PeristiwaRegional

Ini Tanggapan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Atas Matinya Ribuan Ikan di Setu Citongtut

Avatar of admin
×

Ini Tanggapan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Atas Matinya Ribuan Ikan di Setu Citongtut

Sebarkan artikel ini
IMG 20210203 115944
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor, H Adi Suwardi saat ditemui di kediamannya

BOGOR, Rabu (03/02/2021) suaraindonesia-news.com – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor, H Adi Suwardi memperhatikan dengan serius atas matinya puluhan ribuan ikan di lokasi konservasi ikan air tawar di Setu Citongtut Desa Cicadas, Gunungputri, Kabupaten Bogor.

Menurutnya, Bupati perlu turunkan Tim investigasi untuk menyisir dugaan pembuangan limbah beracun ke situ
Citongtut.

“Bupati diminta turunkan tim investigasi menyeluruh untuk menyisir dugaan pembuangan limbah beracun, mulai dari hulu sungai hingga bermuara ke situ
Citongtut Bogor timur,” kata H Adi Suwardi saat diminta pendapatnya di kediaman Selasa (02/02) malam.

H Suwardi menyampaikan, matinya ribuan ikan di konservasi
Situ Citongtut, bukan tak mungkin ada unsur pidananya. Sehingga Pemkab Bogor harus segera mengambil sikap dan jangan menganggap sepele persoalan ini.

“Pemkab jangan anggap sepele,” ungkapnya.

Politisi Gerindra ini menduga ada dua kemungkinan penyebab ribuan ikan mati. Ada unsur kesengajaan atau akibat terkena limbah pabrik. Kecil kemungkinan kematian itu berasal dari limbah rumah tangga.

Dia mendesak, mulai dari desa, kecamatan hingga unsur terkait mengambil sikap kritis. Karena Setu Citongtut bagian dari kehidupan masyarakat Gunung Putri yang patut dilestarikan.

“Saya tahu persis kondisi lapangan, karena 14 tahun saya menjadi pamong desa. Sumber air yang bermuara di Setu Citongtut melewati tiga desa yakni Tlajung Udik, Gunung Putri dan desa Cicadas. Belum termasuk puluhan pabrik,” tutur H Suwardi.

H Suwardi memprediksi ada sekitar 18 pabrik yang membuang limbah ke sungai dan bermuara ke Setu Citongtut.

“Pemkab Bogor segera menginventarisir perijinan pabrik. Sebab yang lengkap perijinan tak menjamin memenuhi standar analisis dampak lingkungan (Andal),” jelas H Suwadi.

Beberapa warga yang ditemui dilokasi Setu, umumnya mengkritik kurang pekanya pamong desa, dalam pengawasan bersifat menyeluruh.

“Setelah muncul bencana, semua ingin menjadi disebut pahlawan pro lingkungan. Ada yang ingin cuci tangan, berlindung di tempat terang,” kata sejumlah warga.

Reporter : Iran G Hasibuan
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful