Gula Rafinasi Jika Dikonsumsi, Sebabkan Kencing Manis, Diabetes dan Kolesterol

oleh
Ilustrasi Antara.

LUMAJANG, Kamis (26/3/2020) suaraindonesia-news.com – Gula rafinasi tidak boleh sembarang diperjualbelikan. Hal itu berdasarkan atas SK Menperindag Nomor 527/MPT/KET/9/2004, yang disebutkan bahwa gula rafinasi hanya diperuntukan untuk industri dan tidak diperuntukan bagi konsumsi langsung masyarakat, karena harus melalui proses perizinan yang ketat terlebih dahulu.

Menurut data yang diperoleh awak media, bahwasannya, gula ini mengandung banyak bahan fermentasi, sehingga bisa menyebabkan masalah kesehatan. Yang utama, gula rafinasi dapat meningkatkan gula darah secara cepat. Hal ini kemudian bisa meningkatkan risiko diabetes serta masalah kesehatan lainnya.

Hasil temuan dilapangan oleh awak media, ada gula rafinasi ini sudah masuk ke wilayah Kabupaten Lumajang, ada di beberapa tempat wilayah selatan. Gula rafinasi itu diduga masuk ke industri gula merah, yang sengaja dipesan sebagai bahan campuran pembuatan gula merah tersebut.

Dan dikatakan oleh Sekretaris Dinas Perdagangan (Dindag) Kabupaten Lumajang, Drs Aziz Fahrurrozi, dirinya membenarkan hal tersebut. Yang mana, menurutnya, pemgiriman itu sudah sesuai aturannya.

“Gula rafinasi itu boleh digunakan oleh industri untuk bahan campuran makanan dan minuman, dan itu dibenarkan oleh Balai Konsumen,” terangnya.

Aziz menjelaskan, tidak sembarang orang bisa mendatangkan gula rafinasi. Segala perizinan harus dipenuhi. Untuk industri makanan dan minuman, salah satunya harus punya izin dari Dinas Kesehatan.

“Kalau izinnya sudah, silahkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Kefarmasian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang, Sri Lestari, saat dikofirmasi terkait hal itu, mengatakan jika hingga saat ini belum pernah mengeluarkan izin. Pihaknya sampai saat ini belum satupun mengeluarkan izin karena kalau belum memenuhi syarat tidak akan mengeluarkan izin.

“Sampai sejauh ini belum ada yang kami keluarkan untuk Pangan Industri Rumah Tangga ( PIRT ) gula merah, pengajuan ada. Artinya kalau belum ada belum memenuhi ketentuan yang ada pada instrumen kami,” ungkap Sri.

Kalau misalnya ada yang mengajukan izin pembuatan gula merah yang menggunakan gula rafinasi, kata dia, nanti definisinya bukan gula merah. Kalau dia bilang mengajukan izin edar untuk gula merah, yang pakai adalah definisi dari gula merah. Maka keluar nama sebagai gula merah.

“Tapi kalau misalnya itu tidak seperti ketentuan, definisi gula merah, ya kita tidak bisa mengeluarkan izin pengajuan produk itu sebagai produk gula merah. Makanya masyarakat kita imbau agar ketika membeli produk pangan kalau bisa yang ada nomornya. Nomor izin PIRTnya atau nomor izin MDnya, intinya seperti itu. Karena itu sudah melalui proses ferivikasi, seperti itu,” tukasnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Lumajang, dr Bayu Ignasius Wibowo, juga menegaskan jika gula rafinasi berdampak tidak baik (berbahaya) bagi kesehatan.

“Gula rafinasi cepat naikkan gula darah. Bahaya untuk yang bakat kencing manis,” tulis dr Bayu via pesan WA nya.

Dia juga mejelaskan, kalau gula ranifasi digunakan bukan pada peruntukannya, bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan (jika dikonsumsi secara langsung).

Disisi lain, tak jauh beda dengan apa yang disampaikan oleh dr Bayu, Brigjenpol Dedi Prasetyo, saat menjabat sebagai Karo Penmas Divisi Humas Polri juga sempat mengutarakan, gula rafinasi berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Salah satunya kata dia, bisa mengakibatkan kenaikan kadar gula darah.

“Dapat menyebabkan gula darah naik dalam waktu yang cepat. Ini meningkatkan risiko diabetes dan masalah penyakit berbahaya lainnya. Gula ini dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti kolesterol,” kata Dedi, seperti dikutip dari detik.com.

Selain itu, Dedi menerangkan peredaran gula rafinasi menekan harga gula konsumsi yang dihasilkan petani tebu. Pasalnya, harga gula rafinasi lebih rendah dari gula konsumsi.

“Itu akan terdampak khususnya pada petani-petani tebu, kasihan. Sama dengan pengaruh harga, akibatnya nanti harganya jatuh, maka petani-petani tebu boleh dikatakan tidak lagi menanam tebu. Kalau tidak menanam tebu, program swasembada pangan pemerintah akan jauh dari kata bisa tercapai. Ini gambarannya,” terang Dedi.

Sementara itu terkait dengan hal tersebut, Keberadaan gula kelapa selama ini adalah identik dengan sebutan gula merah. Akan tetapi pada kenyataannya sejak beberapa tahun belakangan ini di pasaran mulai ada perbedaan antara gula kelapa (asli) atau gula jawa dengan gula merah. Bahan baku kedua gula tersebut sama, yakni nira, entah itu nira kelapa maupun nira aren.

Namun, yang membedakan adalah gula kelapa murni hanya dibuat dari nira, sedangkan gula merah bahan bakunya nira dicampur dengan gula rafinasi. Masyarakat mungkin sulit membedakan mana gula kelapa orisinil dengan gula merah yang pembuatannya dicampur gula rafinasi.

Penyampaian Kepala Dindag Kabupaten Lumajang, Khairil Diani sendiri, mengatakan kalau pengolahan gula merah rafinasi atau ‘gula modus’ di Lumajang sempat ditutup oleh UPT Perlindungan Konsumen. Terkait maraknya pengolahan gula merah rafinasi di Kabupaten Lumajang wilayah selatan, pihaknya langsung memerintahkan anggotanya untuk melakukan pengecekan akan kebenaran itu.

“Jadi kami sudah mendengar adanya informasi dan teman-teman dinas sudah saya minta untuk melacak kelapangan,” ujarnya.

Pihaknya juga mendapat informasi, jika akhir-akhir ini kegiatan tersebut marak lagi. Namun ia belum melakukan pengecekan dilapangan, apakah kali ini pengolahannya sudah sesuai aturan atau tidak. Terkait perizinan, kata dia, masih menjadi kewenangan pusat dalam hal ini oleh propinsi.

Reporter : Fuad
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *