ACEH, Selasa (15/07) suaraindonesia-news.com – Beragam opini beredar di media sosial terhadap kondisi terkini harga bahan kebutuhan pokok (Sembako). Di Aceh Utara dan sekitarnya harga bahan pokok melesat naik secara liar.
Respon publik terhadap harga besar menyebar luas, kondisi ini menggaungkan aspirasi publik yang meminta Pemerintah segera membenahi dan mengantisipasi spekulasi barang dari tangan-tangan paran spekulan yang tak bertanggung jawab.
Hal tersebut sedang terjadi seantero Aceh, kabar meluas terkait harga beras yang naik berpariasi, seperti di Kota Sabang harga beras mencapai Rp.260ribu persak karung 15 kg. hal serupa juga terjadi di Abdya, Meulaboh, Pijay, Bireuen, Aceh Besar, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, kota Langsa dan seluruhnya.
Salah satu pemerhati sosial angkat bicara terkait kondisi tersebut, terkuaknya harga beras yang melesat tinggi di Aceh Utara dan isupun merembes ke wilayah lainya dengan kondisi yang sama. Dimana ia menilai Pemerintah dan Bulog gagal lakukan pengendalian harga pasar.
Masri salah satu pemerhati sosial mempertanyakan fungsi bulog yang selama ini dianggap kurang berperan pada kontrol pasar. Bahkan, pengamat sosial mengkritisi, bulog tidak berfungsi untuk kepentingan publik sebagaimana yang seharusnya menjadi kewenangan bulog.
“Apakah fungsi bulog hanya sebatas jual beli, atau mereka sebagai produsen Nasional berkedok instansi pemerintah? Berarti mereka pengusaha dong? Bukan instansi yang bertanggung jawab dalam pendistribusian bahan pokok di Aceh,” ujar Masri, pengamat sosial, Selasa (15/07/2025) merespon melonjaknya harga beras di Aceh Utara dan sekitarnya.
“Bulog tidak melakukan operasi pasar, malah kita menilai mereka menghindari kerugian, sehingga menyebabkan harga barang tak terkendali. Disini kita bisa menyimpulkan, Bulog hanya meraup untung dari pada petani klas bawah,” ujar Masri.
Masri juga mengkritis kepekaan pemerintah dengan seribu program, namun tak satupun dapat direalisasikan. Ia menyebut, peran serta satuan petugas ketahanan pangan besutan pemerintah baru-baru ini tidak berfungsi.
“Satgas pangan tidak berfungsi, jadi untuk apa sebenarnya mereka dibentuk. Pemerintah jangan hanya membangun program, sedang pengawasan yang digadang-gadang sebagai upaya suksesi swasembada pangan malah mematung ditempat,” tandas penggiat sosial tersebut.
Ia meminta pemerintah yang telah membentuk Satgas ketahanan juga menjadi perisai dari Bulog sendiri yang dianggap kurang transparansi. Ia menyebut, Bulog sangat perlu diawasi dan dievaluasi.
“Satgas pangan yang meliputi lintas instansi terkait seperti disperindag, dinas pertanian, bulog dll, gagal kendalikan harga pasar, sehinga terjadi instabilitas harga jual dan harga beli yang menyebabkan harga fluktuatif,” imbuh Masri.
Seperti kabar yang tersiar luas, memasuki tiga pekan terakhir, harga gabah berunjung kepada harga beras melonjak tinggi, diakibatkan tidak efektifnya peran bulog, harga beras menembusi nilai Sejarah, hingga saat ini, persak beras diatas harga Rp.250ribu. harga tersebut diprediksi akan terus naik setiap hari ini secara variasi.
“Harga padi hari ini Rp.9.500 per kg, itupun barang susahnya didapat,” ujar salah satu pengusaha kilang padi anonym.













