Reporter: Anam
Bangkalan, suaraindonesia-news.com – Karakteristik Masyarakat Madura yang religius-fanatis, mengandung dua potensi yang sama besarnya. Bisa berpotensi positif jika dikelola dengan baik, dan sebaliknya berpotensi negatif jika kemudian tersusupi oleh semangat anti-pluralisme.
Ini diungkapkan Direktur Eksekutif Institute for Madura’s Empowerment (INSTFORME), Adi Putra, S.IP, dalam Diskusi dengan Tema Nur Tajib, Narkoba dan Korupsi: Potret Realitas Madura Kekinian?. Diskusi ini digelar oleh Komunitas Pecinta Kopi (KPK) Bangkalan di Warung Sederhana Pak Dhofir, Jl. RE. Martadinata Bangkalan (Kamis, 05/05).
Adi Putra S.IP, melihat bahwa benih-benih konflik sejatinya mengendap kuat dalam Masyarakat Madura. “Selama ini semangat pluralisme yang diikat NU (Nahdlatul Ulama, red) dalam semangat Ahlussunnah wal jamaah masih efektif untuk meredam potensi konflik yang sejatinya bergerak liar diarus bawah,” ujar Akademisi Muda Madura ini.
“Belakangan dapat kita lihat bagaimana konflik Sunni-Syiah disampang mampu meledak dan menelan korban,” ujar Adi lagi.
Ia melihat masuknya berbagai organisasi yang sejatinya bertentangan diametral dengan NU ke Madura, seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbuttahrir Indonesia (HTI) dan lainnya menandakan bahwa dominasi NU di Madura mulai terkikis. “Dulu ada anekdot, Agama orang Madura itu NU, dan Nabinya Gus Dur,” ujar Adi tersenyum.
Menurut Adi, Anekdot itu mewartakan betapa NU di Madura menjadi mainstream dan menjadi ormas keagamaan yang paling dominan.
“Kita tidak berharap kelak dimasa yang akan datang, isu-isu SARA akan meluluh-lantakkan harmoni pergaulan Masyarakat Madura,” Ujarnya Lagi.
“Disini peran Kaum Muda, terutama kalangan Intelektual NU Madura untuk terus bekerja, mendorong akselerasi dan akulturasi spirit toleransi, pluralisme dan kebhinekaan kedalam tatanan Masyarakat Madura yang sejatinya terkategorikan Masyarakat Resiko,” pungkas Adi.