GNI Sumberbaru Jember Ambrol

oleh
Diguyur hujan, GNI Sumberbaru ambrol separuh. (Foto: Istimewa).

JEMBER, Sabtu (13/12/2019) suaraindonesia-news.com – Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang berlokasi di Kecamatan Sumberbaru, Jember Jawa Timur ambrol pada Kamis (12/12) malam.

Bagian yang ambrol ialah kerangka atap, diduga karena usia sudah tua dan minimnya pemeliharaan sehingga tidak kuat ketika diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Dibangun pada 1970, gedung yang berdiri di atas tanah pemerintah ditujukan untuk memfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat, sebagai tempat rapat, hajatan, olahraga, hingga pertunjukan seni.

“Ini merupakan musibah terkait curah hujan tinggi juga angin. Pada waktu ambrol, tidak ada orang sehingga tidak ada korban. Kejadian ini telah kami laporkan kepada Bupati. Untuk kerugian ditaksir mencapai Rp. 100 juta,” terang Camat Sumberbaru, Dedy Winarno.

Untuk diketahui, sejarah berdirinya GNI di Indonesia sebagai saksi bisu pergerakan pemuda terpelajar tidak lepas dari nama tokoh nasional, Dr. R. Soetomo.

Pada tanggal 11 Juli 1924, Dr. R. Soetomo mendirikan sebuah perkumpulan bernama Indonesische Studiclub (IS) berkat pengalaman organisasinya di Belanda. Pada masa itu, rapat-rapat umum hanya dilaksanakan di bioskop dan sifatnya tidak teratur. Karena ketiadaan tempat rapat inilah, Dr. R. Soetomo berinisiatif untuk mendirikan Gedung Nasional Indonesia.

Ide dari Dr. R. Soetomo ini mendapat sambutan dari teman-teman seperjuangannya yang merupakan anggota dari IS seperti R.M.H. Soejono, R.P. Soenario Gondokoesoemo, R. Soendjoto, dan Achmad Jais. Akhirnya, pada tanggal 21 Juni 1930, di hadapan notaris H.W. Hasenberg, Surabaya (yang kemudian disahkan oleh Raad van Justitia Surabaya dan Hooggerechten Batavia) didirikanlah sebuah yayasan (stichting) dengan nama Stichting Gedung Nasional Indonesia.

Pendirian GNI pertama didirikan pada tanggal 11 Juli 1930 yang berlokasi di Jl. Bubutan Surabaya Jawa Timur. Gedung tersebut dibangun dengan modal awal didapatkan dari sumbangan para pendiri sebesar f. 10.000. Dana ini ditambah dengan uang hasil dari Pasar Derma Nasional yang dilaksanakan di Kranggan, yang salah satunya adalah cek sebesar f. 30.000 dari seorang tamu yang tak mau disebutkan namanya. Selain itu, sumbangan juga datang dari seluruh Indonesia. Banyak anak-anak kecil yang juga ikut menyerahkan celengannya secara langsung kepada Dr. Soetomo pada waktu itu.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *