Harga Jagung Anjlok, Petani di Wongsorejo Banyuwangi Menjerit

BANYUWANGI, Sabtu (7/4/2018) suaraindonesia-news.com – Para petani jagung di Kecamatan Wongsorejo, kini harus menelan kerugian hampir puluhan juta rupiah lantaran harga di pasaran tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan.

Saat ini, harga jagung di pasaran berada di posisi Rp250 ribu perkuintal. Harga ini tentu jauh lebih rendah dari tahun 2017 yang mencapai angka Rp360 ribu per kuintal. Kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya petani jagung yang sengaja meminjam uang di perbankan.

“Kalau kita melihat dari harga yang ada saat ini, bisa dipastikan kami sudah 90 persen dalam kondisi merugi. Apabila sudah seperti ini, bagaimana kami bisa membayar cicilan bank dari uang yang kami pinjam kemarin. Untuk itu, kami meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda), supaya jagung juga memiliki Harga Dasar (HD) sehingga ketika ada gejolak harga bisa diamankan,” ungkap Supardi, H, Nahwe di Forum Yasinan dan Tahlil bersama.

Baca Juga: Jember Jadi Pusat Peresmian Sumur Bor di Jawa Timur 

Dikatakannya, di Kecamatan Wongsorejo ada sekitar ratusan hektar lahan jagung yang saat ini sedang panen dengan kondisi harga yang tidak bersahabat. Jika persoalan ini tidak segera disikapi secara serius, maka para petani bisa merugi.

Persoalan ini juga sudah sering disuarakan oleh masyarakat, dengan harapan jagung juga bisa memiliki harga dasar sama seperti halnya beras.

Sehingga ketika harga jagung berada dibawah standar, bisa diamankan oleh pemerintah dan para petani juga tidak terlalu merugi seperti yang ada saat ini. Apalagi modal untuk menanam jagung juga cukup besar baik itu untuk obat-obatan, pembersihan lahan, dan beli bibit.

“Kita sangat berharap supaya jagung ini juga bisa memiliki HD sama seperti beras atau minimal ada regulasi khusus yang mengatur masalah harga inj. Jika tidak maka para petani jagung tetap akan merugi setiap tahunnya,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait masalah Harga Dasar Jagung (HDJ), pihaknya belum bisa merealisasikannya, karena harga dasar untuk pembelian jagung belum ditetapkan oleh pemerintah.

Meskipun demkian, pihaknya tetap berupaya ada solusi terbaik supaya masalah harga  jagung ini tidak muncul setiap tahun.

“Kita tetap akan perhatikan masalah harga jagung ini, karena hampir setiap tahunnya selalu ada masalah. Hanya saja kami tetap meminta kepada para petani untuk bersabar dan kami tetap akan memperjuangkannya,” sebutnya.

Ia menyebutkan, ada salah satu langkah yang bisa dilakukan supaya harga jagung tidak lagi anjlok yakni dengan memperhatikan masalah kadar air (KA). Untuk KA 19 bisa mencapai harga Rp 260 ribu dan untuk KA 16-17 dihargai Rp 300 ribu per kuintal jagung.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap kepada para petani jagung untuk bisa bersabar menunggu hingga KA bisa mencapai angka 16-17. Jangan terlalu memaksakan diri untuk buru-buru melakukam panen, karena harganya pasti akan anjlok dan masyarakat juga akan rugi.

“Sebenarnya anjloknya harga jagung bisa disikapi dengan cara semakin menurunkan KA hingga 16. Jika cara ini diterapkan, maka hasilnya juga akan baik dan harganya tidak akan anjlok,” tandasnya.

Hal senada sama dengan Ahmad haironi, petani jagung asal desa bengkak dia juga mengalami kerugian yang cukup besar akibat cuaca extrims, sehingga tidak bisa memanen jagungnya akibat hujan dan hasil panennya tidak maksimal, jagung rusak kehitaman, sehingga harga jualnya anjlok.

Harapan petani bagaimana pemerintah bisa membantu mencari solusi untuk menyikapi, anjloknya harga jagung, uacap Ahmad haironik, padasaat di datangi di rumahnya.

Sementara kepala Dinas pertanian Banyuwangi belum bisa di hubungi Beliau sedan ada acara di luar kota.

Reporter : Kank Harto
Editor : Agira
Publisher : Tolak Imam


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here