Enam Terdakwa Kasus Amblesnya Jalan Gubeng, Dituntut Bayar Denda Ratusan Juta

oleh
Terdakwa saat mendengar tuntutan JPU terkait Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya di ruang Cakra PN Surabaya, Senin (17/2/2020).

SURABAYA, Senin (17/2/2020) suaraindonesia-news.com -Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dhini Ardhany membacakan surat tuntutan enam terdakwa kasus amblesnya jalan Gubeng Surabaya dibagi menjadi dua gelombang. Sidang beragendakan tuntutan digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (17/2/2020).

Gelombang pertama, JPU dari Kejati Jatim ini membacakan surat tuntutan dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh R. Anton Widyopriyono untuk tiga terdakwa dari manajemen PT Nusa Konstruksi Engeneering (NKE) Tbk, yakni Ir A.I Budi Susilo, M.S.c, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto.

“Menuntut, agar majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini menjatuhkan hukuman denda masing-masing sebesar Rp 200 juta dan apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 8 bulan,” kata JPU Dhini Ardhany saat membacakan surat tuntutanya, (17/2/2020).

Sedangkan pada gelombang kedua, JPU membacakan surat tuntutan untuk tiga terdakwa lainnya dari PT Saputra Karya, ialah Ir Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono. Dalam amar tuntutan, tiga terdalwa ini dituntut lebih berat dibanding tiga terdakwa dari PT NKE.

“Menuntut, agar majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini menjatuhkan hukuman denda masing-masing sebesar Rp 300 juta dan apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 8 bulan,” ujar JPU Dhini Ardhany dalam persidangan terpisah.

Keenam Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 63 ayat (1) UU RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan, Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1.

“Terdakwa telah merusak fungsi jalan secara bersama-sama yang merugikan dan membahayakan pengguna jalan,” tukas JPU Dhini Ardhany saat membacakan pertimbangan yang memberatkan dalam surat tuntutannya.

Sedangkan yang pertimbangan meringankan, diantaranya telah memperbaiki jalan yang ambles dan memperbaiki bangunan terdampak seperti Kantor Bank BNI, Toko Elisabeth dan RS Siloam.

“Terdakwa juga berlaku sopan dan berterus terang selama persidangan,” tandas JPU Dhini Ardhany.

Usai persidangan, Saat ditanya mengapa ada perbedaan jumlah nilai denda yang dijatuhkan pada tiga terdakwa dari PT Nusa Konstruksi Engeneering (NKE) Tbk dengan tiga terdakwa dari PT Saputra Karya, JPU Dhini Ardhany menyebut disesuaikan dari perannya.

“Lebih berat karena PT Saputra Karya inikan pemberi kerja kepada PT NKE. Dan semua permasalahan juga sudah disampaikan PT NKE tapi diabaikan oleh PT Saputra Karya,” jelasnya.

Atas tuntutan tersebut, para terdakwa melalui tim penasehat hukumnya mengaku akan mengajukan pembelaan yang sedianya akan dibacakan pada Senin (24/2/2020).

Untuk diketahui, Bahwa para terdakwa ini diadili atas amblesnya jalan Gubeng yang terjadi pada 18 Desember 2018 sekitar pukul 20.00 malam. Amblesnya Jalan Gubeng tersebut merupakan dampak dari adanya pengerjaan proyek galian bassement samping RS Siloam milik PT Saputra Karya yang dikerjakan oleh PT Nusa Konstruksi Engeneering (NKE) Tbk.

Reporter : Addy/Agus DC
Editor : Amin
Publiser : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *