Jadi Aliran Limbah Cair Pengolahan Ikan UD Gracia, Masyarakat Tanjung Merah Resah

UD Gracia

Reporter: Erlangga

Minut, Selasa (23/11/2016) suaraindonesia-news.com – Industri perikanan merupakan industri yang berkembang pesat di kota bitung yang didukung oleh besarnya potensi sumber daya perikanan. Sebagaimana industri-industri yang lain, industri perikanan dalam pengoperasiannya yang tentunya akan menghasilkan produk akhir yang diharapkan dan juga limbah sebagai buangan industri.

Kali ini limbah pengolahan daging ikan milik UD Gracia menjadi topik pembicaraan masyarakat serta pengguna transportasi manakala saat produksi air pecucian dan pengolahan ikan hasil produksi dibuang begitu saja tampa adanya permentasi terlebih dulu. Hal inilah yang menjadi keresahan masyarakat Tanjung Merah, kecamatan Matuari kota Bitung.

Pasalnya, daerah mereka sering kali menjadi tempat aliran air pembuangan limbah cair perusahaan tersebut hingga mencemari lingkungan mana kala bau busuk setiap kali aliran limbah tersebut sampai di kampung mereka. Pengolahan daging ikan rajungan yang dilakukan oleh miniplan sebelum dikirim ke pengepul tentunya masih mengandung protein dan zat padatan terlarut (TDS) tinggi.

Umumnya pengolah tidak melakukan penanganan limbah yang dihasilkan sebelum membuang air hasil olahan daging rajungan tersebut, sehingga terjadi pencemaran air dan menimbulkan bau busuk yang sering mengganggu penciuman bagi mereka yang melewati daerah tersebut.

Limbah cair dari hasil pencucian ikan yang masih mempunyai kandungan protein, lemak dan zat padat terlarut yang tinggi mengalir di jalan raya akibat meluap dari got aliran air.

Menurut salah satu warga sekitar yang tidak berkenan namanya disebutkan mengatakan, Berbagai cara sudah dilakukan masyarakat Tanjung merah salah satunya memprotes atas perusahaan tersebut yang telah membuang limbahnya dengan sembarangan.

“Namun sangat disayangkan sampai saat ini nasih terus dilakukan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah utamanya Dinas lingkungan hidup untuk lebih memperhatikan perusahaan yang dengan sengaja membuang limbahnya hingga berdampak pada masyarakat tanjung merah.

Pantauan Suara Indonesia ditemukan UD Gracia membuang limbah cair hasil pencucian ikan tanpa melakukan fermentasi terlebih dulu, hingga limbah tersebut mengalir di jalan raya hingga sampai di perkampungan masyarakat tanjung merah.

Saat reporter Suara Indonesia hendak mengkonfirmasi temuan tersebut, penjaga pintu gerbang mengatakan bahwa semua pengawas perusahaan tidak berada di kantor.

Diduga UD Gracia tidak memiliki permentasi pengolahan limbah. Pemerhati lingkungan Jhon simbuang mengatakan, seharusnya UD Gracia melakukan permentasi terlebih dahulu guna menghilangkan bau busuk dari limbah cair pengolahan ikan, yakni menurunkan pH limbah dari 8,0 menjadi 6,0 dengan penambahan HCl 0,1 N, menambahkan molases sebanyak 50 ml ke dalam 1,0 liter limbah, menginokulasi limbah ikan dengan 50 ml kultur bakteri asam laktat dengan populasi 107 sel per ml.

Kultur ini diinkubasi pada shaker dengan memberikan aerasi secara terputus selang dua jam dengan dikocok pada 120 rpm. Bau busuk limbah air pencucian ikan akan hilang dalam waktu lima hari, akan tetapi sama sekali tidak dilakukan oleh perusahaan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here