Cegah Stunting Melalui Kader Kesehatan Berbasis STEP-Ap

oleh -488 views
Kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada Kader Kesehatan Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. (Foto: Niyalatul Muna untuk Suara Indonesia).

JEMBER, Rabu (10/11/2021) suaraindonesia-news.com – Stunting merupakan masalah kekurangan gizi dan menyebabkan perkembangan tubuh yang kurang sempurna atau tidak mencapai tinggi rata-rata anak sebayanya. Tak hanya soal tinggi badan anak, stunting bahkan dapat berakibat pada kecerdasan otak anak yang terganggu.

Kunci pencegahan stunting ada pada kesadaran masyarakat terhadap asupan gizi yang baik dan seimbang yang dikonsumsi kaum perempuan mulai masa kehamilan hingga bayi lahir sampai bayi berusia minimal 1000 hari.

Oleh karena itu, penyuluhan kepada masyarakat secara langsung sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gizi yang baik.

Dosen jurusan kesehatan Politeknik Negeri Jember, Niyalatul Muna, S.Kom., M.T menyampaikan, setiap Ibu harus mengutamakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sebagai asupan gizi terbaik bagi bayinya sejak lahir hingga berumur 6 bulan.

“Setelah bayi berusia 6 bulan, boleh diberikan makanan pendamping ASI atau MP-ASI. Karena dikatakan sebagai pendamping ASI, pemberian makanan bayi ini tentu harus tetap dilakukan bersamaan dengan ASI. Supaya pemberian makanan bisa lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi,” ungkap Niya kepada suaraindonesia-news.com, Rabu (10/11/2021).

Selain itu, ada 4 (empat) syarat yang harus diperhatikan oleh para ibu saat memberikan MP-ASI kepada buah hatinya, yaitu :

1. Tepat Waktu (timely): MP-ASI mulai diberikan saat kebutuhan energi dan nutrien melebihi yang didapat dari ASI.

2. Adekuat (Adequate): MP-ASI harus mengandung cukup energi, protein dan Mikronutrien.

3. Aman (Safe): Penyimpanan, penyiapan dan sewaktu diberikan, MP-ASI harus higienis.

4. Tepat cara pemberian: MP-ASI diberikan sejalan dengan tanda lapar dan nafsu makan yang ditunjukkan bayi serta frekuensi dan cara pemberiannya sesuai dengan usia bayi.

Niya menambahkan, selain kesadaran terhadap gizi yang baik sebagai upaya pencegahan stunting, kontrol status gizi yang diberikan sudah sesuai dengan dibutuhkan bayi juga penting diketahui.

Oleh karena itu, Niya bersama para dosen jurusan kesehatan Politeknik Negeri Jember di antaranya, Ida Nurmawati, S.KM., M.Kes, dan Ervina Rachmawati, S.ST., MPH. membuat sistem skrining untuk mengetahui status gizi berbasis website, yang diberi nama “Stunting Early Prevention Application (STEP-Ap).”

Kelompok dosen tersebut melakukan penyuluhan kesadaran gizi serta memperkenalkan STEP-Ap kepada para kader Posyandu di Desa Kemuninglor, Kec. Arjasa.

Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan terdiri dari pendekatan Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif.

Kegiatan pendekatan intervensi gizi spesifik dilakukan pendampingan dalam pemahaman pola asuh pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI), Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan bahan lokal susu sapi rembangan dengan didukung video tutorial dalam pengolahannya, dan pelatihan pembuatan video Emotion-Demonstration (Emo-Demo) pentingnya ASI Eksklusif.

Kegiatan pendekatan strategi intervensi gizi sensitif, salah satunya dilakukan pengecekan kemurnian air dengan TDS (Total Dissolved Solid). Pengecekan dilakukan pada dua sampel air yang berasal dari sumber dan sumur. Hasil pengecekan pertama pada sumber air langsung sebelum direbus 154 ppm dan setelah direbus sebesar 124 ppm. Kedua pada air sumur yang belum direbus sebesar 180 ppm dan sudah direbus sebesar 146 ppm. Hasil pengecekan disesuaikan menurut WHO, berdasarkan penelitian lanjutan, sudah termasuk kategori yang bisa dikonsumsi karena memiliki TDS di atas 100 ppm atau mg/l dan berada dibawah 300 ppm atau mg/l. Sehingga dinyatakan aman dikonsumsi oleh masyarakat.

Sementara untuk sistem STEP-Ap dapat diakses melalui alamat website https://step-ap.com/

Melalui sistem ini, masyarakat dapat secara mandiri melakukan skrining diri dengan memasukkan beberapa informasi terkait rekam jejak kesehatan ibu hamil dan bayi.

“Sistem STEP-Ap ini merupakan hasil penelitian kami, bisa digunakan oleh kader Posyandu maupun masyarakat secara langsung, setelah data dimasukkan kemudian sistem akan menunjukan bagaimana status gizinya, sudah terpenuhi atau tidak, dan sistem akan memberikan solusi atas gizi tersebut,” jelas Niya.

Dengan mengetahui status gizi sejak dini serta solusi yang disarankan, diharapkan menjadi upaya pencegahan stunting.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Redaksi
Publisher : Syaiful

Tinggalkan Balasan