setempat, pihaknya diduga tidak bisa melaksanakan arahan sesuai dengan Pedoman Umum yang berlaku. Selain itu, Ia diduga melanggar kepres tentang HET beras.

Salanjutnya, agen Rizal yang sudah menyediakan beras, harganya kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Bahkan beras yang disediakan oleh agen tidak tergolong jenis premium, akan tetapi jenis beras medium. Dari hal itu, ia menjualnya dengan harga Rp 115.000.

“Itu nyata menyalahi aturan yang berlaku, karena sesuai Permendag tentang HET menyebutkan jika harga tertinggi adalah Rp 94.500 per 10 kg untuk jenis beras medium, sedangkan agen Rizal berasnya medium dijual dengan harga 115.000,” kata H. Izzat H. Izzat warga Kecamatan Ganding, Sumenep yang mengaku sering mendapat komplain masyarakat tentang pendistribusian beras sembako medium dengan harga di atas HET, pada awak media, Rabu (26/2).

Izzat menyampaikan, dibalik layar ada dugaan agen Rizal ada perpaimanan dengan pihak Desa setempat. Sebab, ia mengetahui pihak Desa saat ini menjadi supplier. Bahkan KPM merasa trauma akan terulang kembali, lantaran yang menjadi acuan mereka tidak maksimalnya penyaluran bantuan raskin/rastra di Desa setempat ditahun-tahun sebelumnya.

“Warga mengeluhkan jika pada tahun-tahun sebelumnya, rastra/raskin tidak di salurkan tiap bulannya, nanti kita cek keabsahan DPM satu dan DPM duanya seperti apa terkait hal itu. Namun, intinya saat ini terkait harga sembako yang tinggi dan tidak sesuai HET,” jelasnya.

Izzat mengaku, ia akan tetap mengawal dan berupaya membantu warga yang mengeluh terkait persoalan tersebut hingga ke meja hijau untuk diseriusi.

“Kalau tetap tidak ada tindakan dari Tikor Kecamatan dan TKSK. Maka, tetap akan saya kawal sampai tuntas, kasihan masyarakat, masyarakat dirugikan dengan harga tinggi tapi tidak sesuai kwalitas,” tegasnya.

Agen Rizal mengatakan, sempat membantah saat dikonfirmasi disinggung terkait persoalan BPNT atau Program Sembako bahwa pihaknya menjual beras Program Sembako di atas HET. Ia mengaku melakukan transaksi dengan KPM sesuai aturan yang berlaku.

“Sebelumya saya sudah menawarkan terlebih dahulu pada KPM bahwa harganya 115 per 10 kilogram, KPM mau semua, bahkan tidak ada yang mempermasalahkan karena kwalitasnya juga bagus,” jelasnya saat konfirmasi.

Setelah itu, pihaknya mengaku tidak tahu sama sekali persoal kualitas beras yang ia diterima dari supplier, yang tergolong premium apa medium. Yang penting Intinya ia mengaku sudah meminta kualitas beras yang bagus (besar premium) terhadap supplier tanpa mengetahui kualitasnya.

Disinggung terkait jenis beras yang dijual ke KPM, ia terlihat kebingungan untuk menjawabnya. Ia mengaku, bahwa dari sebelumnya pihanya telah meminta beras yang bagus (premium) terhadap supplier.

“Saya tidak tahu terkait jenis besar dari supplier masuk jenis premium atau medium, intinya kami sudah meminta beras yang bagus (yang kualitas premium, red),” ungkapnya.

Untuk diketahui Sampai saat ini, besaran HET beras masih mengacu pada Peraturan Menteri Pedagangan (Pemendag) Nomor 57 Tahun 2017. Dalam cakupannya besaran HET beras dibagi menjadi tujuh kategori berdasarkan wilayah, sementara untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan ada di Rp 9.450 per kg untuk medium dan Rp12.800 per kg untuk premium.

Reporter : Dayat
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *