Indonesia Premiere Screening Festival Film Reelozind 2016 di Petra Little Theatre

Reporter:  Adhi

Surabaya, 25/08/2016 (suaraindonesia-news.com) – Pada tanggal 22 Agustus 2016 digelar acara pemutaran 11 film pendek peserta festival film Reelozind! di Petra Little Theatre (PLT) UK Petra. Pemutaran di UK Petra ini tergolong istimewa karena dilakukan sebagai pemutaran premiere Reelozind! untuk Indonesia.

Reelozind! adalah program Australia Indonesia Center, inisiatif dari pemerintah Australia yang diimplementasi oleh Monash University. Tujuan dari Reelozind adalah meningkatkan pemahaman antar budaya Australia dan Indonesia melalui media film pendek.

Dalam festival tahun ini 100 peserta mengumpulkan video dengan durasi dibawah 10 menit dengan tema ‘tetangga’. Dengan tema tetangga ini, diharapkan suasana bertetangga yang baik antara Australia dan Indonesia akan terdukung. Dari 100 video mula-mula ini diambil 6 pemenang dari 6 kategori dan juga 5 video dengan best mention.

Tim juri festival kali ini terdiri dari praktisi industri perfilman terkemuka dari Indonesia dan Australia, yang terdiri dari: 1) Mira Lesmana, pendiri Masyarakat Film Indonesia dan juga produser film populer Ada Apa dengan Cinta; 2) Riri Riza, produser film Indonesia, rekan lama Mira Lesmana, salah satu karya yang sukses adalah film Gie; 3) Tom Gleisner, penulis dan produser film televisi dan layar lebar terkemuka Australia; 4) Andrew Mason, produser film dan televisi, karyanya yang populer termasuk The Matrix Revolutions, Red Planet, dan Scooby Doo; 5) Prof. Dr. Khrisna Sen, dekan Faculty of Arts di University of Western Australia; dan 6) Novi Kurnia, pengajar dan peneliti di Fakultas Ilmu Komunikasi UGM. Bertindak sebagai moderator dalam acara ini Dr. Gaston Soehadi. Dihadirkan juga dalam pemutaran premiere ini Derry dan Stephanie Pascalita Gunawan sebagai perwakilan para pemenang festival.

Derry adalah seorang pembuat film yang rutin mengerjakan film dokumenter secara freelance. Kebetulan saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa semester 3 Program Pascasarjana Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia Surakarta. Salah satu karyamya video bertitel ‘Amelis’ memenangi kategori Best Fiction dan juga sekaligus dinobatkan sebagai Best Film dalam festival ini. Menurut Derry, film ini bermula dari inspirasi yang ia dapat dari permasalahan yang nyata terjadi di Indonesia. Ia melihat bahwa ketersediaan fasilitas ambulans sangat minim di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di Jakarta pun, apabila tersedia, tidak semua kalangan masyarakat punya akses untuk fasilitas ambulans. Ketika ada tugas untuk salah satu mata kuliah yang ia tempuh, akhirnya ia memutuskan untuk membuat film yang mengangkat permasalahan tersebut. Pucuk dicinta, ulam tiba, ketika ia mendaftarkan Amelis di Reelozind!, para penilai mengapresiasi karyanya dengan baik.

Karya film yang sebetulnya untuk memenuhi tugas kuliah dan akhirnya menjadi pemenang di festival ini bukan hanya satu saja. Karya Stephanie, seorang mahasiswi semester 7 Universitas Multimedia Nusantara jurusan Multimedia juga melombakan tugas filmnya di Reelozind! dan filmnya keluar sebagai The Best Documentary. Film karyanya berjudul Mata Elang. Dokumenter ini mengangkat kegiatan keseharian tenaga penagihan kredit yang lebih dikenal sebagai para ‘mata elang’. Banyak dari “mata elang” ini berasal dari luar daerah, khususnya dari pulau Timor. Dokumenter ini mengangkat sudut pandang para “mata elang” dan mengajak para penonton untuk memahami bahwa usaha mereka untuk bertahan hidup sering disalahartikan sebagai bentuk ‘preman bersurat’.

Penyelenggaraan event multinasional di PLT ini menunjukkan upaya memberikan exposureglobal di UK Petra. Dengan adanya kegiatan berlingkup internasional seperti ini, prestasi dan pengaruh UK Petra akan bisa semakin global.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here