Ekonomi Petani Faktor Keberhasilan Pertanian Organik

oleh -60 views
Kiri : Kadistanhut Kota Batu Ir. Budi Santoso bersama sekretaris Distanhut Iwan

Kota Batu, Suara Indonesia-News.Com – Program Pemkot Batu untuk mensukseskan visi misi pertanian organik go internasional ternyata masih banyak Kendala yang harus dihadapi. Sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Pemkot dan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut).

Beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yaitu membantu para petani dalam hal kesejahteraan ekonomi, memberikan pengetahuan model organik, fasilitas teknologi bagi petani,  ketrampilan petani dan yang paling utama adalah pasar khusus organik.

“Bila hal tersebut belum bisa diatasi oleh Distanhut dan Pemkot Batu, saya rasa sangat sulit mewujudkan harapan tersebut. Namun kami tak putus asa mensukseskan pertanian organik,” papar Kadistanhut Batu, Ir Budi Santoso dikantornya, Jumat (12/6/2015).

Masih kata Budi Santoso, lima masalah utama itu adalah kendala yang ada selama ini. Yang paling utama adalah Pemkot diharuskan membantu ekonomi petani. Sebab masalah ekonomi yang menjadi momok menakutkan. Petani merasa takut bercocok tanam organik dikarenakan takut hasil tidak maksimal.

Bila ekonomi seorang petani belum mapan, dirinya memastikan petani tak akan mau mencoba model organik, sebab organik adalah model baru bagi petani di Batu. “Masih banyak kekhawatiran disitu, seperti bagaimana hasilnya?apakah bisa mencover kebutuhan para petani setiap hari,” terang pria yang biasa disapa Tosy ini.

Pertanian Organik tidak bisa disama ratakan diseluruh wilayah Batu. Kedepan pemetaan wilayah akan diutamakan, target sasaran operasi pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar nanti mudah memberikan pengetahuan, fasilitas teknologi, ketrampilan bagi para petani.

“Setiap wilayah memiliki potensi masing-masing. Setiap gapoktan dan petani juga memiliki kesungguhan yang berbeda-beda di organik. Nanti kami akan pilah siapa yang berpotensi dan memiliki kesungguhan akan lebih kami utamakan,” ujarnya lagi.

Kemudian yang terpenting adalah bagaimana pasar untuk produk organik.
Sebenarnya pasar organik sangat banyak penawaran. Namun permintaan para penyalur produk organik adalah kontinyuitas dan standarisasi produk.

“Banyak pasar organik, tapi PR sampai sekarang adalah standart produk dan kesinambungan terus menerus. Itu yang akan kami carikan solusi, karena pasar yang bisa menjamin agar petani mau berorganik,” tegas dia.

Mungkin karena itu, kata Tosy, semua petani organik di Batu tidak bisa maksimal. Distanhut secepat mungkin akan berkordinasi dan mengumpulkan semua perangkat untuk menyelesaikan penghambat program.“Intinya jangan sampai ada pembohongan publik, kalau memang keberhasilan hanya 10 persen, dari total 100 persen, ya itu yang harus disampaikan pada publik. Dengan semua itu, semoga kedepan pertanian organik lebih maksimal dan berjalan sesuai target wali kota,”pungkasnya. ( kurniawan ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *