BRJ: Kekalahan Ahok Itu Cukup Dengan Ucapannya Sendiri

oleh -16 views

Reporter: Hasan

Jakarta, Kamis 01/09/2016 (suaraindonesia-news.com) – Dialam Demokrasi yang serba terbuka dengan arus informasi yang begitu cepat di akses oleh siapa saja membuat setiap orang dengan mudah mengakses peristiwa apapun yang berkembang dalam masyarakat.

Oleh karenanya dalam perkembangan politik kontemporer dan modern, media ada salah satu sarana komunikasi politik yang sangat vital dalam menyampaikan pesan pada publik seputar program, visi dan misi politik yang diluncurkan seorang politisi atau calon pemimpin daerah maupun nasional dalam membumikan ide dan gagasanya.

Tidak terkecuali calon gubernur/walikota/bupati incumbet disuatu daerah, seperti penyampain awal dalam wawancara eksklusif suara-indonesia news bersama Ridwan Laode Bona selaku Koordinator Barisan Rakyat Jakarta (BRJ) di Jakarta hari kuat ini, kamis (01/09/2016).

“Kita duduk dialam demokrasi terbuka, oleh karenanya dalam politik kontemporer ini media menjadi alat vita dalam penyampaian visi misi sang calon,” katanya.

Merujuk pada perkembangan politik DKI Jakarta akhir-akhir ini kita sebagai masyarakat jakarta resah dengan ucapan calon gubernur incumbent saudara AHOK yang selalu mengeluarkan ucapan-ucapan yang selayaknya tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin daerah. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Seolah-olah hanya dimaknai pertarungan perebutan kekuasaan semata namun kering akan sarana pendidikan dan moralitas politik seorang AHOK dalam menyampaikan pada masyarakat idealnya politik yang sesungguhnya.

“Kita sebagai masyarakay Jakarta mulai resah dengan keadaan Politik saat ini, terutama yang dilakukan oleh Ahok selaku bakal Calon dari incumbent, karena saya menilai gerakannya sudah keluar dari rel,” Tambah Laode yang biasa dipanggil.

Koordinator BRJ ini juga melanjutkan bahwa politik sesungguhnya mulia bagi siapa saja yang memahami dan mengerti arti dari politik itu sendiri. Politik adalah ajakan bagi setiap orang yang memiliki kepedulian terhadap masyarakatnya untuk memperjuangkan perubahan. Bukan mengajarkan seseorang untuk mempertahankan kekuasaanya dengan segala macam cara lalu menabrak norma, etika, adat istiadat ketimuran kita untuk mencapai sesuatu yang di inginkan.

“Politik itu sesungguhnya mulia, dalam arti kata merebut kekuasaan untuk perubahan yang lebih baik, dengan kata lain Kekuasaan itu hanya alat bukan tujuan,” tambahnya.

AHOK sesungguhnya menggambarkan politisi yang “Haus akan kekuasaan”. Mengapa demikian, karena hampir disetiap kebijakanya melahirkan penderitaan rakyat jakarta. Belum lagi hampir disetiap ucapan-ucapan politiknya melahirkan kontroversi dan “ketidak layakan” ucapan sebagai seorang pemimpin. Disnilah Ahok akan mengalami kekalahan yang sesungguhnya jika lawan politik AHOK terus menerus mereproduksi kelemahan AHOK secara terus menerus. Masyarakat akan memiliki informasi yang baik dan seimbang sehingga pada februari mendatang AHOK akan tumbang.

“Nah kalau kita bisa jujur, kan sudah bisa dinilai bahwa Ahok seakan mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang tidak baik, dan saya yakin Ahok akan tumbang oleh perilakunya sendiri,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *