PAMEKASAN, Minggu (29 Oktober 2017) suaraindonesia.news.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dalam rangka rangkaian hari jadi Kabupaten Pemekasan ke 487 menyuguhkan hiburan parade musik daul carnival untuk masyarakat.
Parade yang diikuti 20 group daul yang ada di Bumi gerbang Salam, mengambil star dari monumen Arek Lancor Pamekasan dan finish di depan SMAN 2 Pamekasan.
Dalam laporannya, Kadisparbud Achmad Sjaifuddin mengatakan, bahwa musik daul merupakan musik etnik Madura yang memiliki keunikan dan ke khasan sendiri, dan ini akan menambah kekayaan dan warna dalam khasanah seni budaya Madura.
“Nantinya musik daul ini akan mengambil peran penting dalam pembangunan pariwisata Pamekasan kedepan,” katanya. Minggu (29/10) malam.

Menurutnya, parade musik daul carnival yang dilaksanakan kali ini sebagai wujud untuk melestarikan dan mempromosikan seni budaya Pamekasan.
“Jadi acara ini tidak dilombakan, dan hanya untuk menghibur masyarakat dengan tampilan-tampilan yang menarik serta antraktif,” jelasnya.
Sementara itu dalam sambutannya Wakil Bupati Pamekasan Halil Asyhari mengatakan, jika musik ul daul benar-benar mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat luas, tidak hanya di tingkat lokal tapi sampai internasional.
Baca Juga: Inilah Pawai Budaya Prosesi Arya Wiraraja Dalam Rangka Hari Jadi Sumenep Ke 748
“Adanya musik daul ini dikarenakan di Pamekasan dulu adanya musibah padamnya listrik, sehingga untuk menjaga keamanan dan ketentraman maka lahirlah musik ul daul ini,” ungkapnya.
Mantan ketua DPRD Pamekasan itu juga menyampaikan rasa bangganya karena musik daul Pamekasan sampai saat ini, sudah dikenal di 60 negara.
“Dalam enam tahun terakhir ini, kelompok musik daul putra meong mendapat kepecayaan dari kemeterian luar negeri untuk melatih dan membina peserta bea siswa seni budaya Indonesia yang berasal dari 12 negara untuk belajar musik daul, lagu dan tari kreasi daerah,” jelas Wabup.
Lebih lanjut Wabup Pamekasan berharap agar kreatifitas para pelaku seni di Pamekasan benar-benar tumbuh dan berkembang dengan baik.
“Pemkab Pamekasan tidak pernah membatasi karya-karya kreatif para pelaku seni, tetapi selalu mendorong agar karyanya tidak tercerabut dari karaktet masyarakat Pamekasan yang religius dan beretika, sehingga menjadiwahana pengembangan estetika, etika dan logika,” katanya.
Sebelum pemberangkatan parade, masyarakat disuguhkan dengan teater sejarah gunung kelud sumbangan Disparbud Kediri. Dan acara parade dilepas oleh Wakil Bupati Pamekasan.
Sementara itu tampak hadir Forpimda, kepala OPD terkait dan para tamu undangan lainnya mendampingi orang nomer dua di Pamekasan.(My/Jie)












