Dirjen Perkebunan Kementerian RI Kunjungi Dan Tatap Muka Dengan Petani Cengkeh di Malut

Dirjen Perkebunan kementerian pertanian RI Ir. Bambang, MM didampingi Kadis Pertanian Malut saat melihan tanaman cengkeh afu yang merupakan cengkeh tertua di Malut dan Indonesia

Reporter: Lina

TERNATE MALUT, Rabu (26/04/2017) suaraindonesia-news.com – Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkebunan kementerian pertanian RI Ir. Bambang, MM kunjungi dan bertatap muka langsung dengan para petani cengkeh yang ada di kota Ternate.

Dalam lawatan selama 2 hari Dirjen sempatkan waktu berdialog dengan para petani cengkeh yang ada di kelurahan Air tege-tege kota ternate, bukan hanya itu saja dirjen yang didampingi kepala dinas pertanian provinsi Maluku Utara Munawar Yaru langsung menuju lokasi tanaman cengkeh afu yang merupakan cengkeh tertua yang ada di Malut maupun di indonesia yang sudah berumur ratusan tahun.

Dalam tatap muka dengan masyarakat khususnya para petani, Dirjen perkebunan kementerian pertanian RI Ir Bambang, MM mengatakan bahwa Sejarah telah membuktikan bahwa rempah Indonesia pernah menguasai dunia dan menjadi sumber utama pasokan dunia.

“Pada masa itu, bangsa Eropah dan bangsa lainnya berburu rempah ke nusantara terlebih lagi yang berada diwilayah maluku utara (Malut) Itulah masa kejayaan rempah masa lalu,” terang Dirjen.

Sekarang kejayaan rempah tersebut sudah saatnya kita raih kembali, dengan nilai tambah dan rantai nilai yang tentunya menjadi milik bangsa Indonesia, untuk mewujudkan semua itu dirinya sangat mengharapkan agar seluruh kabupaten /kota semalut agar sama-sama saling sinentitas dalam membangun perkebunan.

Bukan hanya itu saja kebangkitan pembangunan perkebunan ini, harus disinergiskan dengan seluruh pelaku, mulai dari petani, pedagang, industri, eksportir, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pemerintah baik pusat maupun daerah, serta tidak hanya pada tataran on farm tapi juga off farm.

“Perbaikan menyeluruh perlu dilaksanakan, mulai dari pembibitan, penerapan Good Agriculture Practices dan Good Manufacture Practices, pengembangan produk, pemasaran dan akses pasar, serta upaya peningkatan konsumsi dalam negeri, “ kata Dirjen.

Dengan demikian, ujar Dirjen lebih lanjut, tidak ada lagi keluhan terkait dengan produktivitas rendah, produk kurang berkualitas, masih terkena cemaran antara lain jamur atau serangga serta permasalahan lainnya.

“Ini semua, saya yakin dapat dicapai apabila kita mampu mengoptimalkan seluruh potensi sumberdaya yang ada yang kita miliki, kemudian melakukan pengembangan dengan bersama-sama, saling bahu membahu secara sistematis, bertahap dan berkelanjutan yang dilandasi filosofi kemitraan. Demikian pula, dari sisi pembiayaan, tidak hanya mengandalkan APBN, akan tetapi juga APBD, CSR perusahaan, perbankan, swadaya masyarakat dan sumber lainnya,” terangnya.

Meskipun dalam berbagai keterbatasan keuangan Negara, sebagai wujud komitmen Ditjen Perkebunan dalam pengembangan di tanah air serta membangkitkan kejayaan rempah Indonesia, melalui APBN 2017 akan melakukan kegiatan berupa kegiatan intensifikasi, rehabilitasi dan pengutuhan khususnya tanaman lada, pala dan cengkeh di sentra produksi didukung oleh penyediaan dan pemeliharaan kebun induk, sarana pengolahan dan pengeringan, pemberdayaan petani dan penguatan kelembagaan serta pengembangan Desa Organik.

“Mudah-mudahan dengan anggaran yang serba terbatas dapat dijadikan pengungkit khususnya di wilayah Malut sebagai sentra produksi yang mempunyai titik tumbuh tinggi dalam pengembangan rempah nasional dan tentunya memerlukan sentuhan dan dukungan serta kontribusi dari stakeholder lainnya,” tuturnya.

Rombongan Dirjen diikuti dengan kadis pertanian malut selanjutnya kembali menuju Grand dafan Hotel dimana tempat tersebut dirjen akan membuka secara langsung acara rapat koordinasi dan konsultasi pembangunan perkebunan tahun 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here