SAMPANG, Minggu (13/10) suaraindonesia-news.com – Kesiapan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Sampang, dalam segala tantangan, rintangan dan solusinya, diperlihatkan oleh KH Muhammad Bin Mu’afi Zaini (Kyai Mamak) dan H Abdullah Hidayat (Mas Ab) MANDAT nomor urut 01, dengan selalu hadir disetiap undangan dialog dan serasehan baik yang di gagas oleh pemuda dan mahasiswa serta BPC HIPMI Sampang, Sabtu (12/10), pukul 19.00 WIB, di Nikikopi Alun-Alun Trunojoyo Sampang.
Dialog Publik yang digagas oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sampang, menggelar diskusi bersama Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Sampang, dengan tema Era Baru Ekonomi Sampang : Membangun Ekonomi Sampang Yang Berkelanjutan. Tapi sayang, hanya dihadiri oleh pasangan Cabup dan Cawabup Kyai Mamak dan Mas Ab.
Acara ini sebenarnya cukup menarik dan bagus, karena dihadiri oleh para pelaku usaha UMKM dan aktivis yang selama ini mendampingi para pelaku usaha kecil dan menengah sebagai audiens dalam kegiatan tersebut.
Juga dihadiri, Ahmad Salim Assegaf Ketua BPD HIPMI Jatim, CEO PT Bumi Lamongan Sejati (Jatim Park Group), Dr Sutikno SE ME Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Ketua BPC HIPMI se Madura, dan Ketua dan Pengurus BPC HIPMI Sampang.
Pada kesempatan itu, banyak hal yang dibahas oleh Kyai Mamak terkait membangun ekonomi Sampang berkelanjutan, terutama ekonomi kreatif batik yang selama ini belum disentuh secara maksimal oleh Pemkab Sampang. Padahal, ekonomi kreatif batik ini jika digarap secara optimal banyak menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.
Terbukti, ada salah seorang pelaku ekonomi kreatif batik bernama Krisna dari Desa Jelgung Kecamatan Robatal Sampang, mengatakan PR terberatnya selaku pemberdaya masyarakat yaitu membuka lapangan pekerjaan. Tapi apalah daya kami sebagai industri kreatif batik, karena selama ini tidak bisa bersaing dengan daerah luar.
“Karena di Sampang tidak ada peluang untuk memasarkan produk-produk ekonomi kreatif batik seperti daerah lain yaitu Kabupaten Pamekasan. Untuk itu, kedepan mohon support dari Pemkab Sampang, karena banyak hal yang bisa membuat lapangan pekerjaan itu makin banyak salah satunya seandainnya dari seragam sekolah menggunakan baju seragam batik lokal,” ungkapnya.
Menyikapi masalah itu, Kyai Mamak mengatakan, saya sangat memahami kegelisahan yang dirasakan para pelaku ekonomi kreatif batik di Sampang, untuk itu akan mengupayakan hal itu. Karena ekonomi kreatif batik banyak menyerap tenaga kerja.
“Tapi kita perlu duduk bareng dan berbicara lagi dengan pelaku ekonomi kreatif batik di Sampang, untuk membedah permasalahannya secara utuh hingga keakar-akarnya sampai kepermasalahannya,” jelas Kyai Mamak.
Yang menarik juga, Kyai Mamak membahas ketergantungan beberapa kecamatan di Kabupaten Sampang, pada dana dari Luar Negeri yang berfokus pada TKI serta mayoritas non resmi. Itu kemudian, menimbulkan potensi dimasa depan yang cukup mengerikan kalau kita tidak bersiap–siap.
“Begitu mereka kembali karena semua industri sudah menjalankan mekanisasi atau mesinisasi sehingga kebutuhan tenaga kasar terus menurun, akan jadi masalah di masa depan. Sebab, jumlah TKI asal Sampang cukup tinggi, sesuai data Perhimpunan Malaysia ada sekitar 700 ribu TKI di Malaysia. Ditambah lagi dengan TKI asal Sampang yang ada di Negara lain,” ungkapnya.












