BOGOR, Minggu (27/09) suaraindonesia-news.com – Turnamen bola basket antarpelajar yang melibatkan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA/MA, berlangsung kompetitif. Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 64 sekolah.
Khusus jenjang SMP/sederajat, tercatat sekitar 32 sekolah ambil bagian dalam turnamen dengan menerapkan sistem gugur.
Salah satu sekolah yang turut berpartisipasi adalah MTs Sahid. Dalam kompetisi tersebut, MTs Sahid menurunkan dua tim sekaligus, yakni Tim A dan Tim B.
Pelatih sekaligus guru MTs Sahid, Muhammad Satria Anggara, menjelaskan bahwa keputusan menurunkan dua tim tersebut didasari tingginya antusiasme siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler bola basket.
Menurutnya, ekstrakurikuler basket di MTs Sahid diikuti sekitar 67 siswa. Setelah berkonsultasi dengan panitia dan pihak manajemen sekolah, MTs Sahid kemudian mendapatkan izin untuk mengirimkan dua tim.
“Awalnya memang hanya Tim A yang disiapkan. Namun, setelah panitia mengizinkan satu sekolah mengirim dua tim, kami berkomunikasi dengan manajemen, dan alhamdulillah diizinkan menurunkan Tim A dan Tim B,” ujar Muhammad Satria Anggara saat diwawancarai.
Skuad yang diturunkan MTs Sahid merupakan kombinasi siswa kelas 7, 8, dan 9, dengan dominasi pemain dari kelas 8 dan 9.
Dalam perjalanan kompetisi, Tim A harus terhenti lebih awal setelah tersingkir pada pertandingan pertama ketika menghadapi juara bertahan.
Sementara itu, Tim B mampu melaju hingga babak 8 besar dari total 32 tim yang bertanding.
Namun, langkah Tim B terhenti di babak 8 besar setelah mengakui keunggulan lawan dalam pertandingan yang berlangsung cukup ketat dengan selisih skor tipis.
Mengevaluasi penampilan anak asuhnya, Satria menyebut terdapat sejumlah hal yang perlu dibenahi, terutama terkait ketenangan dan mental bertanding.
Menurutnya, karakter permainan Tim B yang biasanya tampil lebih lepas dan menikmati pertandingan justru tidak terlihat secara maksimal pada laga penting tersebut.
“Ada yang hilang dari Tim B hari ini. Biasanya mereka bermain sangat enjoy dan happy, tapi hari ini ketenangan itu hilang. Banyak peluang di bawah ring yang seharusnya 100 persen masuk, justru tidak terkonversi menjadi poin,” jelasnya.
Meski belum berhasil melangkah hingga babak final, Satria tetap mengapresiasi kerja keras para santri yang telah mengikuti kompetisi tersebut.
Ke depan, ia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas latihan sekaligus melakukan pembenahan terhadap mental bertanding para siswa di bawah naungan Lembaga Pondok Pesantren Modern Sahid.
“Perbaikannya adalah terus berlatih. Kami berharap ada hal-hal baru yang membuat anak-anak jauh lebih semangat. Bahwasanya santri itu tidak hanya berprestasi dari segi ngajinya saja, tetapi juga bisa berprestasi di bidang olahraga,” pungkas Satria.












