ACEH UTARA, Minggu (19/07/2020) suaraindonesia-news.com – Untuk menunjang kapasitas aparatur Gampong/Desa, 73 Desa dari 75 Desa se Kecamatan Lhoksukon kompak alokasikan dana Program Bimtek Rp, 76 juta dari Dana Desa tahun 2020, total biaya untuk program bimtek di Kecamatan Lhoksukon sebesar Rp 5,5 Milyar, Pemerintah Aceh dan Perintah Kabupaten/Kota saja belum pernah menganggarkan biaya pelatihan sebesar itu, luar biasa, Kemendes dan PDT layak memberikan penghargaan kepada Geuchik dan Forum Geuchik Kecamatan Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara. Atas dedikasi dan obsesi mereka dalam meningkatkan kapasitas perangkat Desa, agar dalam pengelolaan dana Desa benar-benar terlaksana sesuai prinsip good goverment dan clean goverment.
Apalagi Subtansi Bimtek Meliputi Pelatihan aparatur gampong, pelatihan Siskeudes dan pandangan hukum, dimana out put bimtek tersebut akan terwujud tata kelola Pemerintahan Desa yang lebih baik, bersih bebas korupsi.
Namun di sisi lain, jumlah anggaran dana yang digelontorkan untuk biaya bimtek yang mencapai 5 Milyar lebih itu mendapat sorotan beberapa pihak, biaya bimtek dinilai tak proporsional, atau tidak masuk akal, soal nya untuk biaya 5 Milyar dapat diasumsikan bisa membuat acara pelatihan untuk 2000 peserta, dilaksanakan selama satu minggu dengan tempat pelatihan di hotel mewah bintang lima.
Jumlah biaya Bimtek yang terkesan “fantastis” membuat Geuchik Dayah LT, Ridwan berang, menurutnya kegiatan tersebut tak bermanfaat dan terlalu di paksakan, bahkan Geuchik menuding program bimtek tersebut bisnis pihak tertentu.
“Kegiatan bimtek tersebut tak ada manfaatnya, yang ada hanya menghambur-hamburkan uang rakyat, seharusnnya dana tersebut bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Pon Bate Nam, panggilan akrab Ridwan.
Mantan Kombatan GAM ini juga mengatakan, bila program serupa dilaksanakan tahun depan, ia lebih memilih mundur dari jabatan Geuchik daripada berkhianat kepada masyarakat.
“Saya menanyakan kepada perangkat saya yang ikut pelatihan di Banda Aceh yang mengikuti pelatihan dan mengaku hanya satu hari, acara pelatihan, selebih nya tak jelas,” kata Pon Bate Nam mengutip kata-kata perangkatnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Gerakan Rakyat Aceh Membangun (GRAM) Azhar, bahwa program Bimtek yang dilaksanakan oleh Forum Keuchik Lhoksukon terindikasi Korupsi.
Menurut Azhar, Program Bimtek Perangkat Desa yang dilakukan seluruh Desa di Kecamatan Lhoksukon diduga beraroma korupsi, soal nya jumlah anggaran yang dialokasikan tidak masuk akal, dan tidak realistis, masak dua peserta untuk ikuti Bimtek dana bisa mencapai Rp 37 juta, beber alumni Sekolah demokrasi Aceh Utara Ini.
“Apalagi pelaksanaan program Bimtek ditengah situasi keresahan serangan virus Corona, Kabupaten Aceh Utara berstatus zona kuning, sedang Banda Aceh berstatus zona Merah, ini sangat berbahaya,” ujar Azhar.
Sementara ditempat terpisah Forum Geuchik membantah keras tudingan Geuchik Dayah LT, bahwa program Bimtek dipaksakan.
“Kita tidak pernah emaksa, itu adalah kesepakatan bersama, ada tanda tangan Geuchik,” tegas Ibnu Azwan Wakil Ketua Forum Geuchik kepada awak media. Sabtu (18/07) di lhoksukon yang turut didampingi beberapa anggota Forum Geuchik.
Begitu juga dengan tudingan jumlah anggaran yang dinilai fantastis capai Rp 5,5 Milyar lebih, menurutnya, itu karena mereka tidak paham tentang penggunaan dana tersebut, sebab Bimtek tersebut meliputi 4 item pelatihan, ada yang dilaksanakan di Banda Aceh di ikuti 2 peserta dari setiap Desa, acaranya selama dua hari dengan biaya Rp 37 juta per Desa dan dilanjutkan dengan kegiatan orientasi lapangan yang dilaksanakan oleh Geuchik dan Tuha Peut Gampong.
“Begitu juga dengan item pelatihan lain nya, yang dilaksanakan dikecamatan oleh Lembaga yang berbeda,” tukas Ibnu Azwan.
Reporter : Masri
Editor : Amin
Publisher : Ela












