Eutenika Sebut Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Tak Berdampak Positif Bagi Petani

oleh
Wisatawan saat dilokasi Wisata alam pertanian kota Batu.

KOTA BATU, Minggu (24/11/2019) suaraindonesia-news.com – Sebuah Perkumpulan Peneliti Universitas Brawijaya Bidang Pertanian, Eutenika menyebut bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke kota Batu, Jawa Timur dari tahun ketahun selalu meningkat, tapi hal tersebut tak berdampak positif bagi petani kota Batu.

“Meski jumlah kunjungan wisatawan dapat meningkatkan pendapatan daerah, tapi bagi masyarakat lokal Kota Batu tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka secara ekonomi khususnya petani,” kata Rahmat Fauzi salah satu peneliti Pertnian Euntika, saat ditemui, Minggu (24/11/2019) pagi.

Menurutnya, Pemerintah kota Batu dalam hal meningkatkan Pendaatan Asli Daerah (PAD) dan mempromosikan pariwisata harusnya mengandeng petani karena mereka sangat berpotensi dalam pengembangan pariwisata di Kota Batu.

“Promosi bidang pariwisata harus melibatkan sektor pertanian, sebab mayoritas lahan di Kota Batu adalah lahan pertanian,” jelas Rahmat Fauzi.

Jika wisata pertanian yang berbasis alam bisa dipromosikan oleh pemerintah Kota Batu. Lanjutnya, Maka petani tidak akan risau dengan mata pencahariannya sebab memiliki keterkaitan dengan sektor pariwisata, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Eutenika berbasis data penelitian lapangan, memiliki kesimpulan bahwa wisata alam dengan menggandeng petani-petani kecil, Gapoktan/ kelompok tani dan masyarakat lokal akan memiliki dampak positif jika dikemas dengan baik, tentunya hal tersebut membutuhkan kordinasi antar lembaga dan Dinas terkait.

Dari hasil kegiatan tersebut, nantinya kata dia, ada langkah lanjutan berupa memberikan masukan kepada pemerintah Kota Batu, agar meningkatkan produktifitas pertanian, membantu memasarkan produk petani Kota Batu dengan melakukan integrasi kepada sektor pariwisata.

“Kegiatan tersebut akan terus dilakukan guna membantu petani melakukan adaptasi perubahan jaman, agar lahan mereka tidak dijual sehingga beresiko kehilangan pekerjaan,” bebernya.

Rudy Madiyanto Peneliti Pertanian dan juga Petani Desa Sumber Brantas menambahkan, Pemkot Batu perlu menerbitkan Peraturan Walikota (Perwali). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengatur pemasaran hasil pertanian yg berada dikota Batu.

“Harapannya, hasil pertanian bisa diserap hotel maupun restoran yang berada di kota Batu. Berikutnya Pertanian juga sebagai objek wisata edukasi pertanian, petik hasil pertanian, dan lain –lain,” ujar Rudy Madiyanto.

Ia juga mengungkapkan, jika, Kamis 21 November 2019 bertempat di rumahnya di Desa Sumber Brantas, perwakilan peneliti yang tergabung dalam Perkumpulan Peneliti Eutenika yang bekerja-sama dengan dosen Universitas Brawijaya Malang, USAID APIK, dan Among Tani Sejahtera melakukan kegiatan workshop sebagai serial kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang kebijakan sektor pertanian dan pariwisata di era perubahan iklim di Batu.

Reporter : Adi Wiyono
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *