Hubungan YBD & TITD Blora Kembali Tegang, Nyaris Baku Hantam

Proses pendirian kantor baru Yayasan Budhi Dharma Song Soe Kiok Blora dihadiri pengurus, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat oengusaha, Rabu (7/6).

Reporter: Lukman

Blora, Rabu (7/6/2017) suaraindonesia-news.com – Halaman Klenteng Hok Tik Bio, Kota Blora, Rabu (7/6), sempat ramai, bahkan nyaris terjadi baku hantam antara pengurus Yayasan Budhi Dharma (YBD) Song Soe Kiok dengan pengurus Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Hok Tik Bio.

Pantauan dilokasi, kantor YBD ada puluhan pekerja dan pengurus, mendadak Bambang Suharto menghentikan pekerja yang sedang menyiapkan prosesi awal pembangunan kantor YBD, sehingga memicu adu mulut dan nyaris terjadi pertengkaran fisik.

Saat terjadi adu mulut, pengurus TITD hanya empat orang, sementara dari YBD ada puluhan orang. Untung keduanya bisa menjaga diri, dan baku hantam reda setelah dilerai oleh sejumlah tokoh agama.

“Sudah, kalau TITD tidak terima ya silahkan diselesaikan di pengadilan,” kata pengurus YBD yang juga tokoh agama di Blora, Yulius Sukarno.

Bambang Suharto dan tiga temannya akhrinya meninggalkan lokasi. Selanjutnya prosesi pembangunan kantor YBD Song Soe Kiok dimulai dengan aman, dan lancar.

Hadir kurang lebihnya 60 orang, diantaranya tokoh agama yang juga pengurus YBD seperti H Kudlori, Yulius Sukarno, H. Mawardi Djamil, H Susanto Rahardjo, tomas dan sejumlah pengusaha muda.

“Semoga pendirian kantor YBD ini bermanfaat untuk umat, karena ratusan tahun di tanah ini YBD murni untuk kegiatan sosial,” tandas H. Khudlori.

Diketajui, sebelum membangun kantor YBD di Jl Pemuda 38, pengurus menggelar rapat tiga kali. Selain itu, pengurus Yayasan Budhi Dharma mengaku kecewa, karena pihak TITD tidak mau diajak rembug kekeluargaan, dan seenaknya mengunakan tanah klenteng.

Juru bicara YBD, Yulius Sukaro menjelaskan, ratusna tahun atau sejak jaman kolonial Belanda YBD dan pengurus klenteng selalu kompak berdampingan, guyub, dan saling mendukung berbagai kegiatan.

Retaknya hubungan mesra yang dibina sejak leluhur berubah 100 persen. Antarpengurtus berseteru, bahkan telah menjurus saling ancam. dan TITD menguir Yayasan Budhi Darma dari klenteng.

Tak pelak, pengusiran itu ternyata memicu kekecewaan pengurus YBD dan 300 orang lebih warga Tionghoa. Konflik  mereda, setelah turun keputusan PN Blora Nomor 112/Pdt.P/2015/PN.BLA, bahwa komplek tanah klenteng adalah milik bersama.

Dalam Keputusan PN, baik TITD (pihak klenteng) dan Yayasan Budi Dharma tidak bisa saling mengusir, selain karena tanah seluas 1,2 hektar di jalan Pemuda, Kota Blora, milik bersama dan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Dimintai konfirmasinnya, Ketua Yayasan TITD Suboko, menyebut pihaknya memagang sertifikat.

“Soal ada keputusan PN terbaru kalau tanah itu adalah hak bersama antara TITD dengan YBD, itu akan diurus kemudian,” tukasnya singkat.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here