Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Sumenep Ternyata Dipasok ke Perusahaan BUMD dan BUMN

oleh
Paling Kanan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan.

SURABAYA, Kamis (12/12/2019) suaraindonesia-news.com – Dugaan praktek penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Bangkalan dan Sumenep berhasil diungkap Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jawa Timur.

Selain dipasok ke perusahaan daerah BUMD Sumekar ternyata juga dipasok ke Unit Kerja Pegaraman 1 yang merupakan anak perusahaan PT. Garam (BUMN) Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Pengungkapan kasus penyelewengan BBM bersubsidi jenis solar ini diungkapkan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan. Ia menyatakan, tim satgas Polda Jatim berhasil mengungkap praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi untuk industri di SPBU di wilayah Madura.

Hasil penyelidikan Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, ditemukan tiga buah tangki duduk warna hitam berisi solar di Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, milik PT Pelita Petrolium Indonesia (PPI) Cabang Sumenep dengan Kepala Cabang berinisial M.

Menurut Luki, dalam tangki duduk yang ditempatkan di dump truck modifikasi tersebut, polisi menemukan solar-solar yang ditimbun tanpa dokumen lengkap.

“Ini terencana, terlihat dari truk di belakang saya yang sudah dimodifikasi. Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan masyarakat,” ungkapnya, Rabu (11/12).

Sementara menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Jatim, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, mengatakan, hasil penelusuran polisi, BBM itu dibeli oleh PPI dari PT Jagad Energi dengan harga Rp 5.700 per liter di luar PPn. Kemudian dijual kembali ke empat perusahaan dengan harga Rp 6.000 per liter non-PPn.

Empat perusahaan itu adalah Pegaraman 1 dengan sekali pembelian 5.000 liter; BUMD Sumekar sebanyak 16.000 liter; PT Dharma Dwipa Utama 10.000 liter; dan PT Pundi Kencana Makmur sebanyak 5.000 liter.

Dari bisnis yang dijalankan kurang lebih setahun ini, PT PPI telah menyuplai BBM yang diduga ilegal itu ke beberapa perusahaan. Salah satunya milik BUMN (PT Garam).

“Dalam setahun terakhir total 2.160 ton yang disuplai. Dalam satu mingu setidaknya tiga kali pengiriman,” ujar Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, Rabu (11/12/2019).

Dari pengungkapan kasus ini, lanjut Gidion, sudah ada 6 orang yang ditetapkan sebagai tersangka yang di antaranya pengawas dan operator SPBU.

“Kita masih tetapkan enam tersangka. Kami masih melakukan pendalaman untuk memetakan pendistribusian dari kegiatan ini,” ujar dia.

Gidion memastikan, tetap akan menelusuri kasus ini hingga ke rantai distribusinya di sejumlah industri.

Reporter : Am/Arifin
Editor : Amin
Publisher : Oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *