Faktor Geografis dan Minimnya Kesadaran Masyarakat, Perkembangan IKD di Sumenep Belum Signifikan

oleh -16 views
Foto: Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumenep, Wahasah saat ditemui di ruang kerjanya.

SUMENEP, Sabtu (22/06) suaraindonesia-news.com – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, melaporkan bahwa perkembangan penggunaan identitas kependudukan digital (IKD) di wilayah ini belum mencapai tingkat yang signifikan. Meskipun ada peningkatan, angka pencapaian masih jauh dari yang diharapkan.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumenep, Wahasah, mengungkapkan bahwa pencapaian penggunaan IKD di Sumenep masih rendah, hanya mencapai 2,17%.

“Perkembangan IKD ini tidak terlalu banyak seperti yang kita harapkan. Saat ini, pencapaian kita baru mencapai 2,17%,” kata Wahasah dalam sebuah wawancara di kantornya, Jumat (21/06/2024).

Wahasah menjelaskan bahwa ada beberapa hambatan yang menghalangi perkembangan IKD di Sumenep. Salah satu hambatan utama adalah faktor geografis, seperti banyaknya kepulauan yang tersebar di wilayah ini.

Baca Juga: Disdukcapil Sumenep Tekankan Penggunaan Identitas Kependudukan Digital untuk Tingkatkan Efisiensi Layanan Publik

“Untuk aktivasi IKD, harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan sendiri, karena terkait dengan verifikasi wajah. Berbeda dengan layanan lain seperti kartu kelahiran yang tidak harus diurus langsung oleh pemiliknya,” terangnya.

Selain faktor geografis, minimnya kesadaran masyarakat juga menjadi kendala. Banyak warga yang merasa belum membutuhkan IKD, terutama karena mereka sudah memiliki KTP fisik yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Baca Juga: Pemeliharaan Lampu PJU dan Hias di Sumenep, Disperkimhub Anggarkan Rp 200 Juta

“Biasanya, masyarakat Sumenep tidak akan mengurus sesuatu jika merasa belum membutuhkannya. Mereka lebih mengandalkan KTP fisik yang sudah mereka miliki,” ucap Wahasah.

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan IKD masih terbatas di beberapa instansi, seperti perbankan. Banyak instansi lain yang masih lebih mengutamakan KTP fisik daripada digital.

“Berbagai strategi telah kami gunakan, termasuk program jemput bola dari rumah ke rumah, tetapi hasilnya masih belum memuaskan,” tambahnya.

Wahasah berpesan bahwa meskipun saat ini IKD belum banyak digunakan, ke depannya akan semakin dibutuhkan karena semua layanan akan beralih ke digital.

“Proses aktivasi IKD sebenarnya cukup mudah. Warga hanya perlu memiliki HP Android, mendownload aplikasinya di Playstore, mengisi data yang diperlukan, dan melakukan verifikasi wajah untuk aktivasi,” pungkasnya.

Reporter: Ari
Editor: Amin
Publisher: Eka Putri

Foto: Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumenep, Wahasah saat ditemui di ruang kerjanya.

Tinggalkan Balasan