Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaPendidikan

Gemar SMAN 1 Matang Kuli Tingkatkan Kualitas Kokurikuler Melalui In House Training

Avatar of admin
×

Gemar SMAN 1 Matang Kuli Tingkatkan Kualitas Kokurikuler Melalui In House Training

Sebarkan artikel ini
IMG 20250729 225634
Foto: Gemar laksanakan kegiatan peningkatan kualitas Kokurikuler di SMAN 1 Matang Kuli Kabupaten Aceh Utara.

ACEH UTARA, Selasa (29/07) suaraindonesia-news.com – Guna mencapai tujuan pendidikan Nasional, Komunitas Belajar Guree Matangkuli Belajar (Gemar) milik SMA Negeri 1 Matangkuli kembali menggelar In House Training (IHT) di sekolah pada Selasa (29/07).

Kegiatan belajar pasca pulang sekolah itu terutama di awal semester ditujukan untuk peningkatan kualitas guru dalam pelayanan bagi siswa.

Kokurikuler merupakan suatu kegiatan penunjang kurikulum yang biasanya dilakukan diluar jam pelajaran inti. Kokurikuler bagian dari kurikulum selain intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kokurikuler menguatkan intrakurikuler, terpisah dari intrakurikuler dalam pelaksanaannya dengan tujuan meningkatkan pendidikan karakter di satuan pendidikan.

Kepala SMAN 1 Matang Kuli Aceh Utara, Khairuddin S.Pd, M.Pd menyebutkan sebagai upaya optimalisasi peran kokurikuler jika mengacu pada perubahan peraturan kurikulum, yaitu Permendikdasmen No. 13 tahun 2025.

“Dulunya Kokurikuler dilaksanakan secara kolaboratif oleh guru lintas mata pelajaran yang disebut dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Namun sekarang selain dengan pola lama melalui penguatan Dimensi Profil Lulusan juga dapat dilakukan untuk menguatkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), serta kegiatan lain yang menguatkan karakter siswa,” kata Khairuddin yang berkapasitas sebagai narasumber pada kegiatan tersebut.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Ketua Komunitas Belajar Gemar SMA Negeri 1 Matangkuli, Roslaini. Ia mengatakan meski sudah dilakukan dalam pola P5 selama tiga tahun, namun perubahan membutuhkan penyesuaian agar dapat dilaksanakan secara optimal. Selain itu juga dapat memupuk perspektif yang sama untuk menerapkan kokurikuler dalam pembelajaran di sekolah.

“Kegiatan ini meningkatkan wawasan kami tentang peran kokurikuler. Hal ini juga sangat bermakna dalam meningkatkan karakter siswa,” ujarnya

Menurut Roslaini, sisi pembelajaran berbasis proses bukan sekedar produk. Akan tetapi, juga yang paling penting adalah untuk menghindarkan bias pelaksanaan kokurikuler seperti P5 lalu, yang relatif menghasilkan Prakarya, bukan pengembangan karakter.

“Melalui kegiatan ini pula kita bisa merumuskan bersama jenis kokurikuler yang akan kita laksanakan tahun ini di SMA Negeri 1 Matangkuli, yaitu Kelas X melalui Gerakan 7 KAIH, kelas XI melalui guru kolaboratif serta kelas XII melalui pembimbingan karya ilmiah siswa,” demikian tutup Roslaini.