ACEH UTARA, Senin (28/11/2022), suaraindonesia-news.com – Sepucuk surat untuk Haji Uma dari warga perantauan di Malaysia. Melaporkan kisah tiga anak yatim yang ditinggal pergi ayahnya menghadap ilahi pada tahun 2016 silam.
Tiga anak yatim berdarah Aceh ini dibesarkan oleh ibunya dengan kondisi yang memperihatinkan.
Berawal kisah, disebutkan mendiang Ismiadi yang kala itu berusia 35 tahun, ia merupakan warga Bugeng, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh merantau ke Malaysia dengan tujuan mengubah nasib.
Tidak diketahui secara pasti kapan almarhum merantau. Dari keterangan adik Almarhum, Saifuddin (42) warga Bugeng, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen menyebut, Ismiadi pernah menikah dengan seorang gadis berdarah Melaya asal di Johor Bahru, Malaysia pada tahun 2009 lalu di Kelantan, Malaysia.
Dari pernikahannya dengan gadis pujaan hati yakni Suryati (33), mendiang Ismiadi dikarunia tiga orang anak, Alya Salsabila (12) Alzahra (10) dan Alfa Muhaira (7) dengan usia metreka saat ini.
Mereka hidup rukun dalam keterbatasan ekonomi. Rumah tangga kecil ini pun diketahui sering berpindah-pindah karena faktor ekonomi yang labil.
Berawal dari sepucuk surat permohonan Saifuddin (42) dilayangkan kepada senator Aceh, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) H. Sudirman alias Haji Uma.
Surat permohonan yang berisikan permintaan bantuan fasilitasi warga bermasalah di Malaysia itu pun direspon cepat oleh sang Senator yang kini ia juga sebagai Pimpinan PURT DPD RI.
Berikutnya, Tim cepat tanggap Haji Uma terkomunikasi dengan baik, Haji Uma meminta Abu Saba sebagai tim falisitator warga Aceh yang bermasalah di Malaysia bersama stafnya untuk segera membangun komunikasi dengan Suryati.
Tangisan pilu, tiga anak yatim hasil pernikahan dua warga negara yang bertetangga didampingi ibunya, Suryati terkoneksi dengan fasilitator Haji Uma di kawasan perbatasan Kalimantan, Indonesia dengan Serawak, Malaysia.
Disini sang ibu pun menceritakan nasibnya bersama si buah hati sepeninggalan Ayahnya yang meninggal sakit keras pada tahun 2016 silam. Sebagai orang tua tunggal ia menjadi ibu juga menjadi tulang punggung keluarga, dari satu tempat ke tempat lainnya mencari pekerjaan sembari mengurus anak-anaknya.
“Pernah bekerja di Kuala Lumpur, yang kemudian berangkat ke Serawak untuk mendapatkan pekerjaan. Sampai disana tiga bulan yang lalu, kehidupan mereka semakin terpuruk,” ungkap Abu Saba kepada wartawan, Senin (28/11).
“Dalam hubungan komunikasi lewat Aplikasi Whatsapp, terdengar cerita pilu dari Suriyati dengan terbata-bata dan isak tangis tidak mampu lagi menjalankan hidup di rantau orang karena kebutuhan hidup anak tidak terpenuhi dan hidup dalam kesusahan sejak suaminya meninggal dunia,” jelas Abu Saba.
Kepada Abu Sabu dan stafnya Suriyati menceritakan keluh kesahnya, setelah suaminya meningal dunia dia pontang panting mencari nafkah sendiri dengan tetap membawa anak anaknya yang masih kecil ikut serta ke tempat kerja sampai pada akhirnya merantau ke Negeri Serawak.
“Di sana yang bersangkutan tidak mendapatkan pekerjaan, dan bahkan untuk makan saja sangat sulit,” tutur Abu Saba.
Kabar tersebut pun diketahui oleh warga Aceh di sana, prihatin dengan kondisi yang di alami oleh Suriyati dan tiga anaknya, sejumlah warga menggalang dana untuk biaya pemulangan mereka ke kampung asalnya di Johor Bahru, Malaysia.
“Tetapi dukungan biaya tersebut tidak mampu membawa pulang mereka ke kampung halamannya Johor Bahru, makan bantuan warga itu pun terpakai untuk makan sehari-hari,” terang Abu Saba menirukan penjelasan Suryati.
Dari Serawak ke Johor Bahru, kini Suryati bersama tiga buah hatinya difasilitasi penuh oleh Haji Uma melalui stafnya yang bertugas di Malaysia. Sebuah biaya ditanggung oleh Senator.
Pada Minggu (27/11/2022) sekitar pukul 13.00 waktu setempat, keempat warga tersebut di pulangkan ke Kampung Halaman Suryati, Johor Bahru.
“Alhamdulillah mereka sudah tiba di Bandara Johor Bahru (Senai) Malaysia,” terang Abu Saba menambahkan, dirinya bersama staf yang memfasilitasi kepulangan mereka, selanjutnya akan di antar ke rumahnya di Masai, Johor Bahru.
“Haji Uma tulus, ia bahkan berpesan kepada keluarga semoga tabah menghadapi semua cobaan Allah SWT dan semoga ke depan Allah memberi jalan terbaik bagi mereka,” pungkas Abu Saba.
Pun demikian, Senator Aceh terkait sangat menjunjung tinggi otaritas Negara Malaysia. Haji Uma juga meminta maaf kepada Pemerintah Kerajaan Malaysia atas sikap pemulangan warga terkait.
Haji Uma mengakui kegiatan yang dilaksanakan itu bukan semata-mata mengabaikan bantuan pihak kerajaan di sana.
“Namun hal ini lebih kepada saling bantu membantu atas dasar keturunan Aceh, ditambah lagi surat yang dilayangkan oleh keluarga kepada dirinya,” terang Abu Saba.
“Apalagi selama ini Pemerintah Malaysia sangat banyak membantu warga Aceh di Malaysia Semoga kedepan hubungan kerjasama yang baik tetap selalu terjalin antara Malaysia dan Indonesia,” tutup Abu Saba menerangkan maksud senator tersebut.
Reporter : Efendi Noerdin
Editor : M Hendra E
Publisher : Nurul Anam












